Home Bandung APAKAH KITA SIAP HIDUP TANPA BANDAR?

APAKAH KITA SIAP HIDUP TANPA BANDAR?

34
0
William Win Yang/ foto Aendra

APAKAH KITA SIAP HIDUP TANPA BANDAR?

Oleh : William Win Yang – Business Strategist – Best Selling Book Author

 

Setelah kerontokan pasar saham 2 hari berturut-turut akibat berita dari Morgan Stanley tentang  investor pasar saham kita yang tidak transparan, yang artinya : saham kita ini naik karena di goreng orang dalam. Tiba-tiba polisi menyatakan akan menyelidiki potensi pidana di kasus saham gorengan ini. Dan reaksi saya adalah WTF?!?! Pertama, karena urusan saham gorengan ini otoritasnya BEI & OJK. Kedua, akan ada potensi besar terjadinya kriminalisasi (gengsi dong, sudah menyelidiki tidak menemukan tersangka). Dan ketiga, apakah siap kita hidup tanpa adanya bandar?

Disclaimer : artikel ini bukan berarti saya mendukung manipulasi pasar modal, terutama siasat hit and run seperti pump and dump yang merugikan investor (spekulan), yang akibatnya mereka bangkrut dan menyebabkan krisis ekonomi. Tentunya hal itu harus ditertibkan, dan setuju MSCI bahwa data-data bandar sebaiknya lebih terbuka, untuk mendeteksi saham gorengan. Tapi lebih kuatir terjadinya penerapan hukum berlebihan yang beresiko yang bisa diibaratkan membakar rumah untuk membasmi tikus.

 

Otoritas BEI & OJK

 

Yes, sudah ada petugas dan pengawasnya di BEI dan OJK untuk saham gorengan dan segala macam investasi bodong lainnya. Dan mereka adalah orang-orang yang berkecimpung tiap hari di pasar modal. Maka, menurut pemahaman saya,jika ada kejahatan di pasar modal yang mengarah ke kriminal, seyogyanya polisi menunggu laporan dari otoritas pengawas, kecuali jika dalam kepolisian ada DENSUS anti investasi bodong dan manipulasi pasar modal yang diisi pakar-pakar pasar modal yang tidak hanya mampu menangkap pelaku, tapi juga mengukur dampak sistemik dari apa yang mereka lakukan.

 

Demikianlah menurut tata kelola yang benar. Karena jika ini di bypass dengan alasan semulia apapun itu, maka beresikobesok akan ada lembaga lain seperti TNI yang mulai melakukan penangkapan atas potensi keracunan makanan, atau ORMAS yang merasa berhak menegakan kebenaran atas suatu kasus. In the end, berpotensi menggerus kepercayaan pada hukum, dan berpotensi chaos nantinya. Ingat kata-kata the Elder dalam serial John Wick :

 

Yang membedakan manusia dan binatang adalah : manusia memiliki aturan”

 

Potensi kriminalisasi dan pemerasan

 

Kemarin selama 2 hari bursa kita kehilangan 85 milyard dollar. Maka mungkin saja besok bos-bos pasar modal di tangkap dengan tuduhan merugikan negara 85 milyard dollar (sekitar 1500 T), kemudian hartanya di sita, dan dipamerkan sebagai pencapaian besar.

 

Well, sebagai orang yang benci melihat orang sukses dan bahagia melihat orang menderita, tentunya ini adalah hiburan bagi kita. Namun ingat, jika ini terjadi karena kriminalisasi yang dibuat-buat padahal yang mereka lakukan adalah hal wajar yang terjadi sehari-hari di pasar modal, maka ini adalah pertanda bahaya bahwa hukum tidak bisa, Karena :

 

1. Jika hukum tidak bisa dipercaya lagi, maka tidak masuk akal melakukan bisnis long term dengan investasi massive dan memperkerjakan banyak orang. Yang ada adalah hit and run. Ambil uang sebanyak-banyaknya, lalu kabur ke luar negri
2. Justru memicu capital flight keluar negri, karena para pebisnis akan berpikir, kalau hari ini mereka kena, apakah besok giliran kita?
3. Membuat bandar besar menahan diri untuk masuk pasar, karena takut dikriminalisasi, karena agak sulit membedakan dimana spekulasi, liquidity provider, dan aksi goreng menggoreng. Mungkin saja bisa dibuat aturan yang membedakan hal ini, tapi bisa jadi membuat potensi keuntungan jadi tipis sekali
4. Dan terakhir : kita mungkin senang melihat orang sukses gagal, atau orang kaya menderita. Tapi kita menjerit saat hal itu menimpa diri kita. Saat itu terjadi, mungkin tidak akan ada yang bersimpati pada kita, sebagaimana kita gembira ria melihat ketidak adilan yang dialami orang lain.

 

Dimasa dekat, mungkin kita merasa untung besar karena dapat uang mudah, tapi kemasa depan mungkin akan gawat.

 

Apakah kita siap hidup tanpa bandar  saham?

 

Bandar, terlepas dari reputasi buruknya, mereka adalah liquidity provider yang membuat market bergairah dan para spekulan bersemangat. Dan kalau boleh jujur, merekalah yang berjasa memenuhi target kenaikan IHSG yang demikian dibanggakannya itu. Maka itu, menangani bandar ini harus hati-hati sekali.

 

Sekarang mari kita buat skenario dimana bandar-bandar itu menghilang karena takut ditersangakakan : (Catatan : saya akan menggunakan istilah teknis, karena malas menjelaskannya panjang lebar. Silahkan cek google artinya bagi yang ga ngerti)

 

1. Likuiditas mengering seketika
2. Harga jadi tidak masuk akal
3. Dampak sistemik ketakutan
4. Short seller ganas
5. Bursa bisa mati suri
6. Perusahaan sulit mencari pendanaan alternatif selain pinjaman
7. Negara dipaksa turun tangan

 

Liquiditas mengering seketika

 

Tanpa bandar tidak ada yang siap menyerap jual beli besar, bid dan ask jaraknya bisa sangat extreme (misalnya yang mau beli Rp.50, sementara yang menjual di Rp1000, karena misalnya, kita sebagai investor berprinsip hanya perusahaan yang bisa kasih saya income 20% setahun baru saya mau invest), akibatnya saham menjadi barang mati yang tidak bisa diperjual belikan seperti biasa.

 

Artinya : mau jual harganya jatuh, mau beli antriannya kosong. Dengan kata lain, market tetap buka tapi fungsi pasarnya lumpuh.

 

Harga jadi tidak masuk akal

 

Karena bandar biasanya menahan volatilitas dan meredam panic selling atau euforia berlebihan. Kalau mereka hilang, saham bisa jatuh 30%-70% tanpa berita atau naik liar karena satu order kecil aja bisa menggerakan harga. (catatan : bagi yang ga paham, karena harga saham ditentukan oleh harga penjualan terakhir. Jadi seandainya ada saham gocap, terus ada pembeli yang ingin memiliki saham itu, sementara yang menjual hanya ada di Rp.1000, maka harga bisa meloncat ke 1000 walau yang terjual hanya 1 lembar).

 

Jangan senang dulu, karena saat anda mau jual untuk take profit, mungkin saja tidak ada yang mau beli.

 

Dampak sistemik ketakutan

 

Satu saham anjlok à investor panik à jual massal à saham lain ikut kena getahnya

 

Bahasa canggihnya, ini disebut liquidity vacuum. Mirip flash crash, tapi lebih lama dan menyebar. Yang paling menderita adalah : Ritel, dana pensiun, asuransi.

 

Dan mungkin yang paling patut dikasihani adalah dana pensiun. Karena mereka kan pensiunan. Kasian dong investasi mereka ga bisa ditarik.

 

Short seller ganas

 

Market macam ini adalah makanan empuk buat para short seller. Cukup buat satu rumor kecil, harga terjun bebas. Inilah ironisnya : pasar bebas tanpa bandar = pasar yang mudah dimanipulasi. Tapi short selling kan dilarang? Iya iyaaa, tapi di dunia ini banyak ilmu sulap untuk menghilangkan jejak.

 

Bursa bisa mati suri

 

Dalam skenario extreme : bursa bisa trading halt berkepanjangan, BEI terpaksa menutup perdagangan, dan kepercayaan publik runtuh.

 

Contoh sejarah versi ringan : kirisis liquiditas 2008 (market nyaris beku)

 

Perusahaan sulit mencari pendanaan alternatif selain pinjaman

 

Ini yang paling sering di remehkan. Banyak orang menganggap pasar modal hanyalah meja kasino raksasa yang layak di haramkan. Yes, tidak salah juga disebut begitu, tapi dia adalah alternatif pendanaan bagi perusahaan-perusahaan, yang mana jika sektor itu tidak berfungsi, yang terjadi adalah :

 

1. Perusahaan akan sulit IPO (siapa yang mau beli kalau ga ada bandarnya? Sekali beli terus ga bisa exit orang bisa kapok)
2. Perusahaan sulit rignt issue
3. Bagi perusahaan-perusahaan yang tidak bisa mengandalkan pinjaman bank karena satu dua hal, masih bisa mengandalkan pasar saham untuk cari modal. Jika ini tidak bisa dilakukan dan perusahaan itu tidak punya liquiditas, maka jalan paling gampang adalah PHK, dan jika terus rugi akan tutup, dan PHK lebih banyak. Negara akan kehilangan pembayar pajak, plus bonus masalah sosial pengangguran.
4. Rupiah akan tertekan karena selain bandar yang melarikan uangnya keluar negri, kemampuan produksi kita untuk dijual ke luar akan mnurun. Kalau tidak bisa menjual keluar, maka yang terjadi adalah hanya konsumsi barang import. Dan kalau import terus tanpa adanya export, bisa kira-kira yang terjadi pada rupiah.
5. Termasuk investor asing akan ikut kabur (yes kemungkinan besar termasuk Morgan Stanley)

 

Ingat : Pasar saham adalah urat nadi kepercayaan bukan sekedar kasino

 

Negara dipaksa turun tangan

 

Kalau bandar hilang, maka tugas liquidity provider mau ga mau jadi tugas negara :

 

1. Menjadi market maker darurat
2. Mengeluarkan dana stabilisasi
3. Melakukan short squeeze untuk mencegah penurunan signifikan
4. Makin banyak melakukan suspend saham-saham

 

Kalau tidak? Pasar kolaps, dan berikutnya adalah krisis politik

 

Summary

 

So, in the end, bandar bukan malaikat, tapi tanpa mereka, market jadi hutan liar. Sekarang bandar saham itu banyak, tapi jika dihancurkan, nantinya berpotensi hanya ada 1 atau 2 bandar yang punya backingan saja yang beroperasi, dan ini sangat bahaya.

 

Itulah sebabnya, penanganan masalah penggoreng saham ini tidak bisa membabi buta dan sembarangan, dan bukan cuma menertibkan, tapi harus bisa menghitung dampak sistemik dari tindakan penertiban itu. Salah-salah kita mau membasmi rayap, malah membakar seluruh rumah. So please, jangan tumpang tindih, mohon percayakan masalah ini ke BI, OJK, dan BEI.

 

Akhir kata, ijinkan saya mengutip quotes dari buku saya :

 

Bukanlah kebaikan tukang daging dan tukang roti yang menyediakan makanan di meja kami

Tapi karena keinginan egois mereka untuk sejahteralah yang menyediakan itu semua

~Adam Smith~

Benar kan? Liat sekeliling kita, kamu pikir ada yang mau kerja gratsian?

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.