Home Bandung Geliat Pengkaderan, Seni Tradisi Wayang Golek di Tengah Pandemi

Geliat Pengkaderan, Seni Tradisi Wayang Golek di Tengah Pandemi

70
0

JABARSATU.COM – Di suatu lokasi kostan mahasiswa salah satu Institut Seni di Bandung didekat jalan tol, alunan musik pukulan gambang dan saron dari para mahasiswa intitusi seni ini terdengar apik dan rapih menyejukan telinga mengiringi pagi hari menjelang siang, mereka sedang berlatih yang mungkin di amanahi tugas kuliahnya sebagai mahasiswa seni Karawitan.

Langit cerah dan sejuknya pagi masih terasa di kota yang terkenal dengan keindahan bunganya. Hmm betapa nyamannya aku di berdiam diri di lingkungan ini, padahal baru dua hari aku menempati satu ruangan kostan ini, satu hal yang tak terduga menjadi pilihan yang tepat.

Aku jadi teringat puluhan tahun kebelakang pada kawan kawan satu kampus perguruan Tinggi Seni yang sekarang menjadi dosen pengajar di institusi perguruan Tinggi Kesenian tersebut, ada yang namanya Cahya, Lili Suparli, Iip Syarif dll, mereka sosok kawan kawan mahasiswa karawitan yang saat itu terlihat begitu santun dan rendah hati, tak terlihat keangkuhan sebagai calon akademisi seni yang handal, – memang berbeda jurusan dengan aku tapi aku cukup kenal dengan sosok sosok Mahasiswa tersebut, yang sekarang aku tahu mereka menjadi dosen pengajar dari para Mahasiswa yang saat ini sedang berlatih musik tradisi di lingkungan sekitar aku berdiam diri…

Alunan musik tradisi terus mengalun, betul betul mendekati kesempurnaan akan kenyamanan pikiran dan perasaan untuk mengenang masa lalu, ketika aku masih menjadi Mahasiswa beberapa puluh tahun kebelakang di kampus perguruan Tinggi Seni di Kota yang sejuk dan nyaman, kota Bandung.

Angin gunung menerpa pintu kostan aku yang dibuka sebagian, tiupannya diiringi sayup sayup suara lalu lalang mobil di jalan lintas tol. Sudah pasti tak ada suara klakson hanya sedikit gemuruh suara mesin mobil besar, mungkin bis atau truck yang ngangkut beratnya barang barang.

Semua suara yang hadir terasa semakin menguatkan music tradisi yang aku dengar, betapa tradisi memang indah dan menyejukan, beberapa saat kemudian terdengar suara vocal laki laki yang empuk, halus juga jelas dan tajam melantunkan beberapa bait lirik lagu yang mengalun diantara permainan gambang dan saron, aku baru sadar kalo mereka sedang membawakan salah satu musik adegan pewayangan dalam teater tradisi wayang golek. Mantap bisik hati aku.

Sambil berpura pura memperbaiki motor tua yang aku punya, aku mencoba menguping kumpulan pemuda yang sedang melakukan kegiatan latihan seni pertunjukan tradisi wayang golek…

Pintu kost-an tempat mereka kumpul terbuka lebar, dari balik jari jari motor tua itu aku mencoba mengintip kegiatan mereka, ternyata ada 6 orang yang kumpul di ruangan tersebut. Sebagian dinding ruangan tersebut berjajar boneka boneka wayang golek, warna warnanya yang mencolok ciri khas visual boneka kayu wayang golek membuat suasana ruangan tersebut menjadi semarak.

Gaos namanya terlihat lebih senior sedang memainkan sosok wayang tokoh Rahwana, suaranya yang jelas dan halus dengan permainan gerak wayangnya terlihat begitu atraktif, suatu komposisi yang terlihat begitu terlatih cukup matang, kemudian Bima namanya sedang memainkan perankat music tradisi Gambang, permainan gambangnya yang apik dan halus mengiringi lantunan lagu ceurik Rahwana yang sedang di mainkan dan dilantunkan oleh Gaos, sesekali suara Bima muncul sebagai alok dalam pola pertunjuikan ini.

Proses kegiatan tersebut di apresiassi oleh empat orang lainnya yang terlihat masih begitu belia, diantaranya ada Davi kemudian Yana, Jojo dan Noval mereka adalah siswa2 pedalangan SMK 10 Bandung, dengan latar belakang yang berbeda beda, mereka terlihat antusias melihat seniornya sedang melakukan kegiatan tersebut.

Gaos dan Bima adalah Mahasiswa ISBI dengan latar belakang yang sama dari SMK 10 Bandung jurusan Pedalangan, mereka berdua secara alamiah menjadi salah satu sosok sosok pengkader budaya tradisi Pertunjukan wayang golek yang ada di Jawa Barat, sejenak aku merasa takjub dengan proses pengkaderan budaya yang sedang berlangsung di depan mata ini, ada semangat yang menggelora dari raut wajah mereka bahwa budaya seni pertunjukan tradisi yang sedang mereka geluti saat ini adalah aura kejujuran kreatifitas seni budaya yang sebetulnya milik rasa dan pikirannya.

Mengharukan juga karena oleh sebagian aparat pemerintah kalau seni pertunjukan yang betul betul mempunyai ciri keaslian prilaku budaya ini seperti dianggap hanya sebagai kegiatan ceremonial untuk acara acara formalistic belaka. Apa lagi dalam kondisi saat ini wabah covid 19 sedang sedang bergaung dengan berbagai dampaknya terutama berbagai pembatasan kegiatan disemua wilayah aktifitas masyarakat termasuk seni pertunjukan pedalangan ini.

Namun Alhamdulillah sebagian dari para pupuhu akademisi seni Pertunjukan tetap fokus memberikan support dan inputan positif bagi para penggiat seni pertunjukan tradisi ini, seperti yang dilakukan oleh sosok rektor ISBI Ibu Prof Een Herdiani dalam acara CSR INDONESIA AWARD 2021, beliau memberikan pemaparan dengan contoh-contoh yang real, bagaimana para creator seni pertunjukan untuk tetap aktif melakukan berbagai proses kegiatannya dengan memfaatkan fasilitas virtual yang menjadi media paling menguasai kondisi masyarakat saat ini.

Langit diatas ubun ubun, birunya cerah dan ceria tak tersirat adanya kegelisahan manusia dengan adanya masalah isu Pandemi Covid 19, yang sedang menghimpit semua gerak langkah hidupnya, sepintas tercium aroma sedap goreng ikan asin , baunya membuat keroncongan perut dipagi menjelang siang ini. Ruangan Kost an masih terdengar hidup, terdengar mereka sedang berdiskusi berbagai hal yang berhubungan dengan wayang dan perkembangannya.

Gaos dan Bima terlihat begitu semangat memberikan wawasan pengetahuan tentang wayang kepada juniornya Davi, Uana, Jojo dan Noval.

Davi yang usia yang masih remaja dengan latar belakangnya dari daerah Garut, dia tidak mempunyai trah keturunan keluarganya berdarah seni, dia betul betul terbentuk oleh kemauannya sendiri untuk masuk dalam wilayah kegiatan dunia pedalangan yang dia geluti di sekolahnya (SMK 10 Bandung), begitu juga dengan Yana yang berasal dari lembang, Jojo dari Bandung dan Noval dari Sumedang, mereka semua betul betul hadir dalam dunia seni pedalangan ini karena kemauan sendiri tidak mempunyai trah keturunan seni dari keluarganya, tidak seperti mbahnya pedalangan Abah Sunarya , hampir semua keturunannya mempunyai aktivitas yang hampir sama dengan nenek moyangnya sebagai dalang.

Gaos dan Bima pun berlatar belakang yang sama seperti juniornya. Mereka termotivasi dan memotivasi dirinya sendiri untuk terjun dalam kancah kegiatan pedalangan hingga saat ini,

Gaos dan Bima terlihat begitu antusias memberikan wawasan kepada juniornya tentang wayang dan berbagai perangkat pendukungnya.

Musim kemarau saat ini cukup panjang disertai Aura mencekam Pandemi covid 19 yang tak jelas kapan akan berakhirnya, tapi semua tak menyurutkan dialog dan diskusi para pemuda remaja dalam ruang kamar kost an itu yang berjuang menegakkan budaya identitasnya yang berhadapan dengan arus peradaban budaya asing yang meladanda deras bagai air bah menggenangi kehidupan lingkungan masyarakatnya

Wabah Covid 19 ini memang sangat membingungkan masyarakat negeri ini, ini pun menjadi salah satu tema pembicaraan mereka, Gaos berkata kepada Bima, “Sebetulnya kita tidak butuh bansos terdampak covid 19, apalagi penyalurannya sangat membingungkan dan menyakitkan sebagaian besar penggarap seni, Gubernur kita itu aneh, tiba tiba menurunkan bantuan Sembako dan uang hanya untuk 399 orang, melalui sosok yang menurut beliau berkompeten. Dan kita hanya mendengarnya saja, tanpa tahu kemana bantuan itu di salurkannya, bahkan bantuan itu menurut informasi di berikan bukan pada haknya, padahal menurut informasi bentuan itu di peruntukan bagi para penggiat kesenian.

“Terus apa yang kita harapkan dari pemerintah itu A Gaos?” Bima bertanya sambil memandang pada juniornya.

“Yang kita butuhkan itu pemerintah memfasilitasi kegiatan kita untuk tetap professional sebagai penggarap seni pertunjukan wayang, kalau Cuma sembako isinya mie instan dkk, lah gimana kelanjutannya,” jawab Gaos sambil mengelus boneka wayang gatot kacanya.

“Yang tercatat resmi sebagai dalang muda di Jawa Barat saja ada sekitar tujuh ratus orang belum dalang yang sudah tua dan dalang cilik… ini ada bantuan 399 paket buat semua seniman… Bagaimana itu,” Gaos menambahkan pembicaraannya, ada senyum pahit tersirat di bibirnya.

Siang semakin terik, matahari diatas ubun ubun menyengat tajam kesekujur tubuh, panasnya memuaikan cairan keringat yang mengucur membasahi tubuh yang gerah dibalik baju hitam yang aku pakai, motor tuaku lumayan mengkilap di lap iseng sambil mengintip dan mendengarkan kegiatan dialog diskusi seni budaya di asrama kost an siswa dan mahasiswa yang bergelut dalam kancah seni budaya pertunjukan ini.

Suara adzan berkumandang dari salah satu masjid, pembicaraan diruangan kost an itu berhenti beberapam saat.
Selesai adzan

“Ingat Davi, Yana, Noval, kamu juga Jojo, Wayang itu muncul di negeri ini, di awali dengan datangnya peradaban Islam di Nusantara yang di kemas oleh 9 wali yang ada di tanah Jawa. Sebelumnya tidak ada wayang… Ayo kita sholat dhuhur dulu” Bima bicara sambil berdiri dan mengajak juniornya untuk sholat dhuhur

Akupun beranjak meninggalkan motor tuaku, untuk ngambil wudhu, Sepintas aku melirikk kearah mereka yang tersenyum kearahku, satun dan ramah seperti carakter kearifan tradisi yang memang begitu biasanya.

Bandung Agustus 2021

CECEP A HIDAYAT

Previous articleBelenggu Demokrasi, Bukalah!
Next articleUchok Bertanya ke Pratikno, Berapa Anggaran Ngecat Pesawat Kepresidenan, Rp2,1 atau Rp45 Miliar?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.