Selamat Jalan, Uki
(Untuk kawan lama STB, Teater ASTI-STSI Bandung, dan panggung kehidupan)
Selamat jalan, Uki.
Kalimat itu sederhana, tapi berat sekali untuk dituliskan. Ia seperti dialog terakhir dalam sebuah pementasan panjang — dialog yang tidak pernah benar-benar siap kita ucapkan, tetapi pada akhirnya harus juga disampaikan. Dan hari ini, (17/2/26) — dapat info dari sahabat saya sang sutradara– Saya menyampaikannya untukmu, kawan lama, saudara seperjalanan, penulis puisi yang tak pernah berhenti mempercayai kekuatan kata.
Namamu selalu membawa kami kembali ke masa ketika dunia terasa lebih luas dari panggung mana pun yang pernah kita pijak. Masa lalu saat pertama kenal saya dengan Marzuki (Uki) di Studiklub Teater Bandunng (STB) pimpinan Suyatna Anirun. Tahun itu kita jumpa saat ikut paket “Acting Course” STB masa angkatan 1990. Masa ketika kita belajar bukan hanya tentang teknik akting, bukan hanya tentang artikulasi dan blocking, ada olah tubuh dan olah vocal dan juga tentang keberanian berdiri di hadapan hidup dengan suara yang jujur.
Uki yang saat itu tinggal di kawasan Jl Pangarang (belakang Hotel Savoy Homann) –masuk Teater ASTI pada tahun 1990 — tahun yang kini terasa seperti bab pembuka dalam sebuah buku kenangan yang tak pernah selesai kami baca.
Uki dan aku saat itu kita masih sangat muda. Uki menulis puisi dengan nama yang tercantum dan dikenal Uki F Marzuki. Saat itu saya baca puisi-puisi Uki di media Bandung Pos, Suara pembaruan, PR, Sara Karya, Mutiara, dan Majalah Anita Cermelang dan Ceria. Tulisan saya dan puisi juga muncul di media-media tersebut. Kita datang dengan mimpi yang mungkin belum berbentuk, tapi menyala. Saya gabung dengan kawan-kawan penulis muda Himpunan Pengarang dan Penulis Muda (HPPM) Nurani bimbingan Aam Amilia yang melahirkan Hermawan Aksan, Yus R Ismail, Noenk (yang kini di Papua).
Kita percaya pada latihan yang panjang, pada diskusi yang kadang memanas, pada malam-malam tanpa tidur menjelang waktu yang panjang. Uki saya lihat banyak main teater juga di STB, berbagai pementasan ia lalui. “Kita percaya bahwa teater bukan sekadar pertunjukan — ia adalah cara hidup,”ujarnya pada saya waktu itu.
Dan di antara semua itu, kau selalu hadir dengan caramu sendiri.
Uki bukan tipe yang paling keras bersuara di ruangan, tapi ketika berbicara, ia santun dan bertutur bijak dan orang mendengar. Bukan karena volume, tapi karena kedalaman. Kau membawa ketenangan yang jarang dimiliki orang seusia kita saat itu. Ada semacam kesadaran bahwa hidup ini lebih besar dari sekadar tepuk tangan penonton. “Bahwa seni bukan hanya soal tampil, tapi soal memberi makna,” ujar dia waktu itu.
Saat Kau menulis puisi. Di sela latihan, di balik naskah yang kita bolak-balik, di atas kertas yang mungkin kini entah di mana, kau menulis. Puisi-puisimu tidak pernah berteriak. Ia seperti bisikan yang perlahan masuk ke dada. Ia bercerita tentang manusia, tentang kesunyian, tentang keresahan, tentang cinta yang tidak selalu romantis tapi selalu tulus. Itulah Uki.
Kami sering bercanda, mengatakan bahwa kau lebih banyak berdialog dengan kertas daripada dengan kami. Tapi kini kami sadar, mungkin justru dari dialog itulah kau mengajarkan sesuatu: bahwa seorang seniman harus berani jujur pada dirinya sendiri, bahkan ketika dunia tak selalu memahami. Ia sempat mengajar di Uninus dan terakhir yang mengajar di SMA Sumatera 40 Bandung
Waktu berjalan. Kita tumbuh. Jalan kita tidak selalu sejajar, tapi selalu beririsan. Kau memilih menjadi pengajar adalah pilihan — dan itu bukan pilihan yang mengejutkan bagi siapa pun yang mengenalmu. Mengajar bagimu bukan sekadar profesi. Ia adalah perpanjangan dari panggung. Ruang kelas menjadi ruang pertunjukan lain, tempat gagasan-gagasan dipentaskan, tempat generasi baru belajar memaknai dunia.
Siswa-siswamu santun dan mungkin mengenalmu sebagai guru yang tenang, mungkin tegas, mungkin penuh perenungan. Tapi kami tahu, di balik itu ada aktor, ada rasa penyair, ada sahabat lama yang pernah tertawa lepas di ruang latihan teater. “Ada seseorang yang percaya bahwa pendidikan adalah cara paling sunyi untuk mengubah masa depan,” itulah pepatah keren.
Kau juga banyak cerita bersama tentang Teater Uki pernah berteater di Jakarta Timur. Di sana, kau melanjutkan napas yang dulu kita hirup bersama di Bandung. Panggung demi panggung, proses demi proses, generasi demi generasi. Kau tidak pernah benar-benar meninggalkan teater. Teater sudah menjadi darahmu.
Teater adalah disiplin. Ia mengajarkan kita tentang waktu — tentang datang tepat sebelum lampu menyala. Ia mengajarkan kita tentang kerja sama — tentang bagaimana satu peran kecil pun menentukan keseluruhan cerita. Ia mengajarkan kita tentang kerendahan hati — bahwa aktor terbaik sekalipun tetap bergantung pada tim di belakang layar.
Dan kau menjalani semua itu dengan kesetiaan.
Kesetiaan pada proses. Kesetiaan pada kata. Kesetiaan pada panggung.
Banyak dari kita mungkin pernah goyah. Ada yang berhenti, ada yang berpaling, ada yang lelah. Hidup memang tidak selalu memberi ruang bagi idealisme masa muda. Tapi kau — dengan caramu yang tenang — tetap bertahan. Mungkin tidak selalu di pusat sorotan, tapi selalu ada. Seperti cahaya kecil yang tak pernah padam.
Hari ini, ketika kami mengatakan “selamat jalan,” yang kami kenang bukan hanya biodata: bukan hanya angkatan 1990 di STB, tapi Uki ASTI 1990, bukan hanya yang kami kenang adalah kehadiranmu. Kehadiran yang tidak gaduh, tapi kuat.
Kehadiran yang tidak memaksa, tapi berarti.
Kehadiran yang membuat kami merasa bahwa perjalanan ini layak dijalani.
Kami teringat ruang-ruang latihan kursi-kursi kayu yang keras, dipanggung Rumentang Siang naskah yang penuh coretan. Kami teringat perdebatan panjang tentang tafsir adegan, tentang motivasi karakter, tentang makna sebuah diam. Kami teringat tawa yang pecah tanpa sebab jelas. Kami teringat rasa gugup sebelum tirai dibuka.
Dan di semua itu, ada kau.
Mungkin kita tidak selalu mengucapkan terima kasih saat masih sempat. Mungkin kita mengira waktu akan selalu memberi kesempatan untuk bertemu lagi, berdiskusi lagi, menonton pementasan lagi. Tapi hidup, seperti teater, memiliki batas durasi.
Pementasan yang paling indah sekalipun akan berakhir. Lampu akan padam. Tirai akan tertutup. Penonton akan pulang.
Namun, ada sesuatu yang tidak pernah benar-benar selesai: makna.
Kau telah menanam makna di banyak hati. Di hati siswa yang kau bimbing. Di hati rekan-rekan teater yang bekerja bersamamu. Di hati kami, kawan-kawan lama STB dan Teater Bandung.
Puisi-puisimu mungkin akan terus dibaca. Jejak langkahmu akan terus terasa.
Selamat jalan, Uki.
Aku doakan kau berada tenang di sisiNYA. Aamiin
(Aendra Medita)

















