Home Bandung LAUNCHING TRAILER FILM PENDIDIKAN “ANAK BATAS” YANG TIDAK MENDIDIK

LAUNCHING TRAILER FILM PENDIDIKAN “ANAK BATAS” YANG TIDAK MENDIDIK

139
0


(Pencitraan Wakil Gubernur JABAR yang Gagal dan meleset, Memalukan dan menyedihkan) 30 Juli Hotel Grand Asrilia Bandung


Acara launching trailer film pendidikan berjudul ‘Anak Batas’ di Hotel Grand Asrilia, Kota Bandung, Selasa (30/7/19). Digelar dan dibuka langsung oleh wakil Gubernur Jawa Barat yang inti dari isi sambutan utamanya itu sebagai berikut:
“Yang namanya pendidikan ini penting. Tidak ada lagi yang penting untuk masa depan anak kita kecuali dengan pendidikan. Makanya jangan ada gangguan buat anak di saat usia 17 atau 18 tahun ke bawah alias usia produktif sekolah, harus sekolah untuk mencari ilmu,” Begitu bunyi idealnya dari sosok seorang Uu RuzhanulUlum sebagai wakil Gubernur Jawa Barat.
Film ini dibintangi langsung oleh Uu yang berperan sebagai guru. Dikisahkan bahwa guru ini berjuang keras agar anak perempuan tersebut bisa bersekolah. Selain itu, ada pula aktris senior Alicia Djohar dan Yati Surachman.
Uu pun berharap film ini bisa menjadi inspirasi dan teladan bagi masyarakat. “Harapan kami film ini tidak hanya ramai ditonton, tetapi menjadikan pendidikan, jadi suri tauladan, menjadi ibroh kepada masyarakat bahwa pendidikan itu penting,” ucapnya.
Yati Surachman mengaku bahagia dan bangga bisa terlibat dalam film ‘Anak Batas’. Yati berharap aktingnya di film tersebut bisa menjadi karyanya yang mendidik masyarakat.
“Saya berharap – harimau mati meninggalkan belangnya. Saya sudah tua, saya ingin saya mati meninggalkan karya, apalagi (karya) yang mendidik,” tutupnya.
Disela sela kegiatan launching tersebut ada beberapa hal yang secara prinsip perlu di amanati dan sangat memprihatinkan
Sebab antara Das sollen harapan umum (pola Pendidikan ideal) dengan das sein atau peristiwa konkret yang terjadi, ini sangat bertentangan.
Jadi kalau Yati Surahman berkata “Saya berharap – harimau mati meninggalkan belangnya. , saya ingin saya mati meninggalkan karya. Itu idealnya sebuah harapan umum (das Sollen). Tapi kenyataan yang terjadi beliau masuk kedalam kegiatannyang ternyata seperti ini (das sein).
Menyedihkan dan Memalukan
KRONOLOGIS PERISTIWA PEMBUKAAN LAUNCING FILM “ANAK BATAS” Satu hari sebelum launching Film Anak Batas di Grand Hotel Asrilia tanggal 29 Jui 2019, seorang yang mengatasnamaka produser menghubungi kami disekretariat kelompok Paduan Suara yang tidak jauh dari tempat acara Launching.
Dia meminta kami untuk menampilkan paduan suara dalam acara tersebut dengan mengatasnamakan acara Wakil Gubernur Jawa Barat.

Saat itu kami belum tahu acara apa yang akan digelar oleh wakil Gubernur Jawa Barat di hotel tersebut.
Atas permintaan produser itu melalui staf Tata Usaha, Saya selaku pelatih sekaligus bertanggung jawab pada kwalitas karya dan Pendidikan karakter anggota Paduan Suara itu, di minta untuk hadir pada hari itu juga pas menjelang sore untuk mengikuti gladi kotor.
Singkat kata, kami datang ke lokasi acara ternyata di lokasi tersebut sudah ada kelompok paduan suara yang jumlahnya sedikit. Kemudian panitia meminta agar kami bisa menggabunsgkan kelompok Paduan suara dengan tim kecil yang sudah hadir pada saat itu. Kami baru sadar kalau acara tersebut adalah acara Launching FILM PENDIDIKAN ANAK BATAS, yang di bintangi oleh wakil Gubernur Jawa Barat
Dalam keadaan heran dan bingung tapi kasihan pada anak anak binaan yang hadir ketempat itu ahirnya kami mencoba untuk menggabungkan kedua kelompok tersebut. Saya sebagai pelatih mencoba mengkolaborasikkan. Saya tanya Pelatih dari kelompok itu, ternyata pelatihnya tidak ada. Ahirnya saya kondisikan sesuai dengan format yang biasa di siapkan oleh kami kalau akan menggelar pertunjukan Paduan Suara. Kami latihan 3 Lagu
Latihan pun berjalan dengan lancar.
Kami pun menggagas Kostum yang memungkinkan bisa disiapkan dengan mudah oleh semua tim Gabungan Paduan suara itu…..Dan semua sepakat.
Bada Magrib latihan bubar, karena hari menjelang malam dan tim paduan Suara dengan jumlah hampir 30orang semuanya perempuan, saya sebagai pelatih disibukkan dengan berbagai hal agar semua personil Paduan suara bisa selamat pulang kerumahnya masing masing. Dan saya pun mengintruksikan agar lagu yang diminta oleh Panitia itu dilatih terus dirumah masig masing. Agar lebih lancar dan mantap. LUAR BIASA
Singkat kata. Besoknya kita datang kelokasi, sesuai intruksi dari Panitia bahwa Jam 7 Pagi harus sudah ada di lokasi pertunjukan. . Ketika kami sampai kelokasi ternyata masih sepi, kamipun diberitahu kalau gladi akan di laksanakan jam 09.00. akhirnya dengan rasa bingung dan kecewa kami kembali ke secretariat dan baru tahu kalau acara itu akan dilaksanakan pukul 13.00 siang Dan Untuk mengisis waktu selama dua jam tersebut kami berlatih membawakan lagu lagu yang akan di mainkan dalam acara launching tersebut.
Jam 09.30 kami sudah ada dilokasi, terlihat beberapa tim penampil sudah mulai melakukan gladi. Ketika kami akan melakukan gladi pertunjukan, salah satu panitia memberitahukan kalau penampilan kami hanya opening acara resminya saja yaitu membawakan lagu Indonesia Raya. HERAN,semua serba dadakan dan SANGAT TIDAK MENDIDIK padahal ini acara hajatannya orang no 2 di Jawa Barat yakni Wakil Gubernur Jawa Barat. Semua serba ironis, antara Das sollen dengan das sein benar benar tidak nyambung,
Dan hal ini menjadikan kami sadar bahwa dengan kenyataan saat ini menjadi nyata kenapa provinsi JABAR yang sekarang semakin amburadul.. Karena memang manajemennya seperti yang saya lihat di di lingkupp kecil seperti ini sudah amburadul gimana ngurus yang lebih luas Provinsi. Terbukti Beberapa Kota Kabupaten ingin memisahkan diri.
Pada ahirnya Om Emilpun, juga harus mikir bahwa kawan sejolinya Mang Uu itu tidak menghasilkan karya apa apa. Malah semakin tidak jelas karena terlalu banyak tebar pesona terus dengan pencitraan yang tidak berkesudahan. Ini akan mewarnai citra Kang Emil dan Jawa Barat jadi korban nya.

Memang Pencitraan sudah menjadi kebiasaan pemimpin negeri ini.kwalitas kerja tidak dipentingkan yang penting dikenal terlihat seperti orang arif dan bijaksana, padahal kenyataannya beliau tidak bisa bekerja menyelesaikan persoalan persoalan profesinya sebagai pemimpin masyarakat. makanya di film ini Beliau (wagub Jabar) mencoba menghoakkan gaya baru dengan menjadi bintang utama Film Pendidikan berjudul Anak Batas.
Acara Launching pun berjalan dengan berbagai peristiwa pencitraan yang memalukan dan memprihatinkan dan kami Paduan suara tampil di awal acara resmi dengan membawakan lagu Indonesia Raya. Kelompok paduan suara dengan jumlah kecil tidak dilibatkan.mereka membawakan dua lagu lainnya tapi kostum yang dipakai menggunakan ide gagasan yang kami ajukan. Semua menyedihkan dan memalukan.
Setelah kami tampil dengan maksimal secara proporsional dan professional membawakan lagu Indonesia Raya, kamipun disuguhkan orasi wakil Gubernur yang mencoba terlihat Arif Bijaksana tapi kenyataannya sangat menyedihkan. Ekor tidak mungkin melakukan kesalahan kalau kepalanya tidak mengarahkan. Ekornya ular tidak mungkin kepalanya sapi… sudah pasti Kepalanya Ular juga.
Kami pun (khususnya saya sebagai pelatih dan Pembina) pulang dengan segala kebingungan dan kesedihan karena telah membawa anak binaannya masuk pada wilayah kegiatan Resmi Yang SANGAT TIDAK MENDIDIK.
Dan Hingga saat ini Panitia tidak memberikan kejelasan, apa dan bagaimana ahir kerjasama ini. Hanya seperti pada umumnya para politisi kacangan yang bau apek dan sudah tidak pantas lagi di gunakan (mungkin salah satunya Pemimpin Jawa Barat yang sedang memoles pencitraannya di mata masyarakat saat ini ). Mereka hanya Memberikan harapan dan harapan alias PHP.
Untuk menncari duduk persoalannya yang lebih jelas sayapun selaku pelatih sekaligus pengatur laku panggung sudah mencoba beberapakali untuk koordinasi dengan pihak Panitia hingga tanggal 14 Agustus 2019. (lewat WA )
Karena tidak pernah ada kejelasan maka ahirnya saya mencoba mendatangi langsung kepihak Pak Uu kekantornya di Gedung sate selaku wakil Gubernur Jawa Barat.
Pada senin tanggal 9 September 2019 datang ke bagian Humas Publikasi Pemprov Jawa Barat, dari sana kemuadian diarahkan keruang samping kanan bagian Humas Publikasi, saya tidak tahu apa yang dibicarakan. Akhirnya saya diarahkan keKabag humas di lantai 3, dan bertmu dengan salah satu apparat bernama Ahmad,
Pak Ahmad membaca tulisan saya yang isinya hampir sama dengan tulisan ini, beliau menyarankan agar saya membuat surat kepada pihak Uu yang langsung oleh Pak Ahmad nantinya akan di sampaikan kepada sekpri wagub. Sayapun menyanggupi untuk membuat surat tersebut.
Pada hari Kamis tanggal 12 september 2019 sebelum dhuhur saya berdua dengan rekan saya bernama Denny Cholid datang ke Ruang Pak Ahmad dengan membawa surat untuk Pak Wagub. Kebetulan menurut staf yang ada disana Pak Ahmad sedang ada di luar kantor dan kami diminta untuk datang

kembali setelah menelpon terlebih dahulu ke no kantor 022-4231641 yang diberikan nomornya dari Pak Teguh, Staf yang ada diruangan Pak Ahmad.
Sorenya setelah menelpon beberapa kali tapi tidak nyambung kami berdua terpaksa mendatangi lagi ke ruang Pak Ahmad yang ternyata Pak Ahmadnya belum datang.
Akhirnya surat yang di tujukan kepada wagub itu dititipkan kepada saudara Teguh tetapi belum saya tanda tangani. Kami pun pamit
Pada hari senin tanggal 16 September 2019 setelah beberapa hari sebelumnya menelpon beberapa kali ke no 022-4231641 yang selalu tidak nyambung, saya dengan Pak Denny Cholid datang lagi ke Gd Sate, ruang kerjanya Pak Ahmad. Kebetulan Pak Ahmad sedang tidak ada diruangan. Dan hanya ada beberpa staf lainnya diantaranya saudara Teguh yang menerima titipan Surat dari saya.
Saya kemudian bertanya mengenai kondisi telepon yang nomornya di berikan dari saudara Teguh (022- 4231641). Kemudian di cek langsung yang ternyata kondisinya rusak tidak bisa dihubungi. Dari situ kami betul betul merasa dipermainkan karena diarahkan ke nomor tlp yang tidak berfungsi. – Gambaran betapa bokbroknya maintenance fasilitas untuk kepentingan rakyat Se Jawa Barat di Gedung Sate ini.
Saya pun ahirnya memberikann masukan kepada staf disana tentang kondisi fasilitas yang memalukan dan telah menganiaya rakyat khususnya (saya) yang menelpon beberapa kali tapi disia siakan karena diarahkan pada fasilitas yang tidak berfungsi (suatu perlakuan yang tidak beradab).
Akhirnya beberapa saat kemudian Pak Ahmad hadir keruangan tersebut. Dan Setelah berbicara beberapa saat kami di antar keruang Sekpri Gubernur (Pak Rafi). Dan di ruang Sekpri wagub itu, kami oleh Pak Sekpri di minta agar tulisan ini tidak di muat dulu di media apapun. Dan kamipun merubah surat itu di gd sate dengan tulisan tangan yang disesuaikan dengan waktu kehadiran kami Saat itu. Khususnya mengenai batas waktu yang kami tuliskan didalam surat (3 kali 24 jam sejak ditulisnya surat tersebut). Dalam Surat itu di sebutkan dengan hal Permintaan audensi dengan Bapak WAGUB JABAR.
Kamipun menyetujui untuk sementara tidak memuat dulu tulisan tersebut dengan batas waktu 3 kali 24 jam.
Tapi setelah kami menunggu sampai hari ini, tanggal 19 september 2019 dan tidak ada penjelasan maka dengan terpaksa dan berat hati kami harus memunculkan tulisan ini.
(Sebagian Komunikasi dengan pihak aparat Gd sate, kami videokan sebagai bukti ) ______________________________________________________________________
Kami hanya membayangkan kalau Film ini di gelar dan di kemas dengan mengabaikan tanggung jawab terhadap beberapa pola kerjanya. Mau apa jadinya?.
Wasalam
Cecep Ahmad Hidayat
Pendidik dan Pembina Eskul Seni Pertunjukan


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.