Home Nasional MENGHAFAL KATEGORI

MENGHAFAL KATEGORI

310
0

by M Rizal Fadillah

Dalam film “The Killing Fields” sutradara Roland Joffe dengan bintang Sam Waterston dan Haing S Ngor digambarkan kekejaman rezim Khmer Merah pimpinan Pol Pot di Kamboja. Faham komunis menjadi dasar rezim memerintah. Rakyat dipaksa untuk berideologi komunis. Pola pembinaan adalah dengan menghafal kategori-kategori yang tak lain adalah cuci otak. Memuji pimpinan tanpa reserve, mencaci nilai-nilai moral dan akhirnya membenci agama dan tak bertuhan. Prinsip komunisme yang berakar pada nilai materialisme dihafal dan didoktrinkan. Praktis tak ada fikiran lain di otak selain kebenaran materialisme itu. Mjlitansi dibangun untuk ini. Menekan dan menyiksa para pembangkang dan tak hafal doktrin.

Saat ini penekanan fisik mental untuk mencuci otak dilakukan jiga oleh Pemerintah Komunis China pada komunitas suku Uyghur di Xinjiang. Nama halusnya adalah Kamp Re-edukasi. Indoktrinasi dan menghafal kategori-kategori dilakukan untuk menghapus keyakinan agama Islam. Dunia memprotes pemaksaan ideologi dengan penyiksaan fisik dan mental. Pemerintah RRC selalu menghindar dan mencari dalih untuk mengelak dari tuduhan tersebut. Akan tetapi semua tahu bagaimana cara Komunis menanamkan ideologi dengan mencuci otak, menghafal doktrin, dan memuji pemimpin.

Melihat viral video pengarahan dan pendiktean berulang yang dilakukan oleh oknum kepolisian yang memuji dan berterimakasih pada Jokowi serta berujung pada pekik Jokowi yes yes, cukup memprihatinkan. Tentu kita tidak menyatakan hal itu sama dengan pola indoktrinasi model di atas. Sangat jauh. Akan tetapi pola memuji-muji dengan pengarahan sangat dinilai kurang pantas. Di samping soal keterlibatan oknum polisi yang terlalu jauh, juga cara membangun soliditas yang dipaksakan tentu buruk dalam membangun kehidupan politik yang demokratis. Sementara itu penggalangan Kepala Desa seluruh Indonesia di Jakarta juga untuk arah kultus dengan pemberian gelar juga sama sekali tak mendidik.

Cara berpolitik membabi buta, apalagi dengan pengarahan (baca pemaksaan) adalah tidak sehat. Perlawanan terhadap cara seperti ini adalah dengan membangun akal sehat, fikiran dan daya nalar. Kultur menghafal tanpa argumen dan dalil yang rasional adalah pembodohan. Tentu ini bertentangan dengan tujuan bernegara untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Cara komunisme membangun kepatuhan kategoris jelas dalam rangka pembodohan tersebut. Dalam terminologi Islam itu adalah kejahilan. Memasuki zaman yang diisi oleh orang yang patuh tanpa kritik dan Jiwa pemberani yang dibungkam bahkan dibunuh merupakan karakter kepemimpinan otoriter.

Pilpres dan Pileg tidak lain menjalankan prinsip demokrasi berdasarkan Pancasila. Dengan menganggap lawan politik sebagai penghancur tatanan ideologi bangsa lalu berbuat brutal dengan menerabas sifat malu dan etika sungguh perilaku yang mencoreng diri sendiri dan merusak sejarah. Akal sehat dan daya nalar mesti diperkuat. Fanatisme buatan pada pemimpin dibarengi dengan penciptaan hantu hantu palsu adalah watak tidak ksatria dan berbau komunisme. Pergantian Presiden adalah hal yang normal dan biasa saja.

Bandung 22 Maret 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.