Home Bandung Bezie Galih Manggala: Apakah Paguyuban Pasundan Berbudaya Literasi?

Bezie Galih Manggala: Apakah Paguyuban Pasundan Berbudaya Literasi?

110
0

Ada apa dengan Paguyuban Pasundan? Diduga bahwa para Inohong ini memang tidak membaca isi Maklumat Sunda. Nah Loh….!!!

JABARSATU.COM – Menanggapi respon Paguyuban Pasundan yang merilis 6 poin pernyataan sikap dalam menanggapi munculnya Maklumat Sunda, tokoh muda pegiat pemberdayaan Desa, Bezie Galih Manggala, mempertanyakan budaya literasi segelintir tokoh inohong sunda yang menamakan diri mereka “Paguyuban Pasundan”.

Pria yang akrab dipanggil A Bezie ini, mempertanyakan kemampuan para inohong tersebut untuk membaca dan memahami sebuah kejadian, serta menduga bahwa pernyataan sikap paguyuban pasundan, tidak didasari dengan riset yang benar.

“Sangat disayangkan sekali, padahal diantara para inohong tersebut, ada seorang Wakil Rakyat, Akademisi dan juga seorang Gubernur, tapi pernyataannya sama sekali tidak nyambung dengan tujuan-tujuan maklumat sunda, seolah dibuat terburu-buru, dan tidak berdasarkan itikad untuk merespon secara rasional,”ujar Bezzie dalam pernyataannya, Sabtu, 5 Februari 2022.

“Contohnya, pada pernyataan poin nomor 1 saja, sudah muncul statement yang menurut Bezie tidak nyambung dan tidak bisa dipahami oleh orang-orang yang memahami betul tujuan dari disampaikannya maklumat sunda tersebut,” kutip Bezie.

Dalam hal ini Bezie juga mengatakan, “Bukankah Maklumat Sunda diselenggarakan dengan terlebih dahulu disebarkannya undangan terbuka terhadap siapapun yang memiliki kepedulian terhadap masyarakat Sunda? Acara ini dihadiri oleh banyak ormas dan LSM serta tokoh-tokoh yang datang jauh-jauh dari berbagai pelosok tatar sunda, hanya berbekal poster diselenggarakannya acara maklumat sunda, misalnya tokoh maenpo dari cianjur, ormas-ormas dari Bandung, tokoh-tokoh adat kabuyutan. Gerpis sepertinya telah jauh sekali melampaui pemahaman bahwa “kita memerlukan adanya silaturahmi tokoh-tokoh Sunda”, GERPIS mengundang semua elemen bangsa Sunda untuk rempugan dalam menentukan nasib bangsa sunda!,” beber Bezie.

Lagipula dalam naskah Maklumat Sunda, tidak ada satupun kata yang menuju pada upaya intoleransi dan disintergasi, Maklumat Sunda menekankan persatuan dan persaudaraan dalam tubuh bangsa Indonesia, apakah para inohong tidak membaca bahwa acara ini juga turut merangkul perwakilan Papua, Kepulauan Riau, Aceh, serta DPD RI yang mewakili keragaman Masyarakat Indonesia Raya? Di mana letak ancaman terhadap toleransinya?

“Poin nomor 2 juga lucu, lanjut Bezie, jika Maklumat Sunda disebut tidak merepresentasikan keseluruhan bangsa sunda, “Kami juga bisa bilang bahwa Paguyuban Pasundan hanya segelintir dari yang mengaku-aku sebagai inohong sunda,” seloroh Bezie.

“Bukan begitu seharusnya cara meresponnya, jika memang benar Anda Inohong, akademisi lah, anda seharusnya mendorong adanya survey minimal, untuk menentukan seberapa representatif kah aspirasi yang digaungkan oleh maklumat sunda,” ungkapnya.

“Merepresentasikan atau tidaknya ini harus didukung oleh data, riset, survey dong, setuju tidak masyarakat dengan 4 poin maklumat Sunda, bukannya malah menyatakan “tidak merepresentasikan” untuk menyatakan seperti itu tidak perlu menjadi wakil rakyat, pejabat atau doktor, anak kecil juga bisa menyimpulkan,”ujarnya.

“Terakhir,” lanjut Bezie, “Ada 4 pernyataan sikap selanjutnya dari Paguyuban Pasundan, membuat Bezie menduga bahwa para inohong ini memang tidak membaca isi maklumat Sunda; masa disebut adanya upaya penggabungan 3 provinsi untuk membentuk provinsi Sunda Raya?

“Ini jelas adalah produk pernyataan yang muncul dari budaya malas membaca,” pungkasnya.

Previous articlePaguyuban Pasundan Gagal Paham Maklumat Sunda di Subang
Next articleResonansi Anies dan Reaksi Oligarki

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.