Home Bandung LPPM ISBI BANDUNG DAN MAGNA PENTA PALEMBANG MENGEMBANGKAN KOLABORASI RISET MULTIDISIPLIN

LPPM ISBI BANDUNG DAN MAGNA PENTA PALEMBANG MENGEMBANGKAN KOLABORASI RISET MULTIDISIPLIN

221
0

JABARSATU.COM – Kolaborasi riset multidisiplin bersama dunia industri (DUDI) menjadi salah satu strategi bagi perguruan tinggi untuk meningkatkan dampak hasil penelitian. Hal ini dilakukan oleh LPPM Institut Seni Budaya Indonesia Bandung yang diwakili oleh Dr. Wanda Listiani, M.Ds dalam diskusi pengembangan penelitian multidisiplin bersama Founder Magna Penta Palembang sekaligus Ketua SEJIWA HIMPSI, Anrilia Ema N. M, Ph.D di kantornya yang terletak di Jl. Sudirman, Palembang.

Menurut Anrilia Ema N.M, Ph.D, “Kolaborasi penelitian seni dan psikologi ini menjadi penting di masa pandemi saat ini. Banyak kasus kesehatan mental misalnya membutuhkan keterlibatan seni dalam proses penyembuhan dan terapi pasien”.

Hal ini juga ditegaskan oleh Agus Cahyana, M.Sn sebagai Dosen Psikologi Seni dan Kurator Seni dari ISBI Bandung bahwa, “seni rupa seperti lukisan, drawing, kriya seni dan seni pertunjukan lainnya musik, teater, seni tari dapat menjadi salah satu terapi sekaligus karya seni yang bernilai estetika tinggi”.

Dr. Wanda Listiani sebagai Ketua Tim Peneliti Joint Research di Art Research Center, Ritsumeikan University Kyoto Japan sekaligus Ketua Peneliti Tim KRUPT Konsorsium Seni Kemendikbudristek Republik Indonesia menyampaikan bahwa, “Penelitian terkait kesehatan mental, kreativitas dan seni menjadi bagian dari prioritas riset kami. Luaran dari penelitian kolaborasi ini diharapkan dapat dipublikasikan dalam jurnal ilmiah bereputasi internasional”. Lanjutnya, “Seni visual dapat mengurangi tingkat depresi dan kecemasan, meningkatkan kepercayaan diri serta mendorong pelaku seni untuk terlibat dalam kegiatan sosial yang lebih luas di masa pandemi melalui karya seni berbasis praktik”.

 Dr. Wanda Listiani, M.Ds bersama Agus Cahyana, M.Sn dan Nani Sriwardani, M.Ds di Museum Sriwijaya Palembang

Nani Sriwardani, M.Ds, Kepala Pusat Publikasi Ilmiah dan HKI yang sekaligus Arsitek serta Dosen di ISBI Bandung mengatakan bahwa, “Seni visual pun menjadi ruang yang aman dan nyaman untuk intervensi serta bisa menjadi ruang negosiasi identitas bagi mahasiswa yang mengalami gangguan kesehatan mental selama proses pembelajaran jarak jauh. Semoga kondisi normal baru ini dapat menstimulan mahasiswa untuk semakin kreatif dan solutif dalam memecahkan masalah dalam masyarakat di mana mereka tinggal”, tambahnya disela kunjungannya di Museum Sriwijaya Palembang (Asep/RedJBS)***

Previous articlePilih mana : AL QURAN atau PANCASILA? BERAGAMA atau TIDAK BERAGAMA?
Next articleJANGAN LUPAKAN PIAGAM JAKARTA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.