Menjelang Bulan Suci Ramadhan, Wasekjen IA-ITB: Jadikan Nilai Rahman dan Hakim sebagai Penolong Kita
JABARSATU-COM — Menjelang bulan suci Ramadhan, Wakil Sekretaris Jenderal Ikatan Alumni ITB (IA-ITB) sekaligus penggagas semangat juang GIN2 (Gerakan Inovator Nasional 2045), Ilma Mauldhiya Herwandi, mengajak masyarakat untuk menjadikan nilai Rahman dan Hakim sebagai penuntun hidup dalam membangun diri, memperkuat karakter, serta memberi manfaat nyata bagi sesama dan bangsa.
Hal tersebut disampaikan dalam silaturahmi redaksi menjelang Ramadhan di kediamannya di Bandung.
Menurut Ilma, nilai Rahman dan Hakim bukan sekadar istilah teologis, melainkan nilai-nilai universal yang telah menjadi fondasi ajaran moral berbagai peradaban besar dunia. Nilai Rahman merepresentasikan kasih sayang, empati, dan kepedulian yang melintasi batas agama, suku, dan latar belakang sosial. Sementara nilai Hakim mencerminkan kebijaksanaan, keadilan, dan kemampuan mengambil keputusan secara objektif serta bertanggung jawab.
“Rahman membentuk hati yang peduli. Hakim membentuk pikiran yang adil. Ketika keduanya berjalan bersama, lahirlah manusia yang utuh,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa di tengah perubahan zaman yang cepat, penuh disrupsi, dan sarat kompetisi, manusia membutuhkan pegangan nilai yang kokoh agar tidak kehilangan arah dan jati diri.
“Dalam kehidupan yang semakin kompleks, nilai Rahman dan Hakim harus menjadi penolong kita. Ia menolong kita agar tidak kehilangan kemanusiaan, tidak kehilangan nurani, dan tidak kehilangan keadilan dalam setiap langkah,” kata Ilma.
Ia menjelaskan bahwa nilai kasih telah menjadi inti ajaran para tokoh suci lintas tradisi. Dalam ajaran Kristiani, Yesus Kristus mengajarkan kasih tanpa syarat bahkan kepada mereka yang memusuhi. Dalam Buddhisme, Gautama Buddha menekankan welas asih sebagai jalan pembebasan dari penderitaan. Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad SAW mengajarkan rahmat bagi seluruh alam.
Selain itu, tokoh moral dunia seperti Mahatma Gandhi menekankan cinta kasih dan tanpa kekerasan sebagai fondasi perjuangan, sementara Confucius mengajarkan nilai kemanusiaan, harmoni, dan tanggung jawab sosial.
“Ini menunjukkan bahwa kasih adalah nilai universal. Di semua peradaban besar, kasih selalu menjadi inti. Tanpa kasih, kemajuan hanya akan melahirkan jarak. Tanpa empati, kekuasaan bisa berubah menjadi penindasan,” kata Ilma.
Namun demikian, ia menekankan bahwa kasih harus disertai dengan keadilan. Dalam pandangannya, nilai Hakim menjadi penyeimbang agar cinta tidak menjadi lemah dan keadilan tidak menjadi kaku.
“Keadilan adalah fondasi kemakmuran. Bangsa yang adil akan stabil, produktif, dan percaya diri. Ketidakadilan justru melahirkan ketimpangan dan konflik,” ujarnya.
Ilma menambahkan bahwa perpaduan Rahman dan Hakim melahirkan nilai toleransi, yakni sikap saling menghormati, menerima perbedaan, serta menjaga ruang hidup bersama secara damai dan bermartabat.
Menurutnya, toleransi bukan sekadar sikap pasif, melainkan hasil dari kasih yang tulus dan keadilan yang konsisten.
“Rahman membuat kita mampu memahami perbedaan. Hakim membuat kita mampu bersikap adil dalam menyikapinya. Dari situlah lahir toleransi yang dewasa,” katanya.
Ia menegaskan bahwa dalam konteks Indonesia yang majemuk, toleransi merupakan perekat utama kebhinnekaan. Tanpa toleransi, keberagaman berpotensi menjadi sumber konflik. Dengan toleransi, keberagaman justru menjadi kekuatan peradaban.
“Toleransi menjaga Indonesia tetap utuh. Ia merekatkan perbedaan dalam satu semangat kebangsaan,” ujarnya.
Ilma menilai bahwa kombinasi nilai Rahman, Hakim, dan toleransi sangat relevan dalam menghadapi tantangan abad ke-21 yang ditandai dengan percepatan teknologi, disrupsi ekonomi, serta perubahan sosial yang cepat. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa karakter berpotensi melahirkan krisis moral, sementara idealisme tanpa kebijaksanaan dapat berujung pada kesalahan arah.
Dalam konteks inilah, ia mengaitkan nilai tersebut dengan semangat juang GIN2 (Gerakan Inovator Nasional 2045), sebuah gerakan yang ia dorong sebagai kerangka strategis untuk membangun generasi inovator Indonesia yang unggul secara kompetensi, kokoh secara moral, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang bangsa.
Menurutnya, semangat juang GIN2 diarahkan untuk membentuk pola pikir inovasi yang berpihak pada kemanusiaan, menjunjung keadilan, serta memastikan keberlanjutan sosial, ekonomi, dan lingkungan.
“Inovasi harus hadir sebagai solusi, bukan sebagai sumber masalah baru. Ia harus memuliakan manusia, memperkuat keadilan, dan menjaga masa depan generasi berikutnya,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semangat juang GIN2 mendorong lahirnya inovator yang tidak hanya cerdas secara teknis, tetapi juga matang secara etis dan sosial.
“Inovasi tanpa Rahman bisa menghasilkan teknologi yang eksploitatif. Inovasi tanpa Hakim bisa menghasilkan kebijakan yang tidak berkelanjutan. Karena itu, semangat juang GIN2 menekankan keseimbangan antara kecerdasan, empati, dan tanggung jawab sosial,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa menuju Indonesia Emas 2045, tantangan terbesar bukan hanya soal infrastruktur atau investasi, tetapi soal kualitas manusia. Generasi yang akan memimpin Indonesia di usia 100 tahun kemerdekaan harus tumbuh dengan keseimbangan antara empati dan ketegasan, antara idealisme dan rasionalitas, serta antara kecintaan pada identitas dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Lebih jauh, Ilma menekankan bahwa visi tersebut tidak boleh berhenti pada 2045.
“Kita tidak boleh hanya berpikir sampai abad ini. Kita harus menyiapkan fondasi untuk memasuki abad ke-22. Apa yang kita tanam hari ini akan diwariskan kepada anak cucu kita nanti. Karena itu, nilai Rahman, Hakim, dan toleransi harus menjadi karakter lintas generasi,” ujarnya.
Ramadhan, menurut Ilma, merupakan momentum strategis untuk melakukan refleksi menyeluruh, baik secara spiritual, moral, maupun sosial. Bulan suci ini menjadi ruang untuk menata ulang niat, memperbaiki karakter, serta memperkuat komitmen hidup yang lebih bermakna.
Puasa, lanjutnya, tidak hanya melatih ketahanan fisik, tetapi juga membentuk kedewasaan emosional, kejernihan berpikir, dan kepekaan sosial.
“Ramadhan mendidik kita untuk mengendalikan ego, membersihkan hati, dan menata kembali orientasi hidup. Dari proses inilah lahir pribadi yang lebih rendah hati, lebih peduli, dan lebih bertanggung jawab,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa refleksi Ramadhan seharusnya tidak berhenti pada dimensi ibadah personal, tetapi juga diwujudkan dalam perbaikan sikap di ruang publik, dunia kerja, dan kehidupan bermasyarakat.
“Ramadhan harus melahirkan manusia yang lebih Rahman dalam memperlakukan sesama, lebih Hakim dalam mengambil keputusan, dan lebih bijak dalam menghadapi perbedaan,” katanya.
Menurut Ilma, apabila nilai-nilai Ramadhan tersebut terus dijaga sepanjang tahun, maka akan terbentuk budaya sosial yang sehat, produktif, dan berkeadaban.
“Bangsa yang kuat lahir dari pribadi-pribadi yang terlatih secara spiritual, matang secara moral, dan konsisten dalam berbuat baik,” ujarnya.
Ilma juga mengajak generasi muda untuk menjadikan kasih, keadilan, dan toleransi sebagai fondasi dalam berkarya dan berkontribusi bagi tanah air. Ia menegaskan bahwa cinta tanah air bukan hanya soal simbol, tetapi soal komitmen menjaga persatuan dalam keberagaman.
“Mencintai Indonesia berarti menjaga persaudaraan, berpikir jernih, bertindak adil, dan bekerja dengan hati yang bersih. Itulah bentuk pengabdian yang sesungguhnya,” katanya.
Menutup pernyataannya, Ilma berharap Ramadhan tahun ini menjadi momentum kolektif untuk memperkuat kualitas diri sebagai manusia yang bermanfaat, membangun peradaban yang inklusif dan berkeadilan, serta menyiapkan generasi masa depan yang siap membawa Indonesia menuju 2045 dan memasuki abad ke-22 dengan karakter Rahman, Hakim, dan toleransi sebagai penolong utama bangsa.


















