JABARSATU.COM — Alih fungsi pagar Monumen Juang (Monju) menjadi tempat jemuran adalah potret kecil dari realitas besar kehidupan kota. Inilah yang terrjadi hari ini (19/1/2026) Pagar yang seharusnya menjaga nilai sejarah dan menjadi batas simbolik ruang publik, hari ini justru dipenuhi celana, kaus, dan kain yang dijemur seadanya.
Pemandangan ini mungkin tampak lucu di mata sebagian orang, namun di baliknya tersimpan cerita tentang kebutuhan, keterbatasan, dan cara masyarakat bertahan hidup. Ruang publik tidak selalu diperlakukan sebagaimana fungsinya dirancang, karena tekanan hidup sering kali memaksa orang mencari solusi paling dekat dan paling mungkin. Monumen dibangun untuk mengenang perjuangan, tetapi kehidupan sehari-hari juga merupakan bentuk perjuangan yang nyata. Ketika hunian sempit, fasilitas terbatas, dan aturan terasa jauh dari realita, pagar monumen pun berubah peran.
Fenomena ini mengingatkan kita bahwa penataan kota bukan hanya soal keindahan dan simbol, melainkan juga tentang keadilan ruang dan keberpihakan pada kebutuhan dasar warganya. Alih-alih sekadar menyalahkan, mungkin ini saatnya bertanya: Apakah kota sudah cukup ramah bagi semua penghuninya? Di antara besi pagar dan pakaian yang tergantung, terselip pesan sunyi tentang kesenjangan, adaptasi, dan ironi kehidupan urban yang terus berjalan tanpa jeda. Mana kang KDM sanga Gubernur Monju tak jauh daru Gedung Sate lohhh…
DWI VERSI INDRAJIT
OLEH JAYA SUPRANA*)
Ternyata bukan hanya Srikandi dan Gatotkaca yang beda versi Mahabharata dengan versi pewayangan Jawa, tetapi Indrajit juga beda versi Ramayana...