Sejarah tidak pernah mencatat pemimpin dari keberaniannya berbicara, melainkan dari keberaniannya berdiri. Berdiri di tengah badai, berdiri di antara kepentingan, dan—yang paling berat—berdiri bersama rakyatnya sendiri. Namun justru di titik itulah keraguan sering lahir. Bukan karena pemimpin lemah, melainkan karena ia lupa dari mana kekuatannya berasal.
Keraguan pada pemimpin kerap dibungkus bahasa yang halus: kehati-hatian, stabilitas, pertimbangan matang. Kata-kata ini terdengar bijak, bahkan rasional. Tetapi ketika kehati-hatian berubah menjadi pembenaran untuk diam, dan stabilitas menjadi alasan untuk menjauh dari penderitaan rakyat, maka keraguan itu tak lagi netral. Ia menjelma menjadi jarak. Dan jarak, dalam politik, adalah awal dari kejatuhan moral.
Rakyat memahami bahwa memimpin bukan perkara mudah. Mereka tahu kekuasaan adalah ruang penuh tekanan, intrik, dan jebakan. Tetapi rakyat juga tahu satu hal yang sederhana: pemimpin tidak pernah diminta sempurna—hanya diminta hadir. Hadir mendengar, hadir merasakan, hadir mengambil risiko bersama.
Masalahnya, banyak pemimpin justru ragu saat seharusnya paling tegak. Ragu mengambil sikap ketika rakyat kehilangan pekerjaan. Ragu bersuara ketika keadilan dipelintir. Ragu memihak ketika yang lemah didesak oleh yang kuat. Keraguan semacam ini bukan lahir dari kebijaksanaan, melainkan dari ketakutan kehilangan kenyamanan.
Ketakutan itulah yang jarang diakui secara jujur. Takut kehilangan dukungan elite. Takut disingkirkan oleh sistem yang ia masuki sendiri. Takut dianggap terlalu berpihak. Takut dicap populis. Takut pada bayang-bayang masa depan politik, sementara rakyat hidup dalam ketidakpastian hari ini.
Padahal, sejarah berulang kali menunjukkan satu pelajaran sederhana: pemimpin yang menjauh dari rakyat akan kehilangan kekuatan, sementara pemimpin yang bersama rakyat akan menemukannya kembali. Kekuatan sejati tidak lahir dari ruang rapat berpendingin udara, melainkan dari jalanan panas, pasar yang riuh, dan rumah-rumah sempit tempat rakyat menggantungkan harapan.
Keraguan sering muncul ketika pemimpin mulai lebih sering mendengar bisikan kekuasaan daripada suara nurani. Ketika angka-angka statistik terasa lebih nyata daripada wajah manusia. Ketika stabilitas makro lebih penting daripada keadilan mikro. Di titik itu, pemimpin tidak kehilangan akal—ia kehilangan rasa.
Dan pemimpin tanpa rasa adalah mesin kebijakan. Ia bekerja, tetapi tak hidup. Ia berjalan, tetapi tak tahu arah.
Rakyat, di sisi lain, tidak menuntut pidato yang sempurna. Mereka tidak meminta retorika berlapis-lapis. Yang mereka tunggu hanyalah kejelasan: apakah pemimpinnya masih berdiri di sisi yang sama, atau sudah berpindah tanpa pamit?
Keberanian politik bukan berarti selalu benar. Keberanian berarti bersedia salah bersama rakyat, lalu memperbaikinya bersama pula. Tetapi sistem kekuasaan modern sering menghukum kesalahan lebih keras daripada kebohongan. Akibatnya, pemimpin belajar satu hal yang keliru: lebih aman diam daripada jujur, lebih aman menunda daripada bertindak.
Di sinilah keraguan menjadi penyakit struktural. Ia tidak lagi personal, tetapi sistemik. Keraguan dipelihara oleh mekanisme kekuasaan yang lebih menghargai kepatuhan daripada kebenaran. Lebih memuja citra daripada keberpihakan. Lebih takut pada kegaduhan elite daripada jeritan rakyat.
Namun, rakyat tidak buta. Mereka mungkin diam, tetapi mereka mencatat. Mereka mungkin bersabar, tetapi mereka mengingat. Kepercayaan yang dikhianati tidak selalu meledak hari itu juga—ia mengendap, menunggu waktu.
Pemimpin yang kuat bukanlah yang tak pernah ragu. Justru pemimpin yang kuat adalah yang berani mengakui ragu, lalu kembali pada rakyat untuk menemukan jawabannya. Keraguan yang dibagi menjadi dialog akan berubah menjadi kebijaksanaan. Keraguan yang disembunyikan di balik kekuasaan akan membusuk menjadi sinisme.
Sayangnya, banyak pemimpin memilih jalan kedua. Mereka membangun tembok narasi, statistik, dan jargon, berharap tembok itu cukup tebal untuk menahan kekecewaan rakyat. Padahal tembok setebal apa pun tak akan mampu menahan kebenaran sederhana: rakyat tahu kapan mereka ditinggalkan.
Bersama rakyat, pemimpin akan kuat—bukan karena rakyat selalu setuju, tetapi karena rakyat memberi legitimasi moral. Legitimasi ini tidak bisa dibeli, tidak bisa direkayasa, dan tidak bisa disurvei secara instan. Ia tumbuh dari konsistensi: antara kata dan tindakan, antara janji dan keberanian menepatinya.
Ketika pemimpin memilih berdiri bersama rakyat, ia mungkin kehilangan sebagian kenyamanan. Ia mungkin diserang, dicemooh, bahkan dikhianati. Tetapi ia akan mendapatkan sesuatu yang jauh lebih langka: kepercayaan. Dan dalam jangka panjang, kepercayaan adalah satu-satunya modal politik yang tidak pernah usang.
Sebaliknya, pemimpin yang terus ragu untuk berpihak akan perlahan kehilangan pijakan. Ia mungkin tetap berkuasa secara formal, tetapi kosong secara substantif. Kekuasaan semacam ini rapuh—tampak kokoh, tetapi retak dari dalam.
Editorial ini bukan seruan untuk romantisme massa, apalagi pembenaran kebijakan tanpa nalar. Ini adalah pengingat sunyi bahwa demokrasi bukan hanya soal prosedur, melainkan keberanian moral. Bahwa kekuatan bukan diukur dari seberapa aman posisi seorang pemimpin, tetapi seberapa besar risiko yang ia ambil demi mereka yang diwakilinya.
Rakyat tidak menunggu pemimpin yang tak pernah goyah. Mereka menunggu pemimpin yang ketika goyah, memilih kembali ke mereka—bukan ke lingkaran kekuasaan. Karena di sanalah, di tengah rakyat, keraguan menemukan arah, dan kekuatan menemukan maknanya.
Jika hari ini pemimpin masih ragu, biarlah ia ragu dengan jujur. Tetapi jangan biarkan keraguan menjadi alasan untuk menjauh. Sebab sejarah selalu lebih keras pada mereka yang memilih aman, daripada mereka yang memilih benar.
Dan pada akhirnya, kekuasaan akan berlalu. Jabatan akan berakhir. Tetapi satu pertanyaan akan tertinggal: apakah ia pernah benar-benar berdiri bersama rakyatnya, ketika itu paling dibutuhkan?
UBURUBUROMOLOGI
OLEH JAYA SUPRANA
Ubur-ubur (Cnidaria) adalah kelompok hewan laut yang terdiri dari sekitar 10.000
spesies. Satwa invertebrate ini dapat ditemukan di seluruh dunia, dari laut dalam
hingga...