Home JabarKini Puisi Neno, Kok Marah?

Puisi Neno, Kok Marah?

820
0

Puisi Neno, Kok Marah?
Oleh M. Nigara
Wartawan Senior
Mantan Wasekjen PWI

NENO Warisman kembali jadi sorotan. Tahun lalu, kemana Neno pergi, kesitu teror merapat. Tak heran, di Pekan Baru, Batam, dan beberapa tempat lagi, langkah Neno terseok bahkan terhenti. Bahkan mobilnya juga dibakar di depan rumahnya.

Hebatnya, ibu yang satu ini tidak kenal menyerah. Perlahan tapi pasti, gerakannya terus berjalan. Meski perempuan, urat takutnya seperti telah putus. Kunci dirinya hanya satu: Hanya takut pada Sang Khalik dengan sungguh-sungguh. Bukan takut di bibir atau menyatakan takut hanya untuk pencitraan. Menyatakan takut agar dipercaya lagi.

Takut Pura-pura
Maklum, ada saja orang yang berkata: “Saya hanya takut pada Allah!” Tapi, perbuatannya jauh dari rasa takut. Bohong dan memaksakan kehendak. Bahkan kepura-puraan justru amat lekat pada dirinya. Neno bukan tergolong yang itu.

Kamis (21/2) malam, Neno kembali memperlihatkan ketidaktakutannya. Suaranya lantang, membacakan puisi dan doa. Neno kembali jadi bahan perbincangan, tepatnya jadi bahan ‘kepanikan’. Neno, tepatnya potongan puisi Neno, dianggap tidak tepat bahkan dituding menyesatkan.

Tidak tanggung-tanggung, Cawapres 01 dan Kepala Staf Presiden, seperti tertulis dalam banyak media online, ikut bicara.
Mulai bicara tentang: Pemilu Indonesia bukan perang Badar, hingga tak tepat jika doa perang Badar yang dibacakan. “Ini kan cuma pemilu,” kata mereka.
Ada juga yang menyebut puisi Neno memyesatkan lantaran jika paslon yang mereka dukung tidak menang maka ada ketakutan Tuhan tidak disembah lagi.

Tepatnya begini potongannya:
Allahu Akbar
Puisi munajat kuhantarkan padamu wahai berjuta-juta hati yang ada di sini
Engkau semua bersaudara dan kita bersaudara tersambung, terekat, tergabung bagai kalung lentera di semesta
Sorot-sorot mata kalian bersinar, wahai saudara
Mencabik-cabik keraguan
Meluluhlantakkan kesombongan
Karena mata-mata kalian nan jernih mengabarkan pesan kemenangan yang dirindukan, insyaa Allah, pasti datang
Allahku Akbar
Kemenangan kalbu yang bersih
Kemenangan akal sehat yang jernih

Di bawah cuplikan doa:
Namun kami mohon jangan serahkan kami pada mereka
Yang tak memiliki kasih sayang pada kami dan anak cucu kami
Dan jangan, jangan Engkau tinggalkan kami dan menangkan kami
Karena jika Engkau tidak menangkan
Kami khawatir ya Allah
Kami khawatir ya Allah
Tak ada lagi yang menyembah-Mu

Pertanyaannya, apa yang salah? Pertanyaannya, kok merasa aneh? Pertanyaannya kok yakin bahwa puisi dan doa itu ditujukan untuk mereka?

Sekedar mengingatkan, bukankah pernyataan akan perang total lebih dulu dilontarkan? Kata perang total menurut pengertian umum adalah perang hancur-hancuran. Perang Barata Yudha.

Orang awam bertanya: “Siapa yang perang? Lalu, perang dengan siapa?” Kok tidak ada yang ramai? Tidak juga cawapres yang protes tentang ketidaktepatan puisi serta doa Neno itu.

Apakah kata perang total tidak melahirkan ketakutan? Apakah perang total tidak melahirkan kata kegalauan?

Jika dijawab, tidak. Maka apa pula yang ditakutkan dari puisi dan doa Neno?
Jika dihawab, iya. Mengapa kata-kata itu boleh diluncurkan tanpa beban?

Jadi, sungguh, seperti ada sesuatu yang aneh untuk memperkarakan puisi dan doa Neno. Sementara pernyataan KSP tentang perang total, justru hanya dianggap sebagai penyemangat. Dan, orang awam tidak boleh menafsirkan kata perang total dengan macam-macam.

Berulang kali, rakyat sudah menyaksikan hal seperti ini. Ingat kan soal revisi doa Mbah Moen? Ingat juga kan revisi-revisi lainnya? Nah, jika puisi dan doa saja sudah harus sesuai, mau dibawa kemana nih negeri ini?

Doa khususnya adalah milik pribadi, atau bahasa kerennya ruang doa adalah ruang privat. Di semua negara yang menganut
faham demokrasi, maka ruang privasi tidak boleh diintervensi. Atas nama demokrasi, maka pendapat pribadi menjadi luhur makanya. Sekedar mengingat, hanya di negara yang berpaham komunislah negara bisa menembus hingga ke ruang-ruang individu. Apakah negeri kita begitu? Silahkan anda jawab sendiri. Anda rasakan sendiri. Anda lihat sendiri.

Ya Allah, hentikanlah segala kepura-puraan. Ya Robb, hentikanlah ketidakadilan ini. Ya Gusti, lindungilah bangsa ini dari kepura-puraan. Kirimkanlah pemimpin yang dapat membawa Indonesia, negeri kami, kedalam keadilan dan kemakmuran. Aamiin…

Previous articleDilan Itu Siapa, Kok Bisa-Bisanya Jadi Taman?
Next articleJokowi Temukan “Vaksin Uno” untuk Menangkal “Demam Uno”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Notice: Function amp_has_paired_endpoint was called incorrectly. Function called while AMP is disabled via `amp_is_enabled` filter. The service ID "paired_routing" is not recognized and cannot be retrieved. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 2.1.1.) in /home/jabarsatu/public_html/wp-includes/functions.php on line 5831

Notice: Function amp_has_paired_endpoint was called incorrectly. Function called while AMP is disabled via `amp_is_enabled` filter. The service ID "paired_routing" is not recognized and cannot be retrieved. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 2.1.1.) in /home/jabarsatu/public_html/wp-includes/functions.php on line 5831

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.