Keadilan tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari kesadaran. Dan kesadaran paling awal dibentuk oleh pendidikan. Bukan hanya pendidikan di sekolah, tetapi pendidikan cara berpikir dan merasakan sesama.
Ki Hajar Dewantara menulis, “Pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak.” Jika tuntunan itu gagal menumbuhkan kepekaan terhadap ketidakadilan, maka kita hanya melahirkan generasi yang pintar tetapi abai.
Pendidikan sering dipersempit menjadi angka, nilai, dan peringkat. Padahal keadilan membutuhkan lebih dari kecerdasan akademik. Ia membutuhkan keberanian moral. Keberanian untuk bertanya, meragukan, dan membela yang lemah.
Tan Malaka mengingatkan bahwa pendidikan harus membebaskan manusia dari ketakutan dan ketergantungan. Tanpa itu, rakyat mudah menerima ketidakadilan sebagai nasib. Diam bukan karena setuju, tetapi karena tidak tahu harus berbuat apa.
Bangsa besar tidak hanya mencetak tenaga kerja, tetapi membentuk warga negara. Warga yang sadar hak dan kewajibannya. Warga yang paham bahwa keadilan bukan hadiah dari penguasa, melainkan tanggung jawab bersama.
Jika pendidikan gagal menumbuhkan kesadaran itu, maka keadilan akan selalu tertunda. Ia akan terus dibicarakan, tetapi jarang diperjuangkan. Dan bangsa akan berjalan maju secara fisik, tetapi tertinggal secara nurani.***
TV ONE DIADUKAN KE DEWAN PERS
by M Rizal Fadillah
Setelah memberitakan “OTT Pajak Dan Bea Cukai” pada Kabar Siang Kamis 5 Februari 2026 dengan mencantumkan...