Home Ekonomi Kreatif Depok Kian Elok: Harapan dan Tantangan

Depok Kian Elok: Harapan dan Tantangan

54
0
H. Igun Sumarno

Oleh: H. Igun Sumarno, Spd.MM*)

KOTA Depok kian tampak elok. Kota Depok yang denok montok. Kota Depok di Jawa Barat pojok. Tetangga ibukota Jakarta.

Kota Depok berkemajuan adalah harapan berkelanjutan. Sejak lama terkenal dengan “Belanda Depok”. Pribumi bermarga Belanda. Kota Depok pun berlenggok dengan dua “icon” besar. Mako Brimob Kelapa Dua, Depok dan Universitas Indonesia (UI). Perguruan tinggi unggulan seantero negeri.

Kini, Kota Depok dipimpin duet KH Dr. Muhammad Idris Abdul Somad dan Pradi Supriatna sebagai walikota dan wakil walikota. Dengan dukungan kemitraan DPRD hasil Pemilu 2019, Kota Depok dimungkinkan lanjut menggeliat. Berlanjut membangun (sustainable devolepment) jadi “kata kunci” bagi pemenuhan kesejahteraan warganya. Cukup alasan, bila menilik peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) 2018 yang melewati target menjadi Rp 1,02 Trilyun atau naik 9,29%.

Hemat saya, peningkatan PAD itu ditandai minat investasi bidang pengembangan property. Bersamaan pula dengan tingginya kesadaran warga dalam membayar pajak yang pada gilirannya diandalkan sebagai modal pembangunan. Sejalan itu volume APBD tahun anggaran 2019 pun meningkat menjadi Rp 3,39 Triyun atau setara peningkatan 14,68% dibanding setahun sebelumnya.

*

Capaian Kota Depok dalam membangun se
adalah jawaban nyata terhadap pengembangan status administrasi pemerintahan. Betapa tidak, diawali dengan kota administratif yang masih bergantung kepada induknya, Kab. Bogor — kini menjelma menjadi sebuah kota dan mandiri.

Sebuah kecamatan yang menjadi bagian dari Kab. Bogor ditingkatkan statusnya menjadi kota administrasi pada 18 Maret 1982. Selanjutnya meningkat menjadi kotamadya dengan sebutan Kota Depok, sejak 27 April 1999.

Kecamatan Depok menjadi Kota Depok yang kini membagi kembali menjadi 11 kecamatan dengan 63 kelurahan. Dengan luas areal “hanya” 200,29 km2, populasi penduduk pun cukup tinggi — sekitar 2 juta orang — jumlah lelaki dan perempuan sebanding. Sebaran penduduk mencapai sekitar 11.000 jiwa per km2. Kecamatan Cimanggis menjadi kawasan terpadat, sementara yang terkecil di Kecamatan Limo. Pertumbuhan penduduk terbilang tinggi, yakni berupa kelahiran dan pendatang (migrasi) yang mencapai 3,5,% — bahkan lebih besar dibanding pertumbuhan nasional yang hanya 1,1%.

Kota Depok adalah nyata penyangga ibukota Jakarta. Terpisahkan lintasan lingkar luar (JORR/Jakarta Outer Ring Road) di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Selintas menyatu, nyaris tanpa perbatasan. Tekanan migrasi warga pun, praktis tak bisa dihindari. Sejalan itu, meski tingkat pertumbuhan ekonomi cukup baik yang mencapai 6,7% — angka pengangguran pun cukup tinggi 6,6% setara dengan 72.000 angkatan kerja pada tahun 2018. Sinyal pertumbuhan ekonomi yang bersamaan dengan arus migrasi, adalah tantangan di antara dua sisi. *

*)anggota DPRD Kota Depok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.