Home Hukum PAGUYUBAN PASUNDAN vs OTSUS SUNDA RAYA

PAGUYUBAN PASUNDAN vs OTSUS SUNDA RAYA

171
0
Rita Rossie aktivis Perempuan Bandung

JABARSATU.COM – Menarik manakala membaca reaksi para pini sepuh atas Makloemat Sunda yang dilaksanakan pada hari Rabu 2-22-22, di Lapangan Bintang Subang.

Reaksi keras datang dari tokoh yang sama, persis dengan waktu wacana Provinsi Sunda mulai marak di media.

Bahwa wacana itu hanya datang dari segelintir orang yang tidak mempresentasikan seluruh Urang Sunda.
Halu dan tidak logis.. katanya.

Boleh senyum sebentar?
😆😆

Sebelum saya bertanya dan tentu saja tidak berniat “calutak” terhadap para pini sepuh atau inohong di Paguyuban Pasundan.
Apakah Paguyuban Pasundan itu adalah representasi seluruh masyarakat Sunda?

Kalau kita setback sebentar, dimana paguyuban tersebut declare sebagai pendukung salah satu capres,
saya malah jadi heran,.
Kenapa yang didukungnya gak menang ya di Jabar?

Mohon maaf kalau judul tidak sesuai dengan isi,.
Maklum sudah ketularan kalau saat ini jargon seringkali tidak sesuai konten..
Jadi bukan OTSUS SUNDA RAYA yang akan jadi bahasan,.
Karena nanti bisa salah kaprah kalau dibahas sama yang bukan ahlinya,.

Yang jadi stressing poin dalam oret-oretan kali ini adalah reaksi yang mematahkan semangat dan mengecilkan dari seseorang yang katanya tokoh Sunda..( atau tokoh partai penguasa ya?.)

Padahal tentunya beliau tidak boleh lupa,. Bapak proklamator kita, sang orator ulung pernah berkata:
“Beri saya 10 orang pemuda untuk mengguncang dunia”.
Bukan 10 orang aki2 lho..
Maaf.. maaf, boleh bercanda kan?
Sebelum bercanda di anggap makar..😁
Sama sekali tidak berniat untuk tidak hormat atau tidak menghargai para pini sepuh,.
Yang tentu saja sudah banyak makan asam garam serta legok tapak genteng kadek dan tentu saja bisa arif serta bijaksana.

Jadiii..rasanya kurang elok kalau ada seorang tokoh begitu over reactive terhadap sebuah wacana yang katakanlah digadang generasi yang lebih muda dengan sebutan halu dan hanya segelintir orang saja, tanpa mengedapankan dialog atau bertanya terlebih dahulu sebelum memberi statement di media.

Bukankah regenerasi itu perlu?

Karena kita bukan kaum highlander atau immortal yang akan hidup selamanya.
Bukankah estafet kepemimpinan itu perlu karena kita bukan sebuah imperium dimana sang raja berkuasa selama hayat dikandung badan?

Yang perlu juga disampaikan, kami kaum muda butuh ruang terbuka untuk lebih berfikir dan berjiwa merdeka,.

Agar urang Sunda terbebas dari stigma susah ngahiji, pundungan,. Ulah ku batur tapi teu prak ku sorangan.
Mugia seratan ieu teu ngajantenkeun para sepuh reungat galih,.🙏

Kantenan kaluar supata mah..😁
Karena masa depan seharusnya menjadi milik kami dan generasi berikutnya,.
Agar urang Sunda mampu jaya di buana..
Hapunten anu kasuhun..

Cag ah..

Rita Rossie

MWT/050222

Previous articleKetua DKKC, Hermana HMT: Pemkot Cimahi Tidak Asal Realisasikan Perda Pemajuan Budaya
Next articleKerumunan Citylink Ke Mana Satgas Covid-19?!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.