ADA satu fenomena yang kian sering muncul di ruang publik digital: seseorang dengan lantang meremehkan sebuah media—menyebutnya kecil, aneh, tidak profesional—namun pada saat yang sama mengetuk pintunya dengan harapan dimuat.
Paradoks ini bukan sekadar soal etika berkomunikasi, melainkan potret psikologi sosial yang lebih dalam tentang kuasa, validasi, dan cara manusia memandang panggung.
Pada permukaannya, sikap ini tampak absurd. Jika sebuah media dianggap tak layak, mengapa menginginkan tempat di sana? Namun justru di situlah letak persoalannya. Media, sekecil apa pun menurut ukuran teknis, tetaplah ruang simbolik. Ia adalah panggung.
Dan panggung—dalam masyarakat yang lapar pengakuan—memiliki daya tarik yang sering kali mengalahkan konsistensi logika. Meremehkan sebagai Strategi, Bukan Penilaian Hinaan sering disamarkan sebagai kritik. Padahal keduanya berbeda secara prinsip. Kritik bertujuan memperbaiki; ia spesifik, berbasis data, dan menawarkan arah. Hinaan bertujuan merendahkan; ia kabur, personal, dan berhenti pada ejekan.
Ketika seseorang menyebut “server kecil” atau “media aneh” tanpa konteks, tanpa usulan, dan tanpa itikad dialog, yang bekerja bukan nalar profesional, melainkan strategi psikologis: menurunkan nilai pihak lain agar posisi diri terasa lebih tinggi.
Strategi ini lazim dipakai oleh mereka yang ingin bernegosiasi dari posisi semu yang unggul. Dengan meremehkan lebih dulu, ia berharap pintu terbuka dari rasa sungkan atau kebutuhan media akan “nama besar”. Ironisnya, strategi ini justru mengungkap ketergantungan: ia butuh panggung itu, meski mengaku membencinya.
Lapar Validasi di Era Panggung
Tanpa Batas Kita hidup di era di mana hampir semua orang bisa menjadi “figur publik” bagi lingkaran kecilnya. Namun banjir panggung justru melahirkan kelaparan validasi. Tidak semua panggung setara; audiens yang relevan, kredibilitas kurasi, dan konteks editorial memberi bobot yang tak bisa digantikan oleh sekadar jumlah pengikut.
Di sinilah kontradiksi mengeras. Seseorang bisa saja memiliki kepercayaan diri tinggi di ruang pribadinya, tetapi tetap mencari legitimasi dari institusi—termasuk media—yang ia anggap lebih rendah. Ini bukan soal logika, melainkan kebutuhan akan cap pengesahan: “aku layak dibicarakan”. Hinaan menjadi tameng bagi kerentanan itu.
Media Bukan Sekadar Infrastruktur Menyederhanakan media menjadi soal server atau teknis adalah kekeliruan kategori. Media adalah ekosistem nilai: etika, kurasi, konteks, dan tanggung jawab pada pembaca. Infrastruktur penting, tetapi bukan inti.
Banyak media berpengaruh lahir dari keterbatasan, justru karena ketajaman visi dan konsistensi editorial. Ketika seseorang mengabaikan dimensi ini, ia memperlihatkan cara pandang instrumentalis: media diperlakukan sebagai alat semata, bukan mitra dialog. Ia ingin memanfaatkan distribusi tanpa menghormati proses. Padahal kredibilitas media dibangun dari kemampuan berkata “tidak”—terutama pada mereka yang tidak menghargainya.
Kuasa untuk Menolak adalah Etika
Sering kali, tekanan terbesar datang bukan dari kritik yang sehat, melainkan dari tuntutan yang dibungkus penghinaan. Di titik ini, kuasa media untuk menolak menjadi tindakan etis. Menolak bukan berarti anti-kritik; menolak berarti menjaga standar. Media yang menerima penghinaan demi konten sedang menggadaikan martabatnya sendiri. Profesionalisme tidak identik dengan toleransi tanpa batas.
Profesionalisme adalah kejelasan batas: apa yang bisa dinegosiasikan dan apa yang tidak. Kritik diterima, hinaan ditolak. Narasumber dihormati, tetapi rumah editorial juga harus dihormati. Tentang Benci yang Sering Kali Personal Tidak semua penolakan atau ejekan berakar pada penilaian objektif. Sering kali, yang bekerja adalah emosi personal: iri pada kemandirian, tidak nyaman melihat ruang tumbuh di luar kendali, atau frustrasi karena pintu-pintu lain tertutup.
Media independen, khususnya, kerap menjadi sasaran karena ia menolak tunduk pada hierarki lama. Menyadari ini penting agar pengelola media tidak terjebak pada pembuktian yang melelahkan. Tidak semua kebencian perlu dijawab. Tidak semua tuduhan perlu diluruskan. Energi editorial lebih berharga ketika dipakai untuk melayani pembaca. Mengembalikan Makna Kritik Ruang publik membutuhkan kritik yang cerdas dan beradab.
Media membutuhkan masukan untuk tumbuh. Namun kritik kehilangan maknanya ketika dipakai sebagai alat tawar-menawar yang manipulatif. Yang lahir bukan dialog, melainkan kebisingan. Esai ini bukan ajakan untuk anti-kritik, melainkan pengingat: bahasa mencerminkan niat. Jika niatnya membangun, bahasa akan membuka jalan. Jika niatnya menguasai, bahasa akan melukai.
Panggung dan Martabat Pada akhirnya, paradoks penghinaan yang menginginkan panggung mengajarkan satu hal sederhana: martabat tidak bisa dinegosiasikan. Media yang sehat tahu kapan membuka pintu dan kapan menutupnya. Ia tidak silau oleh permintaan, tidak gentar oleh ejekan. Panggung yang layak bukan ditentukan oleh siapa yang paling keras menghina, melainkan oleh siapa yang paling konsisten menjaga nilai. Penghina yang Menginginkan Panggung selaamat berjuang. Dan dalam dunia yang riuh oleh klaim, menjaga nilai adalah bentuk keberanian yang paling sunyi—dan paling penting.***
DWI VERSI INDRAJIT
OLEH JAYA SUPRANA*)
Ternyata bukan hanya Srikandi dan Gatotkaca yang beda versi Mahabharata dengan versi pewayangan Jawa, tetapi Indrajit juga beda versi Ramayana...