Home Bandung Inklusivitas dalam Seni: “Pentas Seni Anak-Anak Disabilitas SLBN Cinta Asih Soreang...

Inklusivitas dalam Seni: “Pentas Seni Anak-Anak Disabilitas SLBN Cinta Asih Soreang yang Menginspirasi”

77
0

Inklusivitas dalam Seni:

“Pentas Seni Anak-Anak Disabilitas SLBN Cinta Asih Soreang yang Menginspirasi”

JABARSATU.COM — Pentas seni anak-anak disabilitas menggema di Gedung Budaya Sabilulungan, Soreang, pada Sabtu, 31 Januari lalu. Dalam pertunjukan tersebut, anak-anak disabilitas menampilkan teater (kabaret) dan tarian yang begitu memukau. Melalui pergelaran ini, para guru dan pembimbing seolah ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa keterbatasan fisik bukanlah hambatan untuk berekspresi dan mengembangkan potensi diri.
Pertunjukan tari yang ditampilkan penuh energi dan kreativitas, dengan gerakan dinamis serta ekspresi yang kuat. Sementara itu, pementasan kabaret berhasil membuat penonton tertawa sekaligus terharu melalui humor dan pesan moral yang disampaikan.
Di sinilah kami menyaksikan dengan rasa takjub dan haru: anak-anak penyandang disabilitas—seperti tunarungu dan tunagrahita—mampu memainkan teater dengan sangat baik, layaknya anak-anak pada umumnya. Bahkan, beberapa anak tunarungu mampu menari dengan gemulai dan presisi di atas panggung. Mereka tidak dapat mendengar, namun mampu menari selaras dengan irama musik. Ini sungguh luar biasa.
Salah satu siswa SLBN Cinta Asih bernama Wipra yang tampil memukau dlm penampilannya. Dia blg dlm bhs isyarat “aku senang & bahagia” saat ada di atas pentas
Yang tak kalah luar biasa adalah peran pelatih tari yang melatih mereka menggunakan teknik hitungan serta hentakan kaki sebagai isyarat pergantian gerak dan gaya. Dibutuhkan kesabaran, fokus, dan dedikasi tinggi untuk mengarahkan anak-anak ini. Jelas, ini bukan perkara mudah.
Di sela-sela waktu istirahat, saya berkesempatan berbincang dengan Pak Refly selaku penyelenggara Pentas Seni Disabilitas. Beliau menjelaskan bahwa visi dan misi acara ini adalah menggali serta memupuk bakat dan potensi terpendam dalam diri anak-anak disabilitas, sekaligus mengenalkan dunia seni kepada mereka.
Ketika saya bertanya apakah acara ini rutin dilaksanakan setiap tahun, beliau menjawab singkat, “Tidak, ini baru pertama kali.” Beliau juga menyampaikan bahwa penyelenggaraan acara ini dilakukan dengan biaya seadanya. Padahal, sebagai SLBN negeri, alangkah baiknya jika pihak sekolah dapat mengajukan proposal kepada Dinas Pendidikan setempat agar mendapat dukungan anggaran demi terselenggaranya kegiatan edukatif seperti ini.
Acara semacam ini sangat penting bagi penyandang disabilitas. Mereka memiliki hak untuk mengenal dan mencintai seni budayanya sendiri, tidak hanya sebatas teori dan latihan di sekolah, tetapi juga melalui realisasi nyata di atas panggung. Dengan tampil di hadapan publik, anak-anak dapat merasakan kebahagiaan dan menyadari bahwa mereka mampu melakukan performance serta percaya pada potensi diri mereka. Sayangnya, jawaban yang saya terima hanya singkat, dengan nada pesimis: “Belum.”
Pentas Seni Disabilitas ini bukan sekadar ajang unjuk bakat, tetapi juga menjadi sarana meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya inklusivitas dan kesetaraan. STOP BULLYING.
Semoga ke depannya pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan Soreang dapat mewujudkan acara ini sebagai agenda tahunan, demi menumbuhkan bakat, potensi, dan rasa percaya diri anak-anak disabilitas.
Bravo, anak-anak hebat!
Disabilitas bukan akhir segalanya. Semoga kelak kalian tumbuh menjadi pribadi yang bermartabat dan berguna bagi keluarga, nusa, dan bangsa. Aamiin.
“Tuhan Maha Kuasa. Ketika Dia menjadikan hamba-Nya tidak dapat mendengar dan berbicara, Dia menganugerahkan bahasa isyarat agar mereka tetap mampu berinteraksi. Ini adalah salah satu tanda kebesaran-Nya.”

(N Iskandar Ismime/JBS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.