Home Dunia Mohamad Sunjaya, Aktor Teater Tiga Zaman Sakit, Seniman Galang Kepedulian

Mohamad Sunjaya, Aktor Teater Tiga Zaman Sakit, Seniman Galang Kepedulian

14
0
Aktor Super Senior Mohamad Sunjaya... Kini 82 thn sedang sakit kita doakan kesembuhannya./FTHL

Seorang kawan yang juga sutradara muda Teater Neo menulis rasa kepedulian terhadap Pa Yoyon (Mohamad Sunjaya) aktor Tetaer tiga zaman. Tulisan itu saya terima dari saluran Whatsapp (WA) 11:19, 11/10/2019

Isi tulisan Fathul A. Husein sang sutradara itu sebagai berikut:

Pa Yoyon (Moh Sunjaya) dari hari ke hari nampak makin berat kondisinya… Beliau nampak sangat gembira kl ada yg datang berkunjung, maklum sendirian, hnya ditemani oleh Pa Uwal n istrinya (org sangat baik n tulus yg sdh sangat lama mnyertai klrga almrhm Bp. Yogie S.M., kini mnyertai Pa Yoyon)…

Sejujurnya, sy makin ga tega lht kondisi Pa Yoyon, sangat mengharukan… Sepi… Sendiri… Dalam 2-3 bulan trakhir ini, tak bs dicegah, terus menyalakn batang2 lilin di mlm hr… Beliau bilang teringat lintasan2 penampilannya di atas panggung teater selama puluhan thn… “Malam kmrn ‘Thul, rasanya sy berperan sbg Tuhan di antara lilin2 ini… “, cetus beliau dg menahan sesak di dada n mata berkaca2… Tetaplah gagah guru n seniorku, Mohamad Sunjaya… Ya Allah…

WA pertama ini menggagetkan saya, dimana Kang Yoyon sempat bulan lalu dia telepon saya, dan cuma bertanya, bagaiaman anak istrimu sehat? Dan saya jawab alhamdulillah, lalu saya berjanji akan menemui dia jika ke Bandung. Saya merasa belum ad senggang waktu ke Bandung dan mampir, pernah tahu lalu saya mampir bersama Hermana HM dan juga Kang Asep GP Mampir ke rumahnya. Ada pertemuaan kecil dan kami mendengarkan secar seksama, dimana dia intinya harus kontrol 2 kali seminggu ke RS Boromeus.

WA kedua Fathul masuk lagi kurang lebih 1 jam berikutnya pukul 12:11, 11/10/2019 Isinya:

Fathul: Aktor Super Senior Mohamad Sunjaya berakting di atas panggung sejak 1957 (pd. usia 20) saat msh SMA. Peran terakhir yg dibawakannya adalah Tiresias Agung (Manusia buta yg mnjadi penyambung lidah para dewa) dlm lakon ‘Oedipus’ karya Andre Gide (Prancis) pd. usia 77 (2014). Stlh itu sy lht beliau sdh tdk kuat lg utk berdiri kokoh di atas panggung sbg seorang aktor. Kini beliau hnya bs duduk sbentar n hrs trbaring lantaran sakit n usia lanjut, 82 thn. Mungkin telah selayaknya jika negara n Pemerintah RI menganugerahi beliau dg ‘Penghargaan Seni’ atas pengabdian abadinya yg tulus, tak pernah pindah ke lain hati atau bahkan meninggalkan dunianya, seorang ‘PAHLAWAN SEJATI DLM DUNIA SENI PERAN DI ATAS PANGGUNG TEATER MODERN INDONESIA’… Atau, tdk berhargakah dunia teater di negeri ini? Tetaplah kokoh, Pak Yon… Semoga…

Kalimat ini dari Fathul: Mungkin telah selayaknya jika negara n Pemerintah RI menganugerahi beliau dg ‘Penghargaan Seni’ atas pengabdian abadinya yg tulus, tak pernah pindah ke lain hati atau bahkan meninggalkan dunianya, seorang ‘PAHLAWAN SEJATI DLM DUNIA SENI PERAN DI ATAS PANGGUNG TEATER MODERN INDONESIA’…

Saya teringat bahwa saya pernah wawancara dia dan menulis panjang tenang Kang Yoyon. Bahwa Mohamad Sunjaya adalah nama yang mungkin tidak disembunyikan dalam lonceng di telinga banyak penggemar drama, nama dia sangat kuat dalam peta teater modern Indonesia. Kang Yoyon dalam kontribusinya yang besar terhadap drama modern Indonesia ini mungkin bisa disetarakan dengan nama-nama terkenal lainnya seperti Teguh Karya, Suyatna Anirun, Rendra, Arifin C. Noer (semua almarhum).

Kang Yoyon, berasal dari generasi yang sama dengan Husen Wijaya dan Nani Somanegara (keduanya sekarang beralih ke TV atau film layar lebar) dan masih setia ke panggung teater begitulah ia bersama dengan Suyatna Anirun, dan Studiklub Teater Bandung (STB), sebuah grup teater modern yang didirikan pada tahun 1958, yang membujuknya untuk tetap berada dalam lingkaran teater. “Yoyon benar-benar seorang profesional dalam karya teatrikalnya, kualitas yang diakui Suyatna saat itu disampaikan ke penulis.

” Teman-temannya sering bertindak sebagai sponsor untuk banyak pertunjukan STB. Dia sendiri sangat teliti dalam hal pertunjukan,“ ujar Suyatna saat itu.

Antara tahun 1958 dan 1970, Yoyon, sekarang salah satu aktor senior STB, adalah sekretaris jenderal kelompok teater ini. Penggemar stasiun radio swasta di Bandung, Radio Mara, pasti kenal suaranya karena ia adalah salah satu penyiar senior di stasiun radio ini.

Selain itu, Yoyon juga merupakan salah satu pendiri ISAI (Institut untuk Studi Arus Informasi), yang merupakan bagian dari Komunitas Utan Kayu bersama dengan Goenawan Mohamad, Fikri Jufri dan Aristides Katopo.

Satu hal unik tentang Yoyon adalah, seperti yang dia akui, sebagai seorang bujangan yang dikonfirmasi, dia tidak pernah memiliki rumah dan berpindah dari satu rumah kos ke asrama lainnya.

“Sangat menarik untuk berpindah dari satu asrama ke yang lain sebagai orang yang tidak punya istri,” canda dia.

Sebagai seorang aktor, ia telah mengambil bagian dalam banyak pertunjukan drama dan judul-judulnya termasuk Julius Caesar karya William Shakespeare, Karina Adinda karya Victor Igo, dramawan Prancis Yamina Reza dalam lakon “ART”, Karya pemenang hadiah Nobel Dario Fo dalam lakon “Anarki itu Mati Kebetulan”, Pangeran Sunten Jaya karya Saini KM dan Senja dengan Dua Kematian karya Kirdjomuljo.

Kang Yoyon tidak hanya aktif di dunia teater. Dia juga sering terlibat dalam konser musik klasik, pertunjukan opera dan sebagainya. Sebagai aktor tiga generasi, Yoyon dapat ditemukan di Sundanese Encyclopedia, yang disusun oleh Ayip Rosidi dan diterbitkan pada tahun 2000. Dalam majalah Tempo 8 April 2001, Prof Bambang Sugiharto menulis bahwa,”Kekuatan dalam saat muncul ketika Yoyon berakting dapat dengan mudah mengalahkan orang lain dalam pemeran.”

Dalam wawancara dengan saya, ia mengatakan berbagi pengalamannya yang kaya di dunia teater. Dia bersumpah bahwa dia tidak akan pernah meninggalkan panggung dan akan selalu ada untuk tampil.

Dikatakan Kang Yoyon sejak awal saya hanya menyukai teater. Teman-teman saya seperti Jim Lim (sebelumnya aktor STB, sekarang menetap di Paris), Suyatna Anirun (sutradara drama), Sutardjo (psikolog dan ketua STB) kemudian semua terlibat dalam kegiatan teater. Berada dengan mereka membuat saya suka teater dan kemudian sangat menyukainya. Kang Yoyon konsisten dalam mengabdikan hidup di dunia teater.

“Teman-teman saya di STB dan saya benar-benar penggemar drama. Jadi kami memiliki banyak energi dan semangat, dan ini telah membuat kami bertahan hidup. Metodenya sederhana. Terus semangat. Karena teater adalah kehidupan yang dipindahkan ke panggung. Jadi, banyak hal yang menarik. Perilaku manusia yang dimanifestasikan di atas panggung, misalnya, adalah hal yang menarik bagi kita. Lalu sifat manusia. Beberapa orang kejam, sementara yang lain sangat sopan. Ya, masih banyak lagi,” bebernay waktu itu.

Dalam dunia teater Kang Yoyon mengaku di masa saya ada beberapa sekolah drama dan teater, seperti (STSI kini ISBI) di Bandung dan Solo, Institut Seni Indonesia (ISI) di Yogyakarta dan Institut Kesenian Jakarta (IKJ). Sekarang ada banyak metode akting dan Anda dapat belajar akting secara sistematis. Di masa saya, kami hanya memiliki Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI), yang baru saja didirikan di Jakarta, dan Akademi Seni Drama dan Film (Asdrafi) di Yogyakarta. Di sini di Bandung, kami hanya punya grup teater kecil, STB. Sebenarnya, kami belajar akting dari buku. Buku Stanilavsky Mempersiapkan Aktor dan Enam Pelajaran Boleslavskyi untuk Aktor. Sekarang kita memiliki metode Brecht, metode Grotowsky, atau metode Barba dan beberapa lainnya. Sebagai seorang aktor, saya sangat mengenal mereka.

Kang Yoyon juga juga bercerita soal pengalaman yang tidak biasa sebagai aktor drama Antara lain, kejahatan panggung, yang dilakukan oleh temanmu sendiri. Tapi ini bisa menjadi pengalaman yang menarik. “Seorang anggota kru atau aktor, hanya bersenang-senang, misalnya, melakukan kejahatan panggung,” jelasnya.

Kang Yoyon juga berkisah bahwa kemandirian hidup tidak bisa dari teater. Teater di Indonesia tidak bisa memberi Anda cukup untuk bertahan hidup. Jadi, ketika Anda memutuskan untuk aktif di dunia teater di Indonesia, nikmati saja. “Dalam kasus saya, misalnya, saya aktif di dunia teater, tetapi saya juga bekerja di Mara Radio sebagai penyiar. Dengan cara ini saya bisa bertahan hidup,”jelasnya sambil tertawa.

Saat itu yang paling penting dari dialog saya dengan kang Yoyon adalah bahwa setiap produksi teater AUL menerima banyak sponsor. Sebagai kelompok yang baru dibentuk, AUL sangat menyadari pentingnya profesionalisme. Karena itu, pihaknya tidak ingin melakukan apa pun yang akan menciptakan masalah bagi para aktor atau kru. Adapun sponsor, ini adalah masalah kerja keras saja. Kami menghubungi banyak orang dan memberi mereka proposal kami, jadi kami mendapatkan sponsor dan penampilan kami bagus.

Bahkan, Fathul dan saya benar-benar beruntung setiap kali kami merencanakan pertunjukan. Kami mendapat dukungan dari seniman-seniman baik seperti Jeihan atau Sunaryo, dan juga dari teman-teman media kami seperti majalah Tempo atau harian Kompas.

“Perlu juga disebutkan bahwa kami memiliki dua teman di Jakarta yang selalu membantu kami menemukan sponsor di Jakarta. Namun dalam kinerja kami, kami tidak berpikir ada intervensi dari sponsor. Kinerja murni milik kita,” kisahnya.

Dalam 8 tahun terakhir, Kang Yoyon bertanggung jawab dalam teater modern baru bersama Actors Unlimited (AUL), grup teater yang berbasis di Bandung. Meskipun relatif pendatang baru di dunia teater, AUL telah mendapatkan pujian untuk manajemen profesional selama pertunjukannya. Setiap orang yang terlibat dalam pertunjukan – mulai dari aktor hingga kru tingkat terendah dapat merasa yakin bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan produksi drama, dari honorarium hingga transportasi dan latihan, akan dijaga dengan baik. Itulah yang membuat AUL sampai berdiri kokoh.

Kang Yoyon dalam dirinya yang terpenting dalam kepribadian adalah konsisten dalam tekadnya untuk mengabdikan hidup pada dunia teater. Dia sama sekali tidak keberatan berada di panggung yang sama dengan aktor yang jauh lebih muda darinya. Dia juga tidak akan keberatan untuk bertindak di bawah sutradara muda. Suatu kali, misalnya Kang Yoyon, yang lahir di Cikalong, Bandung pada tahun 1937, bergabung dengan pertunjukan di bawah arahan sutradara muda, Fathul dan cenderung dia menikmati keyakinan berakting di atas panggung.

Kini Sang Aktor tiga Zaman ini sakit, dan apakah ada respon peduli negara ini yang peduli terhadap tokoh penting dalam dunia kesenian kebudayaan ini, mungkin bisa saja Direktorat kesenian atau Dirjen Kebudayaan atau Menteri Baru saat ini? Atau untuk Sang Gubernur Jabar Ridwan Kamil apakah peduli, Kang Yoyon adalah budayawan tiga zaman dan juga adik mantan Gubernur Jabar Yogi SM juga loh…Semoga saja ada yang tersentuh dan kami kawan-kawan seniman teater seni rupa, tari dan musik pun sedang galang kepedulian untuk sang Aktor tiga Zaman ini. Tabik!!! | AME

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.