Home Bisnis & Ekonomi PERJALANAN SECANGKIR KOPI (Sejarah Kopi Dunia)

PERJALANAN SECANGKIR KOPI (Sejarah Kopi Dunia)

281
0

Priangan Sang Legenda.

Dalam konstelasi industri kopi dunia, peran Pulau Jawa, khususnya Priangan, tidak mungkin dihilangkan. Priangan, kini Jawa Barat, adalah rumah bagi lahirnya legenda sekaligus ikon industri kopi dunia, Java coffee. Sejarahnya sempat ‘terkubur’ karena peristiwa luar biasa yang saya sebut sebagai Java effect. Akibat serangan penyakit karat daun (hemileia vastatrix) seluruh perkebunan kopi Arabika di Jawa dan Ceylon luluh lantak yang mendorong evolusi besar di industri kopi dunia. Produsen kopi Arabika mulai bergeser dari Asia ke Amerika Latin, Amerika Tengan dan Kepulauan Karibia.

Di Jawa, Priangan sebagai salah satu kebun kopi Arabika tertua di dunia mulai beralih ke tanaman the. Tananam kopi mulai bergerak ke arah timur pulau Jawa dengan jenis tanaman baru, coffea canephora var. robusta, atau popular disebut kopi robusta. Negeri yang dikenal sebagai salah satu lokasi paling penting dalam proses penyebaran benih kopi Arabika di benua Amerika termasuk Kepulauan Karibia ini, lalu beralih menjadi produsen dan eksportir kopi Robusta dunia.

Memasuki awal abad 19, Priangan lebih dikenal sebagai wilayah penghasil the kelas dunia. Dengan kontribusi sekitar 70 persen produksi the Indonesia, secara perlahan, bayang-bayang Priangan sebagai kebun kopi tertua di dunia itu mulai tereliminasi dari peta industri kopi dunia, bahkan industri kopi nasional.

Secara legal kopi baru ditanam kembali di Jawa Barat (Priangan) sekitar tahun 2001 setelah ada kesepakatan bersama antara masyarakat di sekitar hutan lindung yang tergabung di dalam “Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH)” dengan pihak Perhutani melalui Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Sehingga di masa penanaman ulang ini, sekitar 90 persen tanaman kopi di Jawa barat tumbuh dan dibudidayakan di area Perhutani serta dipasarkan dengan nama Java Preanger coffee.

Asal Usul Kopi

Dari semua legenda dan literatur, Ethiopia disepakati sebagai tempat asal mula tanaman kopi ditemukan. Minuman yang sempat memperoleh predikat sebagai ‘Anggur Arab” tersebut akrab dengan peradaban masyarakat muslim di era kekhalifahan. 

Kisah Khaldi dan kambingnya.

Cerita gembala Khaldi bersama kambing-kambinnya yang menari-nari riang gembira selalu menjadi awal ketika orang di seluruh dunia membicarakan kopi. Konon pada suatu hari, Khaldi melihat kambing piarannya melompat-lompat kegirangan. Usut punya usut, di bawah tanaman asing Khaldi melihat kulit buah beri merah yang terkelupas. Rasa penasaran mendorong Khaldi untuk makan buah tersebut. Sehabis makan buah tersebut, Khaldi merasa segar dan bersemangat. Kisah Khaldi dan kambing peliharaannya lalu berkembang menjadi cerita yang berkembang menjadi legenda awal tanaman kopi mulai ditemukan. Cerita ini mengalir seiring penyebaran kopi diseluruh dunia. Namun sejak abad 18, Java adalah kata yang selalu disebut bila orang di dunia membicarakan kopi.

Kisah Omar, Tabib dari Mocha.

Selain Khaldi, cerita kopi juga sering menyertakan kisah Ali bin Omar al Shadili, yang biasa dipanggil Omar, seorang sufi sekaligus tabib yang hidup di Mocha, Yaman.

Omar adalah tabib yang memadukan tindakan medis dengan doa. Hampir segala penyakit bisa disembuhkan dengan cara itu sehingga Omar menjadi tabib terkenal di kota Mocha. Namun penguasa idak suka dengan popularitas Omar. Segala daya upaya dilakukan untuk menjatuhkan Omar, termasuk melemparkan ‘hoax’ bahwa Omar telah bersekutu dengan setan dalam usaha  menyembuhkan penyakit para pasiennya. Akhirnya Omar diusir dari kota dan tinggal dalam sebuah gua di luar kota Mocha.

Saat lapar mendera, Omar menemukan tanaman semak, penuh dengan buah beri berwarna merah. Omar berpikir buah tersebut sebagai tanda penyelamatan dari Tuhan. Untuk mengusir rasa lapar, Omar makan buah itu meski terasa pahit. Omar kemudian melakukan berbagai cara agar dapat menikmati buah itu. Ketika merasa haus, Omar minum cairan dari biji buah tersebut, dan bersama tetes air yang masuk di kerongkongan, tubuh Omar merasa segar.

Singkat cerita, keberadaan Omar hidup di gua kemudian diketahui oleh banyak orang. Mereka berbondong-bondong datang ke Omar untuk disembuhkan. Kali ini Omar memanfaatkan air seduhan dari biji buah beri itu sebagai obat mujarab. Air mujarab itu lalu dikenal dengan nama Qahwa yang artinya kekuatan.

Kopi, Budaya Masyarakat Muslim

Meski Ethiophia sebagai tempat asal tanaman kopi dan telah mengkonsumsi sejak abad 9, namun kopi baru popular sebagai minuman di abad 15, ketika mulai diperdagangkan secara komersial oleh para pedagang Arab di Yaman.

Adalah kaum sufi, kelompok terpelajar kala itu, yang melakukan berbagai percobaan untuk menemukan bagian mana dari tanaman kopi yang paling cocok untuk di konsumsi sebagai minuman. Akhirnya diketahui bahwa biji kopi yang disangrai lalu ditumbuk menjadi bubuk adalah cara paling tepat menikmati minuman kopi.

Awalnya, kopi hanya dikonsumsi oleh kalangan terbatas yaitu, para Sultan dan para imam. Di balik warna seduhan berwarna gelap, kopi memberi rasa segar dan mencegah rasa kantuk saat para imam melakukan tafsir ayat-ayat suci Al Qur’an di malam hari. Ketika rahasia itu terbongkar dan mulai menyebar, kopi segera menjadi minuman popular masyarakat di seluruh jazirah Arab.

Sebagai bentuk penghormatan, masyarakat di Jazirah Arab ketika membuat peralatan minum kopi biasa dihiasi oleh ornamen-ornamen indah. Mereka percaya ada energi tersembunyi dibalik minuman kopi untuk membangkitkan semangat, gairah dan stamina. Minuman itu di berinama Qahwa yang berarti kekuatan. Qahwa diambil dari kata Kaffa,suatu wilayah di Ethiopia, tempat tanaman kopi berasal.

KEDAI KOPI DAN AWAL PERDAGANGAN KOPI

Sepulang kunjungan dari Mesir tahun 1517, Sultan Salim I dari kekaisaran Ottoman Turki membawa kopi ke Konstantinopel, kemudian ke Damaskus (1530) dan Aleppo 1532. Sampai abad 16, kopi hanya diperdagangkan secara komersial di Mocha, Yaman.

Di masa pemerintahan Sultan Murad IV (1623-1640) pewaris dinasti Ottoman Turki, terjadi peristiwa besar yang turut menentukan perjalanan sejarah kopi dunia. Sultan Murad IV beranggapan bahwa kedai kopi telah berubah fungsi, dari sekadar tempat minum kopi menjadi arena debat politik yang dapat membahayakan penguasa. Sultan kemudian menerapkan tindakan represif dengan mengejar bahkan memukul para pemilik kedai kopi. Karena merasa tidak nyaman, para pemilik kedai kopi banyak yang melakukan migrasi, menyeberang ke kota-kota Eropa untuk membuka kedai kopi.

Kedai kopi orang Turki yang disebut Kahveh Kanes. Selain tampil mewah Kahveh Kanesjuga dihiasi karpet – karpet khas Turki yang indah. Maka Kahveh Kanes tidak sekadar menjual kopi, namun menawarkan ruang publik yang nyaman dengan suasana atau atmosphere kaya dengan entertainment. Kedai kopi ini segera menarik minat masyarakat Eropa yang sedang eforia menikmati kebebasan dalam berekspres di masa renaissance.

Pada tahun 1618, maskapai dagang Belanda VOC memperoleh ijin dari kekaisaran Ottoman Turki untuk membuka kantor dagang di Mocha dan Eden. Ini adalah dua pelabuhan utama dimana kopi dikapalkan keluar dari Yaman ke jazirah Arab serta sebagian Asia, terutama India.

Seiring maraknya kedai kopi yang tumbuh subur di kota-kota besar Eropa, permintaan kopi semakin besar. Semua itu disuplai dari Mocha, Yaman. Hal ini tidak terlepas dari pantaun VOC yang mulai turut bermain dalam perdagangan kopi ke pasar Eropa.

Dalam catatan sejarah, kedai kopi pertama di Eropa hadir di Venesia, menyusul kemudian di Italia (1645); Holland (1645); Inggris (1650); Perancis (1672); Hamburg (1679) dan Vienna (1683); Stuggard (1712).

Menjelang akhir abad 16, meski harga kopi terus naik, namun permintaan pasar Eropa justru semakin meningkat. Belanda dan Perancis ternyata memiliki mimpi yang sama, mereka berniat untuk memiliki kebun kopi sendiri. Bila hal itu terwujud, selain dapat mengendalikan pasar Eropa, yang akan mendatangkan keuntungan besar, sekaligus mematahkan praktek monopoli para pedagang Arab dalam perdagangan kopi.

KOPI ARABIKA

Para pedagang Arab merupakan salah satu supplier rempah-rempah untuk pasar Eropa. Mereka mencari rempah-rempah ke wilayah Asia, terutama ke India untuk memperoleh lada dan ke Ceylon (kini Sri Lanka) untuk mendapatkan kayu manis. Ketika tinggal di Ceylon,  mereka membawa bibit kopi untuk ditanam sebagai minuman kegemaran mereka. Ketika Ceylon dikuasai oleh Portugis, para pedagang Arab keluar dari Ceylon meninggalkan kebun kopi mereka. Selama Portugis di Ceylon, mereka tidak menyentuh kebun kopi.

Tahun 1658, Belanda berhasil menguasai Ceylon dari Portugis dan secara tidak sengaja menemukan kebun kopi yang ditinggalkan oleh pedagang Arab. Belanda kemudian menempatkan ahli botani, Carolus Linnaeus untuk menyelidiki pola budidaya tanaman kopi. Setelah berhasil, Linnaeus kemudian menamakan genus tanaman tersebut Coffea ArabicaCoffea diambil dari kata Qahwa sedang Arabica ditambahkan karena Linnaeusmengira tanaman kopi berasal dari Arab (karena ditanam oleh pedagang Arab yang tinggal di Ceylon).

Genus inilah yang dibawa oleh VOC ke pulau Jawa untuk ditanam tahun 1696 dan 1699 di sekitar Batavia. Tahun 1706 contoh tanaman serta produksi kopi dari Jawa dibawa ke kebun botani Amsterdam yang memperoleh predikat sebagai kopi kualitas tinggi.

Dari kebun botani Amsterdam inilah coffea Arabica dari pulau Jawa lalu menyebar ke benua Amerika termasuk kepulauan Karibia. Seiring penyebaran tanaman kopi ke seluruh penjuru benua, masyarakat terlanjur menyebut tanaman itu sebagai coffea Arabica atau Arabica coffee dalam bahasa Inggris dan ‘kopi Arabika’ dalam terminologi bahasa Indonesia. 

Kopi Arabika Di tanam di Jawa

Sampai tahun 1690 volume permintaan kopi dari pasar Eropa terus meningkat. Hal ini mendorong Walikota Amsterdam, Nicholas Witsen, pada tahun 1696 memberi perintah kepada komandan VOC di Pantai Malabar, India untuk membawa benih coffea Arabicaatau kopi Arabika agar ditanam di salah satu koloninya di Asia, pulau Jawa (Uker’s 1922 : 6; Gabriella & Hanuz 2003 : 21;).

Benih tersebut ditanam di tanah milik Gubernur Jenderal VOC, Williem van Outshoorn  diKedawoeng, pinggiran BataviaPercobaan ini gagal akibat banjir dan gempa bumi sehingga bibit tanaman kopi banyak yang mati (Uker’s 1922 : 213). Tahun 1699, Henricus Zwaardecroon membawa kembali benih coffea Arabica yang ditanam di sekitar bantaran sungai Ciliwung seperti Meester Cornelis, Kampung Melayu, Bidaracina, Palmerah dan Sudimara (Mawardi 1999 : 219; Yahmadi 1999 : 180 – 182).

Tahun 1706, contoh benih serta biji coffea Arabika dikirim ke kebun botani Amsterdam untuk dilakukan analisa. Kopi dari kebun di pulau Jawa dinilai memiliki kualitas tinggi. Tahun 1707, Walikota Amsterdam memberi perintah kepada Gubernur Jenderal VOC, Williems van Outshoorn, untuk melakukan budi daya tanaman kopi di pulau Jawa. Karena terbatasnya sumber daya manusia di organisasi VOC, maka van Outshoorn memanggil bupati Priangan untuk diajak terlibat di dalam budidaya tanaman kopi di pulau Jawa (Hardjasaputra 2004 : 37; Gabriella& Hanuz 2003 : 25).

Tahun 1707, berlangsung pertemuan antara Gubernur Jenderal VOC, Willems van Outshoorn, dengan para bupati Priangan membahas penanaman kopi Arabika di Jawa. Gubernur Jenderal mengajak para bupati Priangan dapat membantu VOC dalam usaha budidaya tanaman kopi Arabika.  Para bupati di wilayah Priangan barat akan memperoleh benih coffea Arabica dari Batavia sedang bupati Priangan timur mendapat benih dari Cirebon (Yahmadi, 2000). Ini adalah awal tanaman coffea Arabica dibudidayakan secara besar-besaran melalui peran dari para bupati Priangan. Dalam pertemuan itu juga disepakati setelah tanaman kopi tersebut panen, maka hasil kopi dari bupati Priangan akan dibeli oleh VOC dengan harga 5 – 6 ringgit gulden per pikul (Hardjasaputra, 2004).

Karena perjanjian tersebut sebatas antara VOC dengan para bupati Priangan terkait budidaya tanaman kopi, maka perjanjian ini disebut Koffie – stelsel (Gariella & Hanuz 2003 : 25). Selain kopi, maskapai dagang Belanda VOC juga mengharapkan hasil bumi lain seperti beras, nila, gula dan lain-lain dari para bupati Priangan. Perkembangan permintaan VOC kepada bupati Priangan ini dikenal dengan nama Preanger – stelsel, dimana kopi tetap merupakan tanaman wajib. Sehingga perjanjian antara bupati Priangan dan VOC dalam Koffie stelsel adalah murni perjanjian dagang (Hardjasaputra 2004 : 35 – 39).

Pada tahun yang sama di Amsterdam, contoh biji serta benih tanaman coffea Arabica dari bantaran sungai Ciliwung di Batavia mulai diternakkan melalui biji kemudian dibagikan ke kebun botani ternama di Eropa, termasuk disampaikan kepada Raja Perancis, Louis XIV.

Pada tahun 1711, bupati Cianjur Aria Wiratanudatar menyerahkan sekitar 400 kg kopi yang diteruskan oleh VOC ke balai lelang di Amsterdam (Hardjasaputra, 2004; Breman, 2014). Kopi tersebut berhasil memecahkan harga lelang tertinggi (Gabriella & Hanuz 2003 : 25) serta diapresiasi sebagai “a high grade coffee” jauh sebelum masyarakat dunia mengenal kopi Brazil, Kolumbia dan Venezuela (Uker’s 1992 : 213). Kehadiran kopi Jawa di pasar Amsterdam sekaligus menempatkan posisi Priangan di pulau Jawa sebagai kebun kopi komersial ke dua di dunia setelah Mocha di Yaman.

Dari Eropa Menyebar ke Benua Amerika.

Kesuksesan kopi Jawa dari kebun di Priangan di lelang Amsterdam mendorong keingingan Raja Perancis Louis XIV mengirim khusus utusan diplomatik agar dikirim kembali benih coffea Arabica dari kebun botani Amsterdam, karena benih pertama yang dikirim tahun 1707 mati. Tahun 1714, Walikota Amsterdam, Nichlas Witsen, kembali mengirim benih coffea Arabica setinggi lima kaki (Uker’s 1922 : 6) serta menyarankan benih tersebut ditanam di dalam rumah kaca. Louis XIV kemudian membangun rumah kaca di kebun raya Royal Jardine des Plantes, Paris untuk tanaman coffea Arabica. Secara khusus Louis XIV menempatkan ahli botani ternama, Antonie de Jussie, guna mengawasi dan merawat pertumbuhan tanaman coffea Arabica yang berasal dari benih di Batavia pulau Jawa yang kemudian diternakkan di kebun botani Amsterdam.

Respon positif dari pasar Eropa atas kehadiran kopi Jawa mendorong Belanda untuk memperluas tanaman kopi Arabika. Pada tahun 1718, Belanda melakukan penanaman coffea Arabica di wilayah koloninya di benua Amerika yaitu Suriname Guyana dengan benih dari kebun botani Amsterdam, Belanda (Uker’s, 1922; Talbot, 2011). Sedang benih dari Jawa ditanam di Sumatera. Dengan demikian, pada tahun 1718 Belanda melakukan ekspansi penanaman kopi di dua wilayah sekaligus, yaitu Surinama Guyana dan Sumatera. Pada tahun 1750, dengan benih kopi Arabika dari pulau Jawa Belanda kembali menanam kopi Arabika di Tana Toraja, Sulewasi (Uker’s 1922 : 9).

Pada tahun 1723, seorang perwira angkatan laut kerajaan Perancis bernama, Gabriel Mathiew de Clieu, yang bertugas di Martinique, koloni Perancis dikepulauan Keribia, berlibur ke Paris. Dia menemui sahabatnya Antonie de Jussie, profesor botani yang memperoleh tugas khusus dari Raja Louis XIV untuk merawat tanaman coffea Arabica, di kebun raya Royal Jardine des Plantes, Paris. Dari cerita yang disampaikan de Jussie, perwira Angkatan Laut tersebut tertarik untuk membawa benih tanaman kopi Arabika ke Martinique.

Ketika de Clieu kembali ke tempat tugasnya di Martinique, dia berhasil menyelundupkan lima polybag benih coffea Arabica yang diletakkan di bawah geladak kapal menuju Martinique di kepulauan Karibia. Ketika tiba di Martinique, dari lima polybag benih coffea Arabica tinggal tersisa satu polybag. Dalam perjalanan de Clieu sempat bertengkar dengan kawan-kawannya dengan akibat empat polybag benih coffea Arabica dibuangke laut. Benih coffea Arabica dari Royal Jardine des Plantes Paris itu kemudian ditanam di Preebear, wilayah paling subur di Martinique. Sejarah mencatat, coffea Arabica dari pulau Jawa yang diternakkan di kebun botani Amsterdam lalu dtanam di Royal Jardine de Plantes Paris kemudian dibawa ke Martinique di kepulauan Karibia kemudian menyebar ke perkebunan kopi arabika di seluruh kepulauan Karibia termasuk  ke Amerika Selatan, Amerika Tengah dan Meksiko (Ukers 1922 : 7; Talbot 2011 : 68; Wrigley 1988 : 40).

Sementara dari benih yang ditanam Belanda di Suriname Guyana, tahun 1727 dibawa ke Brazil untuk ditanam di wilayah Para yang mengawali Brazil dalam budidaya tanaman coffea Arabica. Namun fase ini dianggap kurang berhasil, baru tahun 1760 ketika Joao Alberto Castello Branco membawa benih untuk ditanam di Rio de Janeiro (Uker’s 1922 : 9) Brazil tumbuh sebagai produsen kopi yang diperhitungkan. Sampai tahun 1870an, Brazil bersama Ceylon (kini Sri Lanka) dan Jawa merupakan tiga besar eksportir kopi arabika di pasar dunia.

Kopi Jawa Menguasai Eropa

Sejarah mencatat bahwa, bupati Cianjur Raden Aria Wiratanudatar, pada tahun 1711 berhasil menyerahkan sekitar 400 kg kopi dari wilayah kekuasaannya kepada VOC. Kopi tersebut dibawa oleh VOC mengikuti lelang di Amsterdam. Secara mengejutkan kopi dari Priangan berhasil memecahkan harga lelang tertinggi (Gabriella & Hanuz, 2003) bahkan memperoleh predikat sebagaikopi kualitas tinggi ‘a high grade coffee’ (Uker’s 1922 : 213)

Hal ini mendorong VOC untuk mengaktifkan tanaman kopi di wilayah Priangan. Langkah tersebut sekaligus menempatkan pulau Jawa, dalam hal ini Priangan, sebagai perkebunan kopi ke dua di dunia setelah Mocha Yaman.

Pada tahun 1726, setengah sampai tiga perempat dari kopi yang diperdagangkan dunia berasal dari VOC. Setengahnya dihasilkan dari perkebunan kopi di Priangan barat yaitu di Cianjur (G.J.Knaap,1986; Yahmadi, 1999). Sementara Steven Topik dan David Bulbeckmenyebut, mulai tahun 1726, sekitar 90 persen impor kopi Belanda berasal dari pulau Jawa, yang notabene berasal dari Priangan (Topik, 2004; Bulbeck et.all, 1998).

Posisi Priangan sebagai penghasil utama kopi dunia semakin kuat setelah menggeser kopi Mocha dari pasar Eropa! Karena Priangan berada di pulau Jawa maka kopi dari perkebunan di Priangan populer dengan nama ‘Java Koffie’ atau Java coffee.

Impian Belanda untuk menguasai perdagangan kopi dunia diwujudkan melalui dua langkah besar. Pertama membangun perkebunan kopi di Priangan, pulau Jawa dan langkah berikutnya menempatan Amsterdam sebagai pusat lelang kopi dunia.

Pada tahun 1730, Belanda mulai melakukan lelang kopi dari tiga benua. Benua Asia diwakili oleh Jawa dan Bourbon (Re Union), Jazirah Arab oleh Mocha, benua Amerika diwakili oleh Suriname Guyana sedang Kepulauan Karibia diwakili oleh Martinique(Topik 2004 : 13). Posisi ini memberi peluang Belanda untuk melakukan kontrol perdagangan kopi dunia melalui sistim monopoli selama lebih dari seratus tahun.

CULTUUR – STELSEL (1830 – 1870)

Peningkatan produksi kopi di pulau Jawa berlangsung ketika  Van den Bosch diangkat menjadi Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1830 – 1835). Untuk menutup kekosongan kas  pemerintah akibat Perang Jawa, Van den Bosch mengusulkan untuk mengaktifkan hasil bumi, salah satunya adalah kopi, sebagai tanaman ekspor. Salah satu ambisi Van den Bosch adalah meningkatkan jumlah tanaman kopi di pulau Jawa sebanyak 50 juta pohon pada tahun pertama dan 40 juta pohon kopi di tahun ke dua masa kekuasaannya (Bulbect et all 1998 : 149).

Pada tahun 1840, dilaporkan bahwa di pulau Jawa terdapat lebih dari 300 juta pohon kopi sehingga volume produksi kopi di pulau Jawa meningkat secara tajam (Elson, 1998). Tahun 1834, produksi kopi di Jawa baru sekitar 28.662 ton melonjak ke angka 64.201 ton pada tahun 1842. “Coffee was designed as a compulsory crop in 1832, and its production expanded drastically until about 1840…”(Merennage Radin Fernando, William Gervase, Clarence Smith 2003 : 157 – 172; Bulbect et all, 1998). Lompatan produksi kopi di pulau Jawa hampir dua kali lipat tersebut berlangsung sekitar tujuh tahun setelah praktek Cultuur-stelsel diterapkan yang melibatkan para bupati di seluruh pulau Jawa.

Lonjakan produksi kopi tersebut tidak terlepas dari peran bupati yang mengaktifkan rakyat di wilayah meeka untuk menanam pohon kopi sehingga jumlah pohon kopi terus meningkat  di pulau Jawa. Untuk pertama kali, pulau Jawa menghasilkan satu juta karung kopi (Mawardi, 2000). Pada tahun 1870, sekitar 25 sampai 27 persen dari total peredaran kopi di pasar dunia berasal dari pulau Jawai(Bulbect et all, 1998), dimana Priangan sebagai sentra utama perkebunan kopi.

Hemileia Vastatrix

Memasuki tahun 1870an, perkebunan kopi dari dua produsen utama kopi Arabika di Asia yaitu, Jawa dan Ceylon, terserang penyakit sejenis fungi atau jamur mematikan tanaman kopi bernama hemileia vastatrix. Meski dikenal sebagai pionir tanaman kopi, bamun Belanda ternyata tidak mampu mengendalikan penyakit jamur hemileia vastatrix yang dengan dengan cepat menghancurkan perkebunan kopi di Jawa dan Ceylon.

Hancurnya perkebunan kopi,akibat panyakit hemileia vastatrix telah menyebabkan Belanda kehilangan potensi ekspor 120.000 ton kopi dari pulau Jawa. sementara Ceylon kehilangan 83.568 ton atau sekitar 16.500.000 poundsterling (Bondaneire, 1896; Ultee 1929 : 5).

Di sisi lain, industri kopi dunia juga mengalami kontraksi serta kepanikan luar biasa akibat suplai kopi dari pulau Jawa dan Ceylon terhenti. Para pengamat industri kopi dunia menempatkan kasus ini sebagai ‘Declining of Asian Production’ (Talbot, op. cit, 2011 : 58 -88) sekaligus masalah paling serius yang menyebabkan harga kenaikan kopi di pasar dunia (Samper and Fernando 2003 : 424; Clarence Smith 2003 : 101). Pada saat yang sama terjadi kenaikan konsumsi kopi di Amerika Serikat yang meningkat tajam akibat ledakan penduduk di Amerika Serikat awal abad 19 (Topik, 2004).

Situasi itu direspon oleh petani Brazil dengan melakukan penanaman pohon kopi secara besar-besaran. Dalam empat belas tahun kemudian, jumlah pohon kopi di Sao Paulo meningkat empat kali lipat (Topik 2003 : 35 in Talbot 2011 : 75) dan memberi peluang kepada Brazil memperoleh posisi sebagai eksportir besar kopi di pasar dunia, sampai hari ini. Hancurnya perkebunan kopi di Jawa dan Ceylon, serta meningkatnya permintaan kopi di pasar dunia, juga memberi peluang kepada Kolumbia serta beberapa Negara Amerika Latin seperti Guatemala, El Salvador, Nicaragua juga Meksiko masuk menjadi eksportir kopi Arabika (Gabriella & Hanuz, op.cit, 2003 : 33; Roseberry, 1995 : 6, 11; Samper & Fernando 2003 : 424 – 435).

Pada tahun 1876, Belanda mencoba mengganti tanaman kopi Arabika atau coffea carnephora var. Arabica yang hancur akibat penyakit hemileia vastatrix dengan benih baru coffea carnephora var. liberica. Namun percobaan tersebut dianggal gagal (Ultee 1929 : 8) karena tanaman var. liberica masih rentan dengan penyakit hemileia vastatrix.

Baru pada tahun 1900, Belanda mendatangkan tanaman coffea carnephora var. robustasebanyak 150 pohon yang kemudian ditanam di Sumber Agung, Wringin Anom dan Kali Bakar di Jawa Timur (Yahmadi 1976 : 160). Percobaan ini sukses, sekaligus menandai suatu era baru di wilayah yang kini dikenal sebagai Indonesia sebagai eksportir besar kopi robusta dipasar dunia.

Sampai tahun 2011 luas lahan perkebunan kopi di Indonesia diperkirakan sekitar 1,2 juta hektar dimana 95 persen diolah serta dimiliki oleh petani yang mengandalkan penjualan biji kopi sebagai penghasilan utama. Mereka mengelola perkebunan campur dengan luas lahan rata-rata sekitar satu hektar. Selama bertahun-tahun, kondisi perkebunan kopi rakyat yang tidak terpelihara adalah salah satu akar masalah mengapa sampai tahun 2013 produksi kopi Robusta Indonesia hanya sekitar 600 kg/ha. Sementara Vietnam mampu menghasilkan sekitar 2,4 sampai 3 ton per hectare per tahun.

Eropa barat dan Amerika utara masih menjadi pasar utama konsumen kopi Robusta Indonesia selain juga negara-negara dengan kekuatan ekonomi baru seperti Malaysia, Filipina dan Rusia. Meski begitu, pasar ekspor kopi Robusta Indonesia lebih berfluktuasi dibandingkan pasar kopi Arabika. Penyebab utama adalah produk kopi Robusta Indonesia dapat dengan mudah digantikan dengan kopi Robusta dari negara lain, terutama dari Vietnam.

Situasi Saat Ini.

Booming konsumsi kopi dunia tidak bisa dilepaskan dari gerakan yang dimotori oleh tiga negara yaitu Amerika, Australia dan Inggris yang menawarkan konsep Gelombang ke tiga – Third Wave of coffee – di industri kopi Dunia melalui lembaga Specialty Coffee Association of America (SCAA). Lembaga ini memiliki perwakilan di setiap negara, dan secara luar biasa memperkenalkan suatu cara baru untuk mendefinisikan kualitas kopi melalui profile kopi

Third Wave of Coffee menawarkan sensasi baru eksplorasi profile kopi melalui proses uji cita rasa secara organoleptik atau populer disebut cupping test. Inilah ‘ilmu baru’ sekaligus kunci keberhasilan gerakan Third Wave of Coffee yang segera menjadi virus bagi generasi millenial.

Di Indonesia, bisnis kopi tumbuh pesat tidak hanya di kota-kota besar, namun juga sampai di tingkat kabupaten. Bagi sebagian masyarakat urban di kota- kota besar, lokasi pertemuan dan meeting-point mulai bergeser ke kafe. Selain dimotori oleh para pebisnis, para wanita karier, ibu rumah tangga termasuk mahasiswa dan pelajar tidak mau ketinggalan untuk kumpul-kumpul di kafe, sehingga kafe sudah menjadi bagian gaya hidup sebagian masyarakat urban di Indonesia. 

Tulisan tentang perjalan Kopi ini dimuat di CSR-Indonesia.com, yang mengutip harus seijin redaksi dan mencantumkan sumber dari CSR-Indonesia.com

Penulis  Prawoto Indarto_ Tea & Coffee Advisory

sumber: csr-indonesia.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.