Home JabarKini Budayawan Minta Pemkot Cimahi Tulis Nama Jalan Pakai Aksara Sunda Buhun

Budayawan Minta Pemkot Cimahi Tulis Nama Jalan Pakai Aksara Sunda Buhun

162
0
JABATSATU.COM — Komite Literasi, Bahasa, Sastra dan Tradisi Lisan Dewan Kebudayaan Kota Cimahi (Libastri DKKC) gelar Peringatan Hari Aksara Internasional 2022. Kegiatan yang bertajuk Tolkshow Peranan Aksara Daerah Pada Masa Kini dan Lomba Menulis Aksara Buhun ini di selanggarakan, 1 Oktober 2022 di Pendopo DPRD Kota Cimahi.
Ketua Komite Libastri DKKC, Hendra Gunawan mengatakan, peringatan Hari Aksara Internasional merupakan program tahunan DKKC dalam upaya meningkatkan pemahaman terhadap pentingnya literasi bagi pemajuan kebudayaan dan Kota Cimahi. Kesempatan ini kali DKKC melakukan diskusi ringan bersama budayawan dan tokoh pendidikan Kota Cimahi Yahya Ganda, Mang Ujang Laip, dan Dahi Juandi.
Selain diskusi digelar pula lomba menulis aksara Sunda Buhun dengan peserta para pelajar SMP se Kota Cimahi, dan pertunjukan seni dengan menghadirkan Jenaka Sunda (Gentra Karamat), Monolog (Achmad Safei), Beluk (Kasepuhan Bunisari), Pencak Silat (Komite Pencak Silat DKKC) , tari dan musik (Komite Musik DKKC).
“Pada saat ini permasalahan tentang keaksaraan di Kota Cimahi tidak lagi memberantas buta huruf. Persoalan baca tulis tingkat dasar sudah selesai. Tapi saat ini kita harus mendorong masyarakat kota melek literasi sains, literasi digital, literasi finansial, literasi budaya dan kewargaan,” ujar Hendra di Pendopo DPRD Kota Cimahi, Sabtu (1/10/2022).
Lebih khusus Komite Libastri DKKC mendorong masyarakat Kota Cimahi agar melek literasi budaya terutama budaya daerah.”Kami ingin mengajak masyarakat tahu dan mau belajar aksara Sunda buhun (kuno) sebagai warisan budaya leluhur kita yang saat ini sudah tidak dikenal, dilupakan, digunakan dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari,”ungkap Ki Sastro, panggilan akrab Hendra Gunawan.
Senada dengan Ki Sastro, Yahya Ganda diluar diskusi menyampaikan bahwa sudah saatnya pemerintah Kota Cimahi memperhatikan pemajuan kebudayaan dengan membuat langkah-langkah strategi sebagai upaya mewujudkan UUD 1945 pasal 32 dan Undan-Undang No.5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
“Jangan sampai pemeritah Kota Cimahi dan anggota DPRDnya ketika ditanya mau dibawa kemana aksara Sunda, berdiam diri tidak bisa menjawab.Padahal jelas undang-undang pemajuan budaya dan Perda Kota Cimahi tentang pemajuan budaya lokal sudah mengamanatkan,” jelasnya.
Menurutnya, pemahaman anggota DPRD dan Pemerintah Kota Cimahi terhadap literasi budaya dan tentang pemajuan kebudayaan daerah masih minim, sehingga ada pertanyaan sepele pun merasa kesulitan menjawabnya.
“Meski demikian saya masih besar harapan budaya daerah Kota Cimahi bisa lebih maju, dengan syarat pemerintah termasuk DPRDnya memiliki rasa kepedulian untuk menjalankan amanat UUD 1945, undang-undang pemajuan budaya dan Perda,” kata Yahya.
Disisi lain Mang Ujang Laip menyatakan, bahwa budaya Indonesia terutama di perkotaan tersisihkan oleh budaya asing.Anak-anak muda kita lebih bangga menggeluti kebudayaan Korea dan melupakan budaya daerah karena lemahnya pendidikan kebudayaan.
“Jepang, Korea, Cina, India dan beberapa negara di dunia sangat bangga dengan aksara kunonya. Aksara menjadi bagian kehidupan mereka di segala bidang. Di kita aksara daerah (kuno) tidak jadi apa-apa. Jangankan dipelajari lebih mendalam, dimanfaatkan untuk nama jalan saja tidak.
Dalam aksara Sunda Mang Ujang Laip berharap agar pemerintah kota mengupayakan nama-nama jalan di Kota Cimahi selain aksara latin juga disertakan aksara Sunda di bawahnya sebagaimana telah dilakukan di beberapa daerah di Jawa Barat dan Provinsi lain.
Agar generasi muda kita lebih mengenal budayanya, lebih khusus mengenal aksara daerah.Mang Ujang juga meminta Dinas Pendidikan Kota Cimahi lebih berperan dan mendorong sekolah-sekolah terutama Sekolah Dasar dan Menengah Pertama agar menyediakan waktu bagi peserta didik belajar aksara daerah.
“Saya ingin di masa mendatang aksara daerah yang lebih dikenal oleh masyarakat, juga dari Cimahi muncul para ilmuwan yang dapat mengkaji tentang sejarah dan segala sesuatu yang terdapat dalam naskah-naskah kuno. Atau  ketika anak-anak kita berkunjung ke museum tidak selfie, tapi bisa membaca apa yang terkandung di dalamnya,” pungkasnya.**(JBS)
Previous articleIA – ITB Jawa Barat Gelar Rapat Kerja Daerah di Garut 1-2 Oktober 2022
Next article“Fair Play” Berlaku, Copot atau Mundur?!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.