Home Bandung Bangkit dengan Santun, Maju dengan Wibawa

Bangkit dengan Santun, Maju dengan Wibawa

243
0
Aendra Medita/ist

Catatan Aendra dari Cilandak: Bangkit dengan Santun, Maju dengan Wibawa

Ada satu kegelisahan yang tak pernah padam dalam hati saya setiap kali memandang Indonesia dari sudut-sudut kecil kehidupan di Jakarta. Dari Cilandak, sebuah kawasan yang hiruk-pikuknya tak kalah dari pusat kota, saya melihat potret bangsa yang sebenarnya: wajah-wajah penuh harapan, senyum anak sekolah yang berlari di gang sempit, pedagang kecil yang tak pernah kehilangan semangat, hingga generasi muda yang bercita-cita menembus batas dunia.

Namun, di balik optimisme itu, ada pula kenyataan pahit: drama politik yang tiada henti, pertarungan kepentingan yang seolah lebih besar daripada kepentingan rakyat, serta kebisingan yang membuat kita lupa tujuan besar: membangun Indonesia yang bermartabat, disegani, dan menjadi mercusuar dunia.

Hari ini saya ingin mengajak kita semua berhenti sejenak dari riuh rendah itu. Mari kita kembali ke esensi: bangsa besar ini hanya bisa bangkit bila bersatu, hanya bisa maju bila santun, dan hanya bisa berwibawa bila tegak dengan karya.

1. Indonesia, Negeri dengan Potensi Tak Terbantahkan

Kita sering lupa bahwa Indonesia adalah rumah bagi 280 juta jiwa, terdiri dari ratusan suku, bahasa, dan budaya. Kita juga memiliki sumber daya alam yang luar biasa, dari laut yang luas hingga hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia. Bahkan, dunia internasional tahu bahwa tanpa Indonesia, isu perubahan iklim tidak akan pernah bisa diselesaikan.

Namun, apa artinya semua kekayaan itu bila kita terjebak dalam drama politik tanpa akhir? Apa gunanya potensi yang begitu melimpah bila kita sibuk bertikai satu sama lain?

Kita harus berani mengubah cara pandang. Bangsa besar tidak akan pernah maju bila energi kolektifnya habis untuk saling menjatuhkan. Bangsa besar hanya akan bangkit bila energinya diarahkan untuk meninju dunia dengan prestasi, bukan untuk menghabiskan waktu dengan adu kata tanpa karya.

2. Santun sebagai Jalan Peradaban

Bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Kita memiliki ilmuwan, seniman, cendekiawan, teknokrat, dan budayawan yang diakui dunia. Yang sering kurang justru adalah kesantunan dalam cara kita berpolitik, berdiskusi, bahkan dalam membangun perbedaan pendapat.

Santun bukan berarti lemah. Santun adalah kekuatan. Dengan santun, kita mampu merangkul semua golongan, mendengarkan dengan hati, sekaligus menegaskan kebenaran dengan bijak.

Bila Indonesia ingin menjadi bangsa yang berwibawa, kita harus memulai dari hal sederhana: menghormati satu sama lain, memuliakan dialog, dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman.

3. Wibawa Lahir dari Ketegasan dan Konsistensi

Wibawa bangsa tidak lahir dari slogan, melainkan dari konsistensi. Dunia akan menaruh hormat pada Indonesia bila kita konsisten menegakkan hukum, konsisten melawan korupsi, konsisten menjaga keadilan, dan konsisten merawat demokrasi.

Kita tidak bisa berharap dunia menaruh respek bila kita sendiri membiarkan hukum tumpul, birokrasi berbelit, atau korupsi dibiarkan merajalela. Wibawa lahir dari ketegasan: berani mengatakan benar itu benar, salah itu salah.

Inilah pekerjaan rumah terbesar kita sebagai bangsa: menjadikan hukum tajam ke atas, tajam pula ke bawah. Ketika keadilan benar-benar hadir tanpa pandang bulu, saat itulah Indonesia berdiri tegak dengan wibawa.

4. Meninju Dunia dengan Karya

Dunia tidak menunggu kita. Sementara kita sibuk dengan drama politik, bangsa-bangsa lain bergerak cepat. Mereka membangun teknologi, memperkuat pendidikan, menciptakan inovasi, dan menguasai pasar global.

Indonesia tidak boleh hanya jadi penonton. Kita harus berani masuk gelanggang global dengan karya. Generasi muda kita sudah membuktikan: startup teknologi, film-film Indonesia yang mendunia, atlet-atlet yang mengharumkan nama bangsa, hingga seniman yang mengisi panggung internasional.

Itulah “tinju” yang sesungguhnya: bukan tinju dengan amarah, melainkan tinju dengan prestasi. Dunia akan menoleh pada Indonesia bila kita hadir dengan sesuatu yang nyata, bukan sekadar retorika.

5. Dari Cilandak untuk Indonesia

Cilandak hanyalah satu titik kecil di peta besar Indonesia. Tetapi dari titik kecil inilah saya melihat gambaran besar bangsa ini. Saya melihat semangat tukang ojek yang tetap berangkat kerja meski hujan deras, pedagang kaki lima yang tidak menyerah meski harga-harga melonjak, dan anak-anak muda yang penuh ide kreatif di kafe-kafe sederhana.

Mereka adalah wajah asli Indonesia: pekerja keras, tahan banting, penuh harapan. Mereka yang harusnya menjadi inspirasi kita semua.

Jika rakyat kecil saja bisa bertahan dengan semangat, mengapa para pemimpin kita sibuk mempertontonkan drama? Jika masyarakat di bawah terus bekerja dengan tulus, mengapa elite politik tidak bisa mencontohnya?

6. Bangkit dengan Persatuan

Tidak ada bangsa besar yang bisa bangkit tanpa persatuan. Kita bisa berbeda pendapat, berbeda pilihan politik, berbeda keyakinan, tapi jangan sampai kita kehilangan persaudaraan.

Indonesia sudah terlalu sering belajar dari sejarah. Perpecahan hanya melemahkan, sementara persatuan selalu membawa kita pada kemenangan. Lihatlah bagaimana kita bisa merdeka karena persatuan. Lihatlah bagaimana kita bisa mengalahkan krisis ekonomi 1998 karena persatuan rakyat yang teguh.

Kini, saat dunia menatap ke depan, kita pun harus kembali bersatu. Persatuan bukan berarti seragam, melainkan harmoni dalam perbedaan.

7. Menatap Masa Depan dengan Wibawa

Bangkitnya Indonesia bukan sekadar soal ekonomi, melainkan juga soal moral. Dunia tidak hanya menilai angka pertumbuhan, tetapi juga melihat integritas bangsa.

Kita ingin dunia melihat Indonesia bukan hanya sebagai negara besar, tapi sebagai bangsa yang bermartabat. Bangsa yang mampu memimpin dengan santun, berdiri dengan wibawa, dan memberi inspirasi bagi dunia.

Penutup

Dari Cilandak, saya menulis catatan ini dengan harapan sederhana namun mendalam: hentikan drama yang merusak negeri. Mari kita bangun bangsa ini dengan santun dan wibawa.

Bangkitlah Indonesia! Jadikan dunia melihat kita sebagai bangsa yang kuat bukan karena gaduhnya politik, melainkan karena kokohnya karya. Mari meninju dunia dengan prestasi, dengan kesantunan, dengan persatuan, dan dengan keberanian untuk terus berdiri tegak.

Indonesia bisa. Indonesia harus. Dan Indonesia pasti bangkit.

 

AENDRA MEDITA, Jurnalis, dan analis Pusat Kajian Komunikasi Politik Indonesia (PKKPI) & Jala Bhumi Kultura (JBK).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.