Home Hukum Berpikir Sebagai Pembunuh

Berpikir Sebagai Pembunuh

438
0
Gan Gan praktisi hukum, pencinta kopi dan puisi./ist

Oleh Gan-Gan R.A *)

The Silence of The Lambs, sebuah film lawas tapi begitu membekas dalam pikiran saya, bercerita tentang investigasi agen FBI Clarice Starling yang diperankan aktris Jodie Foster yang sedang membongkar dalang pembunuh berantai. Alur cerita dalam film ini dililit misteri yang membuat penonton larut ikut hanyut berpikir dengan mengikuti pengucapan kontra verbal ditaburi intrik psikologis dalam frame narasi hukum pidana tanpa terjebak teks hukum yang normatif & baku.

Misi utama dalam investigasi yang diemban agen FBI Starling pada akhirnya berhasil dibengkokan oleh kepiawaian tokoh utama dalam film ini Hannibal Lecter, narapidana yang lebih cerdas dari agen FBI.

Akrobatik logika, design opini dan ekspektasi tak terduga, ketajaman analisa serta argumentasi yang rasional justru lebih mendominasi dibanding agen FBI Starling, karena Hannibal memiliki kekuatan pikiran di atas pikiran manusia normal, alam pikiran abstraksi seorang psikopat akut tapi genius,jam tebang eksplorasi yang tinggi dan penjelajah literatur ilmiah dengan retorika berkelas
yang memukau lawan bicara.

Hannibal Lecter tidak memberi ruang jeda sedikit pun kepada pihak lawan
yang tengah menggali informasi. Hannibal terus-menerus menggiring arus bawah pihak lawan agar tunduk pada pikirannya yang eksploratif, bertamasya ke alam imajinasi liar bahwa membunuh manusia bukan semata kejahatan, tapi naluri alami yang diwariskan kehidupan dan harus dilakukan dengan rasa keindahan yang menggelegak, hingga membuatnya dahaga untuk melakukannya lagi,
kenikmatan pembunuh berantai.

Hannibal Lecter lebih dari seorang pelaku pembunuhan berencana yang banyak memakan korban, diajuga tak ubahnya seorang master kriminolog yang tengah menjalani hukuman penjara seumur hidup atas
sebuah kesalahan bereksperimen, melakukan perbuatan tindak pidana yang mengerikan, membunuh manusia dengan “perasaan indah”.

Film ini dikemas lewat dialog2 cerdas dan adegan demi adegan dramatis yang mengaduk-aduk emosi. Semiotika visual dihadirkan bukan oleh optik kamera, tetapi oleh kualitas akting yang luar biasa, aktor kawakan Anthony Hopkins, episentrum dalam film bergenre Thriller ini.

Buat praktisi hukum, film ini sangat penting untuk diapresiasi kembali dalam perspektif hukum pidana kontemporer dengan melakukan reinterpretasi atas sebuah perbuatan tindak pidana yang sadis & menistakan kemanusiaan, “Cara terbaik memahami motif seorang pembunuh adalah dengan berpikir sebagai seorang pembunuh. ” Kalimat tersebut pernah saya ucapkan dalam sebuah forum resmi dihadapan seorang pakar ilmu hukum pidana.

Seorang pengacara harus lebih tajam pikirannya dari senjata lawan dalam berperkara, dan untuk itu dia harus menguasai seni berperang dengan berpikir antagonis: menemukan yang tersembunyi pada subjek hukum dalam motif perbuatan tindak pidana dan menggunakan senjata lawan untuk mematahkan alibi dan pledoi.

Tangerang, 29 Agustus 2020

*Seorang praktisi hukum, pencinta kopi dan puisi.

  • LABEL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.