APAKAH KITA SIAP HIDUP TANPA BANDAR?
Oleh : William Win Yang – Business Strategist – Best Selling Book Author
Setelah kerontokan pasar saham 2 hari berturut-turut akibat berita dari Morgan Stanley tentang investor pasar saham kita yang tidak transparan, yang artinya : saham kita ini naik karena di goreng orang dalam. Tiba-tiba polisi menyatakan akan menyelidiki potensi pidana di kasus saham gorengan ini. Dan reaksi saya adalah WTF?!?! Pertama, karena urusan saham gorengan ini otoritasnya BEI & OJK. Kedua, akan ada potensi besar terjadinya kriminalisasi (gengsi dong, sudah menyelidiki tidak menemukan tersangka). Dan ketiga, apakah siap kita hidup tanpa adanya bandar?
Disclaimer : artikel ini bukan berarti saya mendukung manipulasi pasar modal, terutama siasat hit and run seperti pump and dump yang merugikan investor (spekulan), yang akibatnya mereka bangkrut dan menyebabkan krisis ekonomi. Tentunya hal itu harus ditertibkan, dan setuju MSCI bahwa data-data bandar sebaiknya lebih terbuka, untuk mendeteksi saham gorengan. Tapi lebih kuatir terjadinya penerapan hukum berlebihan yang beresiko yang bisa diibaratkan membakar rumah untuk membasmi tikus.
Otoritas BEI & OJK
Yes, sudah ada petugas dan pengawasnya di BEI dan OJK untuk saham gorengan dan segala macam investasi bodong lainnya. Dan mereka adalah orang-orang yang berkecimpung tiap hari di pasar modal. Maka, menurut pemahaman saya,jika ada kejahatan di pasar modal yang mengarah ke kriminal, seyogyanya polisi menunggu laporan dari otoritas pengawas, kecuali jika dalam kepolisian ada DENSUS anti investasi bodong dan manipulasi pasar modal yang diisi pakar-pakar pasar modal yang tidak hanya mampu menangkap pelaku, tapi juga mengukur dampak sistemik dari apa yang mereka lakukan.
Demikianlah menurut tata kelola yang benar. Karena jika ini di bypass dengan alasan semulia apapun itu, maka beresikobesok akan ada lembaga lain seperti TNI yang mulai melakukan penangkapan atas potensi keracunan makanan, atau ORMAS yang merasa berhak menegakan kebenaran atas suatu kasus. In the end, berpotensi menggerus kepercayaan pada hukum, dan berpotensi chaos nantinya. Ingat kata-kata the Elder dalam serial John Wick :
“Yang membedakan manusia dan binatang adalah : manusia memiliki aturan”
Potensi kriminalisasi dan pemerasan
Kemarin selama 2 hari bursa kita kehilangan 85 milyard dollar. Maka mungkin saja besok bos-bos pasar modal di tangkap dengan tuduhan merugikan negara 85 milyard dollar (sekitar 1500 T), kemudian hartanya di sita, dan dipamerkan sebagai pencapaian besar.
Well, sebagai orang yang benci melihat orang sukses dan bahagia melihat orang menderita, tentunya ini adalah hiburan bagi kita. Namun ingat, jika ini terjadi karena kriminalisasi yang dibuat-buat padahal yang mereka lakukan adalah hal wajar yang terjadi sehari-hari di pasar modal, maka ini adalah pertanda bahaya bahwa hukum tidak bisa, Karena :
Dimasa dekat, mungkin kita merasa untung besar karena dapat uang mudah, tapi kemasa depan mungkin akan gawat.
Apakah kita siap hidup tanpa bandar saham?
Bandar, terlepas dari reputasi buruknya, mereka adalah liquidity provider yang membuat market bergairah dan para spekulan bersemangat. Dan kalau boleh jujur, merekalah yang berjasa memenuhi target kenaikan IHSG yang demikian dibanggakannya itu. Maka itu, menangani bandar ini harus hati-hati sekali.
Sekarang mari kita buat skenario dimana bandar-bandar itu menghilang karena takut ditersangakakan : (Catatan : saya akan menggunakan istilah teknis, karena malas menjelaskannya panjang lebar. Silahkan cek google artinya bagi yang ga ngerti)
Liquiditas mengering seketika
Tanpa bandar tidak ada yang siap menyerap jual beli besar, bid dan ask jaraknya bisa sangat extreme (misalnya yang mau beli Rp.50, sementara yang menjual di Rp1000, karena misalnya, kita sebagai investor berprinsip hanya perusahaan yang bisa kasih saya income 20% setahun baru saya mau invest), akibatnya saham menjadi barang mati yang tidak bisa diperjual belikan seperti biasa.
Artinya : mau jual harganya jatuh, mau beli antriannya kosong. Dengan kata lain, market tetap buka tapi fungsi pasarnya lumpuh.
Harga jadi tidak masuk akal
Karena bandar biasanya menahan volatilitas dan meredam panic selling atau euforia berlebihan. Kalau mereka hilang, saham bisa jatuh 30%-70% tanpa berita atau naik liar karena satu order kecil aja bisa menggerakan harga. (catatan : bagi yang ga paham, karena harga saham ditentukan oleh harga penjualan terakhir. Jadi seandainya ada saham gocap, terus ada pembeli yang ingin memiliki saham itu, sementara yang menjual hanya ada di Rp.1000, maka harga bisa meloncat ke 1000 walau yang terjual hanya 1 lembar).
Jangan senang dulu, karena saat anda mau jual untuk take profit, mungkin saja tidak ada yang mau beli.
Dampak sistemik ketakutan
Satu saham anjlok à investor panik à jual massal à saham lain ikut kena getahnya
Bahasa canggihnya, ini disebut liquidity vacuum. Mirip flash crash, tapi lebih lama dan menyebar. Yang paling menderita adalah : Ritel, dana pensiun, asuransi.
Dan mungkin yang paling patut dikasihani adalah dana pensiun. Karena mereka kan pensiunan. Kasian dong investasi mereka ga bisa ditarik.
Short seller ganas
Market macam ini adalah makanan empuk buat para short seller. Cukup buat satu rumor kecil, harga terjun bebas. Inilah ironisnya : pasar bebas tanpa bandar = pasar yang mudah dimanipulasi. Tapi short selling kan dilarang? Iya iyaaa, tapi di dunia ini banyak ilmu sulap untuk menghilangkan jejak.
Bursa bisa mati suri
Dalam skenario extreme : bursa bisa trading halt berkepanjangan, BEI terpaksa menutup perdagangan, dan kepercayaan publik runtuh.
Contoh sejarah versi ringan : kirisis liquiditas 2008 (market nyaris beku)
Perusahaan sulit mencari pendanaan alternatif selain pinjaman
Ini yang paling sering di remehkan. Banyak orang menganggap pasar modal hanyalah meja kasino raksasa yang layak di haramkan. Yes, tidak salah juga disebut begitu, tapi dia adalah alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan, yang mana jika sektor itu tidak berfungsi, yang terjadi adalah :
Ingat : Pasar saham adalah urat nadi kepercayaan bukan sekedar kasino
Negara dipaksa turun tangan
Kalau bandar hilang, maka tugas liquidity provider mau ga mau jadi tugas negara :
Kalau tidak? Pasar kolaps, dan berikutnya adalah krisis politik
Summary
So, in the end, bandar bukan malaikat, tapi tanpa mereka, market jadi hutan liar. Sekarang bandar saham itu banyak, tapi jika dihancurkan, nantinya berpotensi hanya ada 1 atau 2 bandar yang punya backingan saja yang beroperasi, dan ini sangat bahaya.
Itulah sebabnya, penanganan masalah penggoreng saham ini tidak bisa membabi buta dan sembarangan, dan bukan cuma menertibkan, tapi harus bisa menghitung dampak sistemik dari tindakan penertiban itu. Salah-salah kita mau membasmi rayap, malah membakar seluruh rumah. So please, jangan tumpang tindih, mohon percayakan masalah ini ke BI, OJK, dan BEI.
Akhir kata, ijinkan saya mengutip quotes dari buku saya :
Bukanlah kebaikan tukang daging dan tukang roti yang menyediakan makanan di meja kami
Tapi karena keinginan egois mereka untuk sejahteralah yang menyediakan itu semua
~Adam Smith~
Benar kan? Liat sekeliling kita, kamu pikir ada yang mau kerja gratsian?
















