Home JabarKini Ricky Agusyadi: Mencari Rektor “Nu Rancage Reujeung Binangkit”

Ricky Agusyadi: Mencari Rektor “Nu Rancage Reujeung Binangkit”

Pemilihan Rektor Universitas Sangga Buana Periode 2018-2022

275
0
Dr.Ricky Agusiady

JABARSATU.COM – Universitas Sangga Buana (USB) – YPKP  Bandung sebentar lagi akan melaksanakan pesta demokrasi memilih rektor untuk periode 2018- 2022. Proses pemilihan  sudah berlangsung sekitar dua minggu mulai dari rapat senat menentukan tatacara pemilihan rektor (pilrek), maka mekanismenya diputuskan senat lewat beberapa tahap, mulai dari penjaringan dengan membuka pedaftaran dari seluruh elemen baik dari internal (balon rektor dari kampus USB) dan membuka pintu untuk calon dari luar (eksternal).. Masing-masing fakultas  pun bisa mengajukan tiga orang balon (bakal calon) rektor juga karyawan sesuai keputusan senat boleh mengajukan balon rektor.

Semua pintu dibuka berjalanlah waktu selama dua minggu mulai dari pendaftaran, penjaringan dan pemilihan secara jurdil dan terbuka layaknya pemilu,  akhirnya didapatlah 7 balon dari internal yang telah memenuhi peraturan seperti  minimal calon berpendidikan S3 (Doktor), jabatan fungsional lektor kepala, berpengalaman dalam bidang pendidikan sebagai ketua prodi atau minimal  sekretaris prodi. Nah tujuh orang balon itu mengerucut lagi jadi dua, karena hanya dua orang itu yang memberikan pernyataan bersedia, karena ada salah satu syarat  “kesediaan” dari calon selain dukungan, kalau tidak bersedia ya gugur dan kedua balon yang memenuhi syarat administratif yang diusulkan senat ke yayasan  itu adalah Dr.H. Asep Effendi R., SE., M.Si., PIA., CFrA., CRBC  (petahana) dan Dr.Ir. Didin Kusdian, MT dari  Fakultas Teknik,  Nah dua orang inilah yang sekarang sedang menghadapi “fit and proper test” , kelayakan dan kepantasan. Untuk mencari pemimpin USB terbaik dari yang ada.

Demikian penjelasan Ketua Panitia Pemilihan Rektor Universitas Sangga Buana 2018-2022, Dr.H.R. Ricky Agusiady, TS, SE., MM.,Ak,  kepada wartawan di Gedung Rektorat USB Jl.P.H.H.  Mustofa  No.68-70 Bandung (29/8/2018).

Lebih jauh Ricky menjelaskan,  “Dalam proses fit and proper test pihak yayasan  akan melihat kemampuan dari calon pemimpin  USB ini mulai dari leadershipnya, wawasannya, pendidikan, segala sesuatunya penampakan nya juga, karena  nanti yang akan dihadapi oleh rektor USB ini tidak gampang, bahkan Pa Asep misalnya kalau nanti akan terpilih kembali memimpin USB  pasti punya kiat-kiat khusus dan strateginya akan berbeda dari yang sebelumnya,   kalau strateginya yang itu-itu juga itu kan tidak bagus. Jadi ada satu target dalam 4 tahun (satu periode) keemimpinannya itu,” demikian katanya..

Ricky juga menjelaskan, biasanya kalau yang menang itu petahana,  nanti akan diserang  hal-hal atau target-target yang belum tercapai, misalnya  akreditasi yang masih  di bawah target,  fasilitasi, ,jumlah mahasiswa, sarana – prasarana pendukung,  hingga  tentang peringkat  dan biasanya peringkat ini  banyak versinya, kalau peringkat Dikti,  paling tidak USB    harus diusahakan masuk peringkat 100 besar dan menaikan peringkat itu ada syarat-syaratnya mulai dari akreditasi rata – rata program studi harus B , dan sebagainya, termasuk produktivitas dari riset penelitian  dan pengabdiannya juga dilihat, lulusan tingkat kelulusan, produktivitas lulusan, jarak studi, “Ini harus ditarget dlm 4 tahun ini bagaimana dan apa yang harus dicapai. Tapi bisa saja  nanti pa rektor  misalkan 2 tahun bisa memenuhi target tersebut misalkan menumbuhkembangkan sarana parasarananya,sdm nya, produktivitas akademiknya, penelitaian dan pengabdian masyarakatnya, Itu prestasi yang sangat bagus”.

Dari garis besar penetapan itu, baru hitung mundur berapa kos (waragad) untuk memenuhi kreteria ini? yg paling mahal adalah SP dan infrastruktur,  biaya ini  harus dicari sumber dananya. Apa harus mengandalkan SPP mahasiswa atau Sangga Buana produktif dengan melakukan riset dan pengabdian, bukankah USB punya lembaga-lembaga,  ada LPPM(Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat), Inkubator Bisnis (IBIS), Galeri Investasi, Galeri Mini, dsb,  termasuk laboratorium.  sarana-sarana ini harus jadi mesin pencetak duit, termasuk mencari dana penelitian dari luar (umum), “Artinya di sini seorang rektor harus kreatif inovatif,  dosen harus diarahkan dibina oleh rektor agar berproduktif jadi risetnya ini bisa dijual supaya menghasilkan uang”, demikian harapnya.

Ricky mencontohkan  di ITB, karena mertuanya di ITB,  banyak risetnya banyak menghasilkan uang malah bisa memberi pemasukan ke  kampusnya karena pemakaian labnya, intalasinya,  ada royaltinya ke ITB. “Ini bisa gak di USB dengan memanfaatkan lembaga-lembaga yang ada tadi ? Apalagi ini ada gandengannya dengan Sangga Buana Institut, dan rektor sebagai direkturnya,”.

Semua ini untuk tujuannya  memenuhi bahwa lembaga pendidikan ini harus berkualitas, ujar  Ricky.

Jadi menurut Ricky sekarang untuk memajukan sekolah tidak bisa dengan mengandalkan uang spp , tapi  harus dicari dari produktivitas kelembagaan, kalau risetnya produktif bisa dijual,  jadi HAKI,  bermanfaat bagi jawa Barat, dan Nasional serta bagi  umat manusia umumnya.

“Jadi kurang lebih inilah yg telah kita garap. Jadi diharap kedepan siapapun rektornya nanti yayasan ini jadi alat ukur/pengawalnya”. Demikian kata Ricky pasti.

Calon Eksternal

Sempat ada  bakal calon (balon) rektor  dari luar / ekstrenal yang ikut kontestasi di pilrek USB. Melalui  pintu yayasan saja ada 3 balon dan kualifiasinya cukup baik (2 Guru Besar dari Unpad dan satunya lagi dari Jakarta). Tapi  ketika menghadapi sistem demokrasi pemilihan langsung  balon rektor yang berkualifikasi tinggi dari luar ini kalah karena pemilih menginginkan balon rektor yang sudah dikenal sepak-terjang dan dedikasinya buat kampus.

Inilah kendalanya  yayasan masih mencari cara supaya bisa menerima calon rektor dari luar dengan sistem  berhadapan head to head  tidak  dipilih secara sensus karena kemungkinan calon dari luar  akan dikalahkan  karena tidak dikenal.

“Dari proses kepemilihan  ada kekecewaan dari saya sendiri karena belum bisa memaksimalkan orang potensial yang ingin  memimpin di sini. Padahal banyak potensi sekelas  Doktor yang bersedia digaji di bawah standar, karena ada tantangan dan potensi disini. Cuma kalau proses pemilihannya  secara sensus “one man one put” ini agak keberatan tentu akan butuh waktu untuk orang luar karena mereka perlu magang beberapa bulan agar dikenal dulu di sini. Susah orang luar bertarung disini kecuali ditunjuk langsung dan   dikasih target 4 taun untuk memajukan USB. Tapi mungkin ke depan sistem akan berubah dan mungkin akan merubah statutanya karena kita ada statuta/aturan, ini kan bukan  lembaga milik pribadi dan  merubah aturan juga harus sesuai aturan dan payung hukum dari atas, dari kemendikbudtek dan UU pendidikan dsb,” demikian papar Ricky dan tak lupa memohon doa restu dari semua terutama  masyrakat yang memperhatikan USB, “ Semoga  Universitas Sangga Buana ini jadi satu universitas yang unggul, punya keunggulan bagi masararakat jabar umumnya nasional,” demikian harapannya. (Asep GP)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.