Home Bandung KISAH SEBELUM DAN PASCA BENCANA LONGSOR KBB YANG MASIH PERLU ULURAN BANTUAN

KISAH SEBELUM DAN PASCA BENCANA LONGSOR KBB YANG MASIH PERLU ULURAN BANTUAN

256
0

KISAH SEBELUM DAN PASCA BENCANA LONGSOR Cisarua, Bandung Barat MASIH PERLU ULURAN BANTUAN

JABARSATU.COM — Bak sebuah peribahasa, tidak setiap keindahan melahirkan kebaikan, dan tidak setiap keburukan berujung pada kehancuran. Gunung Burangrang, dengan hamparan hijau yang asri, pepohonan yang rimbun, serta lahan pertanian yang tersusun rapi, selama ini menghadirkan wajah alam yang menenangkan dan memikat.
Namun, di balik keelokannya, tersimpan potensi petaka yang kelak menjelma menjadi duka mendalam.
Pada dini hari, tepat pukul 02.00 WIB, hujan deras mengguyur kawasan Cisarua. Warga Kampung Pasir Kuning, Desa Pasir Langu, terlelap dalam tidur ketika tiba-tiba suara gemuruh disertai dentuman keras memecah keheningan malam. Suara itu datang tanpa aba-aba, membungkam sunyi dan melahirkan kepanikan.
Menurut kesaksian Pak Wawan (65), warga asli Desa Pasir Langu, suara gemuruh tersebut kian lama kian menguat. Awalnya, warga mengira suara itu berasal dari pesawat yang melintas. Namun, guncangan tanah yang terasa jelas menimbulkan keganjilan. Ketika pandangan diarahkan ke lereng Gunung Burangrang, tampak pergerakan massa tanah yang meluncur cepat ke bawah. Saat itulah warga menyadari bahwa bencana longsor tengah terjadi.
Pak Wawan menuturkan, longsor terjadi sebanyak dua kali, yakni pada pukul 02.00 WIB dan 02.30 WIB. Longsor susulan kedua membangunkan seluruh warga dari tidur mereka. Dalam kepanikan, warga berhamburan keluar rumah, sebagian berteriak, menangis histeris, dan berlari menuju tempat yang dianggap aman. Tak satu pun sempat menyelamatkan harta benda—kepanikan telah melumpuhkan segalanya.
Fakta Bencana dan Penanganan
Bencana tanah longsor yang terjadi pada 24 Januari 2026 di Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, mengakibatkan 70 orang meninggal dunia dan 10 orang lainnya dinyatakan hilang. Hujan lebat berkepanjangan menyebabkan tanah menjadi jenuh, memicu runtuhan besar dari lereng Gunung Burangrang.

Wawan warga yang menjadi saksi langsung peristiwa longsor Kampung Pasir Kuning. Desa pasir langu kec: Cisarua Bandung Barat/i

Secara geologis, kawasan tersebut memiliki lapisan tanah pelapukan yang tebal di atas batuan dasar yang bersifat kedap air. Imam Achmad Sadisun, ahli geologi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), menjelaskan bahwa daya rusak longsor ini tidak hanya berasal dari air, tetapi juga dari muatan sedimen dalam jumlah besar yang bergerak dengan kecepatan tinggi.
(Dikutip dari National Geographic Indonesia).
Pemerintah bersama tim gabungan telah melakukan evakuasi korban serta menyalurkan bantuan logistik berupa tenda pengungsian, makanan, dan pakaian. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengumumkan rencana relokasi warga di sekitar lokasi bencana karena wilayah tersebut dinilai tidak lagi aman dan layak huni.
Hingga hari kesembilan operasi pencarian, Tim SAR gabungan telah mengevakuasi sekitar 74 kantong jenazah. Proses pencarian korban lainnya masih terus dilakukan dengan dukungan alat berat dan personel gabungan.
Refleksi
Bencana ini menjadi pengingat bahwa alam memiliki cara sendiri untuk menagih keseimbangan yang diabaikan.
Marilah kita belajar untuk menghargai alam, menjaga, dan merawatnya. Jangan biarkan keserakahan manusia merenggut nyawa-nyawa yang tak berdosa. Dan ayo yang mau membantu mereka masih memerlukan uluran tangan.
(N. Iskandar Ismime, tim JBK & Bandoengmooi Foundation)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.