Home Seni Budaya Prof. Wawan: Saya Dedikasikan untuk Elly yang Udah Bersama Bumi

Prof. Wawan: Saya Dedikasikan untuk Elly yang Udah Bersama Bumi

62
0
SHARE

JABARSATU.COM – Peneliti dan Seniman Kertas Kesohor yang sudah melanglangbuana Prof,Dr, Setiawan Sabana, MFA kembali menggelar pamerannya tapi kali ini Guru Besar FSRD (Fakultas Seni Rupa dan Disain) ITB ini berkolaborasi bersama seniman dan peneliti kertas dari Amerika Lisa Miles. Pameran seni rupa bertajuk “Bumi Kertas Tapak, Jejak, Jelajah” ini Berlangsung di Museum Geologi Bandung dari tanggal 7 – 28 Juli 2018.

Usai Pembukaan Pameran, Sabtu (7/7/2018) yang dimeriahkan Musikalisasi Kertas oleh Syarif Maulana dan Digitalisasi Harry Nuriman, langsung digelar Seminar dengan pembicara Prof.Dr.Bambang Sugiharto, Prof.Dr.Setiawan Sabana MFA, Ir.Sinung Baskoro, MT.dan Lisa Miles. Diskusi yang berlangsung di Auditorium Museum Geologi Bandung ini dipandu oleh Dr..Irma Damayanti, S.Sn.,M.Sn, Serta hari Minggunya (8/7/2018) digelar juga “Workshop Daur Ulang Kertas dan Daluang” dengan Pemateri: Lisa Miles, Setiawan Sabana dan Tedi Permadi.

Kata Kang Wawan, demikian professor ini sering disapa, inti dari pemeran ini dalam rangka menggabungkan kertas dalam satu dunia/bumi, “Biar bumi kertas jadi jadi planet bumi, planet binatang, merkuri, planet kertas, saya dan Lisa pun sama-sama pool fighter, ia bercerita tentang hubungan kertas, kebudayaan dan alam dan akhirnya cocok maka kami mengadakan pameran seperti ini,” demikian paparnya..

Kang Wawan pun dengan berurai air mata dia mengatakan pamerannya kali ini didedikasikan untuk almarhumah sang istri Elly Setiawan (Siti Muslihat , dosen Sastra Jepang FIB Unpad ) yang belum lama meninggal(17 Mei 2018 ).

“Mari kita belajar kepada kertas. Pameran esok, Di atas langit ada kertas, Di atas kertas aku masuk surga.. Peristiwa seni ini saya dedikasikan untuk Elly yang sudah Bersama Bumi…Alfatihah….,” katanya terbata-bata, diiringi doa dari seluruh hadirin. Tapi tak lama kesedihan itu dia lebur menjadi sebuah peforming art, dengan memakai topeng kertas, di atas panggung Kang Wawan merespon musikalisasi kertas dengan “ber-pus-up”, sebuah simbol yang menyatakan seniman dan pendidik berusia 66 tahun ini masih kuat untuk terus berkarya menantang jagat.

Lisa Miles sendiri mengatakan kepada wartawan, sejak kecil ia cinta buku dan belajar seni grafis hingga lulus S-1, lalu menjadi seniman grafis selama 10 tahun, setelah itu Lisa meneruskan kuliah ke S2 mendalami buku seni maka ia bertekad semua hasil karya seni dan penelitiannya akan dia bukukan, “Tapi saya rindu bikin karya dengan tangan tanpa menggunakan computer, makalah saya ikut pameran ini”, kata seniman yang meneliti dan membuat kertas Daluang dan pewarna alami ini pasti.

Ini kolaborasi bagus, seniman itu ada masanya sendiri tapi ada masanya selebrasi dengan yang lain. Wawan bisa menggabungkan kehadiran dia sebagai tokoh dia sendiri kemudian selebrasi dengan lingkungan dan teman-temannya yang lain. Saya rasa itu tipe seniman sekarang karena memang seharusnya tidak cukup hanya kreatif untuk dirinya sendiri tapi dia harus mengembangkan suatu masyarakat bersama berbasis persahabatan / friendship dan melalui persahabat itu akan tersentuh kemanusiaan yang lebih jauh yang dilepaskan dalam karya seni itu, “Jadi sekarang kita tidak hanya menatap karya dan seniman-seniman kreatornya. Sekarang kegiatan kesenian itu juga pertemuan karya dan manusianya yang berbasis persahabatan,” kata pelukis senior A.D. Pirous yang kini sudah berusia 86 tahun tapi masih “jagjag” aktif meulis dan berpameran.

Kegiatan seni ini pun mendapat dukungan dari Dekan FSRD ITB Dr.Imam santosa, M.Sn., yang diwakilkan kepada Wakil Dekan FSRD Dr. Hafiz Ahmad. Menurut dia Worlshop di museum ini menarik karena ada kolaborasi dua bangsa antara seniman Indonesia dan Amerika juga tempatnya di museum geologi ini menarik karena ada kolaborasi berbagai ilmu.

Kertas jadi satu bagian yang tidak bisa dilepaskan dari hidup kita mulai dari membaca buku, majalah, Koran, menggunakan kertas kantong,.menulis surat, prangko, tisu, sampai uang. Hingga kita lupa bahwa kehidupan kita itu terkait dengan kertas.

Sejak kertas ditemukan di China abad 2 Masehi zaman dinasti Han hingga Papirus zaman Mesir Kuno juga di Asia khususnya di Jepang yang sudah menjadi bagian dari sebuah seni dan ritual seperti seni melipati kertas “Origami” yang melegenda. Kertas bisa melatih kepekaan kita karena kertas sangat pleksibel bisa dijadikan apapun, bisa dilipat, disobek, dilukis dsb. Dia juga bisa berubah jadi berbagai benda seni baru termasuk seperti yang ditampilkan dlm pameran ini .

“Kolaborasi 2 seniman yang berpameran ini punya pengalaman yang banyak dalam menggeluti dunia kertas. Apalagi Prof. Wawan punya jejak langkah lama di dunia kertas, beliau bukan hanya seniman tapi sebagai peneliti kertas, penulis buku kertas begitu juga Lisa Miles dari Amerika seniman pembuat kertas, artis juga melakukann penelitian wal paper dan book art Indonesia Daluang. Kolaborasi ini memberikan ilmu wawasan yg luas bagi masyarakat dan apresiasi . pameran ini memberikan bagaimana kertas ini tidak hanya berperan tapi memberi kontribusi penting dalam seluruh kehidupan manusia”, demikian sabda Sang Dekan.

Kepala Museum Geologi Iwan Kurniawan, ST pun menyambut baik kegiatan ini, itu terbukti dari kata sambutannya yang dibacakan Arif Kurniawan Kepala Seksi Peragaan Museum Geologi yang mewakili Iwan yang telat hadir karena kemacetan, “Awal untuk melihat apa yang terjadi di masa lalu maka pelajarilah yang ada di masa sekarang dan untuk mngetahui apa yang terjadi di masa datang berkacalah pada jejak masa lalu, mudah-mudahan kegiatan ini bermanfaat dan mengsinspirasi masyarakat untuk tetap melestarikan alam dan budaya demi anak cucu kita,” demikian ungkapnya.

Sementara Kepala Bidang Pemetaan Ir.Sinung Baskoro bercerita tentang hubungan museum dan kertas. Menurut Sinung yang beberapakali pernah jadi kepala museum, Bumi dipelajari dalam ilmu geologi, di dalam geologi ada upaya pelestarian sumber daya yang dinamakan konservasi – konservasi geologi salahsatunya melalui museum dan di museum ini ada 10 jenis keleksi salahsatunya adalah dari kertas. Koleksi kertas ada di museum baik berupa poto,, peta ataupun ilustrasi-ilustrasi juga publikasi, informasi, buku panduan, leaflet, dsb, “Jadi pada dasarnya kita tak mungkin bisa melepaskan diri dari kertas.dan saya himbau manfaatkanlah kertas yang masih kosong seperti rejuse,” ajaknya..

Pamungkas Bambang Sugiharto berbicara kertas dari sudut pandang filsafat dan kebudayaan. Menurut dia seluruh realitas ini terbentuk dari bumi lalu kehidupan terbentuk dari bakteri, ganggang, sampai hominid hingga homo sapien, dari situlah tersirat awal peradaban manusia yang sangat khas yang sebagian besar awalnya dibentuk oleh kertas-kertas sebagai medium dari pikiran sebagai kendaraan untuk berinteraksi menyampaikan gagasan, kendaraan untuk pengetahuan. Intinya kertas itu semacam inrterpret antara manusia dan alam bagamiana alam diubah disesuaiakan dengan segala imajinasi manusia, pikiran, perasaan manusia dst. Dan dari aspek kegunaan secara teknis kertas bisa dibuat apa saja seperti pakaian, buku, uang, dsb

Tapi seni, melepaskan benda-benda itu dari aspek kegunaannya untuk dilihat secara intrinsik, nilai sang benda itu sendiri, para seniman seperti mengeskplorasi kekuatan keindahan, yang dia angkat tidak hanya bicara tentang kegunaanya saja. Jadi dunia seni/seniman memperlihatkan nilai intrinsik kertasnya justru dengan cara mengakalinya, seperti yang dilakukan Pa Wawan itu memperlihatkan begitu banyak siasat untuk mengangkat hakekat kertas justru dengan mengakalinya dan itu luar biasa ! Jadi salahsatu kekuatan seni adalah mengangkat nilai intrinsik dari realitas benda-benda khususnya dan realitas peradaban. Kedua nilai kontemplatif seni sekaligus merenungkan lebih jauh hakekat kertas itu dalam kaitannya dengan apapun, dengan kehidupan manusia, dengan peradaban, dengan spiriualitas manusia. Dalam kasus Pa Wawan bagaimana akhirnya kegiatan beliau menembus kertas perenungannya memebus kosmos, mikrokosmos, makrokosmos dan bahkan lebih jauh lagi metakosmos. inilah salahsatu sisi contoh dari kontemplatif seni. Kekuatan seni juga dari kekuatam eksploratifnya, seni terus menerus menggali segala kemungkinan yg terkandung di dalam benda-benda dalam hal ini kertas, “ Dan tadi kita lihat bagaimana Lisa Miles menjelaskan aneka kemungkinan eksplorasi teksnis dan tranpigurasi konfigurasinya kemudian menjadi apa saja bahkan dibandingkan teknologi seni itu kemampuan eksplorasinya lebih gila, dia mengskplorasi kemungkinan yang terkandung tersembunyi di dalam segala benda”, demikian papar Sang Professor.***Asep GP.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here