Home Bandung MELAWAN PENGUASA LICIK TIDAK BOLEH ADA NEGOSIASI DAN KOMPROMI

MELAWAN PENGUASA LICIK TIDAK BOLEH ADA NEGOSIASI DAN KOMPROMI

26
0

MELAWAN PENGUASA LICIK TIDAK BOLEH ADA NEGOSIASI DAN KOMPROMI

Sutoyo Abadi

Qui desiderat pacem, praeparet bellum ( barang siapa menginginkan perdamaian, ia harus siap perang
Banyak orang berpendapat bahwa konflik dengan penguasa licik, jangan dilawan dengan kekerasan tapi dengan kompromi, negosiasi dan kebaikan. Pendapat ini sama sekali tidak masuk akal, sama saja dengan menghalangi mengatasi manusia licik dengan penderitaan. Penguasa licik akan lebih agresif, sadis dan kejam  melakukan apa saja dengan kekerasan tidak peduli rasa kemanusiaan, memanusiakan manusia sebagai manusia.

Menyerah, tidak siap membela diri dan melawan terhadap tipe orang seperti ini adalah kehancuran. Manusia pengecut  kalau  terpaksa menyerah dengan manusia licik dan biadab. Menghindari konflik di hadapan serigala semacam ini justru merupakan sumber tragedi dan bencana penderitaan berkepanjangan.

Penampilan lembut Jokowi, basa basi dipermukaan tampak damai persis di bawah permukaan tersebut sifat kejam, sadis dan tidak peduli dengan penderitaan orang lain ( rakyaknya ).
Program “Nasional Srategis  Nasional ( PSN )” terus merampas tanah rakyat, mengusir penghuni dan memaksa harus keluar dengan paksa dari tempat tinggalnya adalah kebiadaban. Rakyat tak berdaya melawan dan harus menanggung rasa pedih dengan luka menganga .

Mustahil ada kesejahteraan, kedamaian, kebersamaan, kesetaraan, kebaikan hidup yang manusiawi, sebelum penguasa licik dan biadab harus lawan, di perangi, di musnahkan  dengan kekuatan perlawanan rakyat semesta.
Rakyat harus bisa keluar dari penindasan  bangsanya sendiri yang licik, sadis dan biadab. Rakyat harus mendapatkan pelatihan menjadi pejuang strategis , mengelola situasi sulit melalui manuver perlawanan yang meras, cerdik dan cerdas.

Banyak psikolog dan sosiolog berpendapat bahwa melalui konflik masalah sering kali terpecahkan dan kebiadaban bisa dihentikan.

Apapun alasannya pemimpin pergerakan menghindari konflik dengan berbagai alasan adalah sifat pengecut akan memperparah keadaan dan penderitaan.
Hindari pemimpin pengecut yang menghindari konflik dengan penguasa licik, biadab dengan berbagai alasan , bahkan mengarahkan kompromi, negosiasi dan damai dengan luka menganga adalah pemimpin buruk, lemah dan pengecut.  Dia akan selalu menebar ketakutan yang datang dari dirinya sendiri dan membesar besarkan musuh dari sikapnya yang pengecut dan penakut.

Tidak ada kompromi, negosiasi dan perdamaian dengan penguasa licik, termasuk dengan Jokowi yang sudah di ambang kehancurannya.
Bahwa : Pejuang sejati, diri sendiri adalah kekuatan maha dahsyat untuk melawan dan menerjang, namun bagi seorang penakut dan pengecut dirinya sendiri adalah  musuh  yang mematikan.

9/6/2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.