Home Hukum TESTIMONI MEMET HAMDAN ANGKATAN 1966: TOLAK JOKOWI, KARENA KELICIKAN ABSOLUT

TESTIMONI MEMET HAMDAN ANGKATAN 1966: TOLAK JOKOWI, KARENA KELICIKAN ABSOLUT

78
0
Memet Hamdan

Saya Memet Hamdan, 72 th. Tahun 1966 (medio Januari s/d medio Maret) saya bergabung dengan KONTINGEN MAHASIWA BANDUNG (Kalau tidak salah 78 orang) berangkat dan stationer di Gedung FKUI di Salemba Jakarta, bergabung dengan rekan Mahasiswa di Jakarta, untuk bergerak menyuarakan TRITURA : TIGA TUNTUTAN RAKYAT kepada Pemerintah.

TRITURA, yang pertama TURUNKAN HARGA HARGA, kedua BUBARKAN PKI, dan ketiga BUBARKAN KABINET SERATUS MENTRI.

Dalam Gerakan Rakyat yang dimotori Mahasiwa tersebut, seorang Mahasiwa : ARIEF RACHMAN HAKIM (ARH) gugur sebagai KORBAN PERJUANGAN TRITURA. ARH dimakamkan di TPU Blok P Kebayoran Baru Jakarta Selatan, dekat makamnya ADE IRMA NASUTION, korban keganasan dan kebiadaban pemberontakan GESTOK/GESTAPU PKI, 30 September tahun 1965.

Sehubungan PILPRES 2019, saya tidak ingin Jokowi menang karena dia telah membuka jalan bahkan memfasilitasi hidupnya kembali ideologi Komunis di Negri ini, yang pada tahun 1966 justru saya bergabung dengan suara mayoritas Rakyat Indonesia membubarkan Partai Komunis Indonesia (PKI).

Ada alasan lain mengapa saya tidak ingin Jokowi menang dalam PILPRES 2019 ini. Dalam intuisi menejerial saya pribadi, saya merasakan dan mengkonstantir Jokowi sangat bahkan terlalu ambisius untuk memenangkan kontestasi PILPRES 2019 ini, sehingga/karenanya, nampak “Dia” melakukan langkah langkah licik bahkan terlihat curang. Katakan sesa’at diahir hari pencoblosan, dia.dengan “lantang” menyampaikan suara kemenanganyan.

Sengaja atau tidak, Dia juga melakukan kelicikan yang mengabaikan ETIKA, MORAL, dan bahkan ADAB serta MARTABAT seorang Pimpinan Negara yang sejatinya harus tampil sebagai Pemimpin yang memberikan keteladanan bagi Rakyatnya. Dalam proses PILPRES 2019 ini, sebagai Presiden, tidak hanya satu kali Jokowi yang sekaligus tampil sebagai CALON PRESIDEN PESERTA PILPRES melakukan perjalanan tugas resmi (karena menggunakan MOBIL KEPRESIDENAN INDONESIA 1), nampak di banyak tempat membagikan bingkisan (sembako) kepada rakyat.

Bahkan, nampak di beberapa tempat bingkisan seperti itu ditangani oleh Perwira Menengah Kepolisian. Menurut hemat saya, hal ini merupakan tindakan sangat tercela yang dilakukan oleh seseorang dalam Jabatan dan Martabat Kepresidenan, yang sejatinya harus memberikan keteladanan.bagi Rakyatnya.

Sikap merakyat dari seorang Pemimpin tentu baik bahkan sangat diharapkan, tapi tentunya jangan sampai mereduksi nilai dan martabat Kepemimpinannya, hal seperti ini tentu tidak dapat dihitung secara sistematik, tapi sangat terbuka ketika dilihat dan sangat terasa ketika ter(di)perhatikan’ Inilah alasan kedua dan terahir mengapa saya tidak ingin memilih Jokowi di PILPRES 2019 ini.

“Judgment” pribadi saya mengatakan, Jokowi. telah melakukan KELICIKAN ABSOULUT yaitu menerapkan kelicikan tehnis dan tehnis- tehnis kelicikan yang hampir sempurna, dibarengi dan dilindungi dengan penyalah gunaan wewenangnya.sebagai Presiden. Saya tuliskan Jokowi telah menerapkan kelicikan tehnis dan tehnis tehnis kelicikan yang hampr sempurna, karena Jokowi adalah juga manusia, sama dengan kita, memiliki keterbatasan.

Namun ternyata, Penyalahgunaan kewenangan yang dipegangnya yang ternyata pula sekaligus digunakannya untuk “melindungi” kelicikan dan kecurangannya inilah yang menggerakan judgment saya bahwa dalam proses PILPRES 2019 ini Jokowi, baik sebagai Presiden maupun sebagai Calon Presiden, telah melakukan KELICIKAN ABSOULUT.

Apabila konstatasi saya ini ada benarnya, yaitu Jokowi terbukti melakukan KELICIKAN ABSOULUT dan kecurangan yang Terstruktur, Sistemiik, Masif, dan Brutal untuk meraih kemenanganya dalam PILPRES 2019 ini, seharusnya Jokowi, dan terutama Ma’ruf Amin yang mendampinya sebagai CAWAPRES, sepenuhnya menyadari bahwa Allah SWT tidak menyukai kelicikan dan kecurangan dilakukan mahluknya, apalagi kedzoliman dilakukan oleh seorang Pemimpin Rakyat/Umat (UMARO).

Perlu saya juga sampaikan dalam tulisan ini, tahun 2014 saya bergabung dengan salah satu Kelompok Relawan di Jawa Barat yang mendukung Jokowi untuk memenangkan kontestasi PILPRES 2014. Namun demikian, dengan dua alasan diatas, pada PILPRES 2019 ini saya tidak ingin Jokowi terpilih kembali menjadi Presiden R.I.

Pilihan adalah sikap dan merupakan hak dari setiap Zoon Politicon, sebagai resultante atau produk dari proses yang disebut berdemokrasi. Sikap adalah Hak, dan dalam proses berdemokrasi dia boleh digunakan, dan tentunya pula boleh tidak digunakan.

Salam NKRI TANPA Pemimpin Licik, Curang, apalagi Dzolim.

Salam NKRI tanpa PKI.

Memet Hamdan – 12/05/19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.