Home Bandung Brehoh #5: Gotong Royong yang Dihabisi Pasar

Brehoh #5: Gotong Royong yang Dihabisi Pasar

23
0

Brehoh #5: Gotong Royong yang Dihabisi Pasar

Gotong royong sering disebut sebagai jiwa bangsa. Ia diajarkan sejak kecil, dipuji dalam pidato, dan dirayakan dalam simbol-simbol kebudayaan. Namun dalam kehidupan sehari-hari, gotong royong semakin jarang ditemui sebagai praktik hidup. Ia lebih sering tinggal sebagai slogan—indah diucapkan, tetapi rapuh dijalankan.

Perubahan ini tidak terjadi tiba-tiba. Ia berlangsung perlahan, seiring masuknya logika pasar ke hampir seluruh ruang kehidupan. Hubungan antarmanusia yang dulu dibangun atas dasar kebersamaan, kini ditimbang dengan kalkulasi untung-rugi. Yang tidak menguntungkan dianggap beban. Yang tidak produktif dianggap menghambat.

Dalam kebudayaan Nusantara, gotong royong bukan sekadar kerja bersama. Ia adalah cara memandang hidup. Ia menempatkan manusia sebagai makhluk yang saling bergantung. Panen dilakukan bersama, rumah dibangun bersama, dan duka pun dipikul bersama. Dalam gotong royong, tidak ada yang benar-benar sendirian.

Namun pasar memiliki logika berbeda. Pasar tidak mengenal kebersamaan, hanya transaksi. Ia tidak bertanya siapa yang tertinggal, hanya siapa yang mampu membeli. Ketika logika ini menjadi dominan, gotong royong pelan-pelan tersingkir. Ia dianggap tidak efisien, tidak modern, dan tidak kompetitif.

Soekarno pernah menegaskan bahwa Indonesia dibangun bukan atas asas individualisme, melainkan asas gotong royong. Peringatan ini terasa relevan ketika kita melihat bagaimana individualisme ekonomi merembes ke ruang-ruang sosial. Warga yang dulu saling mengenal kini saling bersaing. Tetangga berubah menjadi kompetitor.

Pasar tidak datang sendirian. Ia sering dibawa oleh kebijakan negara yang menempatkan pertumbuhan ekonomi sebagai tujuan utama, sementara keadilan sosial menjadi catatan kaki. Dalam situasi ini, gotong royong tidak hanya ditinggalkan, tetapi juga dilemahkan secara sistematis. Program-program berbasis komunitas diganti dengan skema bantuan individual yang memutus solidaritas.

Di desa-desa, perubahan ini terasa jelas. Kerja bakti makin jarang. Musyawarah digantikan pengumuman. Keputusan penting diambil tanpa keterlibatan warga. Ruang bersama menyempit, sementara kepentingan pribadi membesar. Desa tidak lagi menjadi ruang kebudayaan, melainkan lokasi proyek.

Gotong royong juga dilemahkan oleh budaya kompetisi yang ditanamkan sejak dini. Anak-anak diajarkan untuk menjadi yang terbaik, bukan yang paling peduli. Prestasi diukur dari capaian individu, bukan kontribusi sosial. Dalam jangka panjang, ini membentuk warga yang cerdas tetapi dingin.

Ki Hajar Dewantara menekankan bahwa pendidikan adalah proses menumbuhkan budi pekerti. Budi pekerti bukan hanya soal sopan santun, tetapi kemampuan merasakan orang lain. Ketika pendidikan gagal menumbuhkan empati, gotong royong kehilangan regenerasinya. Ia tidak diwariskan, hanya dikenang.

Pasar juga masuk ke ruang kebudayaan melalui bahasa. Kata “bantu” berubah menjadi “jasa”. Kata “tetangga” digantikan “relasi”. Bahkan solidaritas pun dikomodifikasi. Kita diminta peduli sejauh ada imbalan atau eksposur. Kepedulian tanpa pamrih dianggap naif.

Dalam situasi seperti ini, oligarki menemukan lahan subur. Masyarakat yang tercerai-berai lebih mudah dikendalikan. Gotong royong yang lemah membuat perlawanan terhadap ketidakadilan menjadi terpisah-pisah. Rakyat berjuang sendiri-sendiri, sementara kekuasaan bergerak terkoordinasi.

Mohammad Hatta mengingatkan bahwa ekonomi seharusnya disusun sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan. Prinsip ini bukan nostalgia, melainkan tawaran sistemik. Ketika ekonomi dikuasai segelintir orang, gotong royong berubah menjadi slogan kosong. Yang tersisa hanyalah ketimpangan yang dilembagakan.

Yang jarang disadari, hilangnya gotong royong juga berdampak pada kesehatan mental masyarakat. Kesepian meningkat di tengah keramaian. Orang dikelilingi banyak orang, tetapi merasa sendiri. Dalam kebudayaan gotong royong, kesepian adalah masalah bersama. Dalam budaya pasar, kesepian dianggap urusan pribadi.

Namun gotong royong tidak sepenuhnya mati. Ia bertahan di pinggiran: dalam komunitas kecil, dalam solidaritas spontan saat bencana, dalam gerakan warga yang saling menjaga. Setiap kali negara dan pasar gagal hadir, gotong royong muncul sebagai penyangga terakhir.

Gus Dur pernah mengatakan bahwa kemanusiaan harus ditempatkan di atas segala kepentingan. Gotong royong adalah wujud paling konkret dari prinsip itu. Ia tidak menunggu izin, tidak meminta imbalan, dan tidak menghitung untung. Ia bergerak karena rasa sesama.

Pertanyaannya kemudian: apakah gotong royong masih mungkin bertahan di tengah dominasi pasar? Jawabannya bergantung pada keberanian kita untuk menata ulang prioritas. Pembangunan yang mengabaikan kebersamaan hanya akan melahirkan masyarakat yang rapuh. Ekonomi yang tumbuh tanpa solidaritas akan menghasilkan ketimpangan yang semakin dalam.

Bangsa besar bukan bangsa yang warganya saling mengalahkan, tetapi bangsa yang warganya saling menopang. Gotong royong bukan penghambat kemajuan. Ia adalah fondasi kemajuan yang berkelanjutan. Tanpa itu, kemajuan hanya akan dinikmati segelintir orang.

Pada akhirnya, gotong royong tidak bisa dipertahankan hanya dengan nostalgia. Ia membutuhkan ruang, kebijakan, dan keberpihakan. Ia harus dihidupkan kembali sebagai praktik, bukan sekadar simbol. Jika pasar terus dibiarkan menghabisi gotong royong, kita bukan hanya kehilangan nilai, tetapi juga kehilangan daya hidup sebagai bangsa.

Dan mungkin di situlah tantangan terbesar kita hari ini: memilih apakah kita ingin menjadi masyarakat yang sekadar tumbuh, atau bangsa yang tetap utuh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.