Home Bandung KASUS MEIKARTA, SUARA AHER NYARIS TAK TERDENGAR

KASUS MEIKARTA, SUARA AHER NYARIS TAK TERDENGAR

1628
0

OLEH UJANG KARTA*)

Paradox memang jika berita Meikarta yang bombastis, atas permintaan Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar yang mengatakan bahwa Meikarta harus di Stop. 

TaK Berizin, Wagub Jabar Minta Pembangunan Meikarta Dihentikan, begitulah kira-kira judulnya yang ramai pada 31 Jul 2017. Namun ada kejutan loh pada awal Agustus banner Meikarta Lippo Cikarang ada di Kantin Gedung Sate. Hehehehe lucu. Promo ini memang gencar sampai ke kementerian-kementerian. Apa tanggapan sang Naga Bonar? “Biarin saja. Ya saya kan sudah bilang hentikan bangunan dan pemasaran sampe ngurus izin dengan baik. ‎Itu aja.  Ya biarin aja (tidak diindahkan-red) yang penting kita udah ngimbau,” ujar Deddy yang dikonfirmasi terpisah oleh wartawan, Selasa 1 Agustus 2017.

Diakui dia, pihaknya memang tidak secara eksplisit melarang pemasaran di semua tempat umum. Namun jika memasarkan suatu yang ilegal, nanti aparat yang menegakkan hukumnya.

Deddy pun menuturkan, adanya banner dan brosur promosi di kantin Gedung Sate dilakukan oleh oknum-oknum yang mengambil untung. Belum tentu hal itu dilakukan oleh marketing Meikarta langsung. Aneh oknum selalu jadi alibi para pejabat.

Deddy berpatokan pada Perda 12/2014 maka Meikarda harus stop. Kasus  kontra terlihat di kawasan Gedung Sate. Meikarta Lippo Cikarang yang terang-terangan malah memasang iklan di Gedung Sate‎, tepatnya di kantin Gedung Sate, yang strategis dilalui banyak orang, Selasa 1 Agustus 2017. Banner promosi Meikarta terpampang jelas di gerbang masuk kantin Gedung Sate pagi itu. Beberapa orang marketing mempersiapkan brosur di meja yang berada di belakang banner tersebut.  Acara macam promo ini ada pembayaran umumnya promo sebesar Rp 150.000 dan mereka bayar ke pihak Koperasi. Diketahui bahwa sampai siang banner masih kokoh berdiri. Namun setelah beberapa media menghampiri marketing di sana, dalam waktu sekitar 30 menit, banner dan meja marketing di pintu masuk Kantin Gedung Sate sudah tidak ada lagi. Inlah yang disebut Paradox. Itu satu sample belum sejumlah Baliho yang banyak harusnya distop juga.Atau Pemda Jabar mengutil pajak reklame yang mana reklame Meikarta begitu masif. Makanya pihak Ombusman benar bahwa  Anggap Iklan Meikarta Terlalu Bombastis dan Langgar Aturan. Ombusman juga menilai Lippo Group seharusnya tak mempromosikan bahwa lahan Meikarta yang akan dibangun seluas 500 hektar. Padahal, lahan yang memiliki izin saat ini hanya 84,6 hektar.

Ombudsman RI menilai Lippo Group seharusnya belum boleh mengiklankan megaproyek Meikarta di Cikarang, Jawa Barat. Alasannya, beberapa perizinan seperti Analisis Dampak Lingkungan (Amdal) dan Izin Mendirikan Bangunan (IMB) belum dimiliki oleh PT Lippo Cikarang Tbk.

Komisioner Ombudsman RI Alamsyah Saragih menilai iklan yang disiarkan oleh Lippo merupakan bagian pemasaran. Sehingga, hal tersebut melanggar Undang-undang Nomor 20 Tahun 2011 tentang Rumah Susun.

Dalam Pasal 42 ayat (2) UU Nomor 20 Tahun 2011 disebutkan, pemasaran dapat dilakukan jika pengembang telah memiliki kepastian peruntukan ruang, hak atas tanah, status penguasaan rumah susun, perizinan pembangunan rumah susun, serta jaminan pembangunan rumah susun dari lembaga penjamin.

“Bagi kami sekali lagi itu adalah marketing dan tidak boleh dilakukan sebagaimana di UU Nomor 20 Tahun 2011. Itu salah,” kata Alamsyah dikutip laman katadata. Jumat (8/9/17).

Selain itu, Alamsyah juga menilai Lippo Group seharusnya tak mempromosikan bahwa lahan Meikarta yang akan dibangun seluas 500 hektar. Padahal, lahan yang dimiliki untuk pembangunan Meikarta saat ini hanya 84,6 hektar, yang mengacu Surat Keputusan yang diterbitkan Gubernur Jawa Barat Tahun 1994 terkait izin pembangunan permukiman dan komersial di lokasi Meikarta.

“Mudah-mudahan Lippo mulai mengoreksi iklan-iklannya untuk tidak terlalu bombastis menjual visi. Kalau mau menjual visi terus terang saja bilang kami berencana (membangun 500 hektar), sedang yang kami punya sudah 84,6 hektar sehingga publik itu tahu,” kata Alamsyah.

Ditepi lain meeting para tokoh aktivis di Menteng Jakarta bicara tentang Meikarta. Ada Hariman Siregar, komponen Angkatan 1974 (Malari), Angkatan 1977/1978 (Buku Putih), dan Angkatan 1998 (Reformasi). Mencuat bahwa Iklan Meikarta Di Skh Kompas dan Skh Jakarta Post, Itu Melanggar Kode Etik Pers. Djoko Edhi Abdurrahman mengatakan dalam tulisan panjangnya. Ada yang kurang di progress tadi malam dalam meeting tentang Meikarta. (18/9/17)Kata Edhi SPS tak dimasukkan. SPS akronim Serikat Penerbit Surat Kabar. Walau namanya surat kabar, di dalamnya tercakup majalah, tabloid, dan cetakan jurnalistik. Saya sudah periksa iklan meikarta di Skh Kompas dan Skh Jakarta Post, itu melanggar kode etik pers. Di Kompas, 5 halaman, sudah lebih seminggu. Di Jakarta Post, tiga halaman menggunakan bahasa indonesia hampir sama.

Seluruh peraturan tampaknya ditabrak Meikarta. Sama persis dengan Pulau Reklamasi. Izin tak lengkap, secara hukum disebut ilegal. Analisis dari Komisi Ombudsman, cukup jelas, melarang Meikarta lanjut. Yaitu, ilegal. Dan dijawab dengan iklan besar-besaran yang lalu ditafsirkan telah menginvasi kedaulatan Pasal 1 UUD 2002.

Menurut saya, kesalahan bukan pada Meikarta, melainkan pada yang memuat iklan tersebut. Surat kabar adalah ruang publik, parameternya sudah diatur oleh UU No 40 ttg Pers.

Ruang publik tersebut diatur secara ilmiah dalam doktrin dikhotomi pers (masyarakat dan lembaga pers). Juga doktrin trikhotomi pers (Wartawan, Perusahaan, Publik). Aturan main ini baku dan setahu saya belum ada perubahan mendasar. Ada satu, hak wartawan yang dulu sudah diatur memiliki saham kosong 20%, kini tak jelas. Bahkan yang 20% dulu itu diambil orang lain. Misalnya di Jawa Pos saya pionir, mestinya dapat saham, setelah reformasi, bahkan saham yang 20% diambil Dahlan Iskan. Lainnya tak ada perubahan.

Jadi ada ruang publik yang diatur dalam  kode etik produk jurnalistik yang secara teknik filosofis berasal dari dikhotomi pers dan trikhotomi pers. Meikarta melanggarnya. Jadi Hariman Siregar, tokoh sentral Malari 74 itu mengundang komponen 74, 77, 78, 98 untuk melakukan koreksi. “Meikarta sudah gila”, katanya. Aneh memang, Meikarta kayak Ahok, maksa banget, nabrak sana sini, kayak orang mabok PPC.

Malam itu pentolan aktivis yang ternyata memiliki perasaan sama. Saya tidak tahu mana orangnya kubu Cina Intelektual dan versusnya kubu Cina Preman. James Riyadi,  pemilik Meikarta, adalah kubu Cina Intelektual, di situ ada Haliman, Mukmin Ali, Ahok, et cetera. Di kubu Preman, ada Aguan, Tommy Winata, Sukanto Tanoto, et cetera.

Saya malah sibuk mengurai perang antar naga ini. Mudah-mudahan para aktivis tak terbagi kedua kubu Nine Swords. Maksud saya, protes ke Meikarta, jernih, tak disetir Nine Swords. Apapun, maboknya James Riyadi harus dihentikan, begitu  tulisnya Djoko Edhi Abdurrahman.

Nah jika diatas adalah bagian dari pengantar agar jelas maka judul tulisan ini memang buat Ahmad Heryawan (Aher). Karena jujur saja saya kok ingin bertanya kemana Aher saat ramai Meikarta ini?

Aher yang Gubernur Jawa Barat kok nyaris tak ada suaranya soal Maikarta ini. Saya dengar siah  Aher sedang punya mimpi ingin jadi Wapres bareng GN di 2019. Boleh saja namanya juga mimpi jadi sah. Mimpi itu hak setiap orang.

Atau Aher memang sengaja diam seperti saat ini karena sama kasusnya juga atas tanah samping Gasibu dan kemudian ujug-ujug ada Pullman milik Agung Podomoro di depan Gedung Bersejarah Gedung Sate itu…saya hanya bertanya loh…dimana Aher?

Kok cuma Deddy Naga Bonar yang ramai. Apakaha karena Deddy akan maju Gubernur? Atau Aher sudah diam karena sebagai Gubenrur sudah dua kali dia duduk empuk di gedung sate? Semoga saja semuanya tidak bocor…ya….Preeettt….!!!.

Kita tahu Mega Proyek Kota Baru Meikarta ada nilai besar dan luar biasa sebesar Rp 278 Triliun, Proyek ini proyek yang disinyalir nama Lippo tidak biasanya muncul. Meikarta adalah kekuatan yang gila dan kuat.

baca: http://www.jabarsatu.com/2017/08/26/dua-jenderal-sunda-beking-meikarta-jenderal-naga-bonar-melawan-aher-kok-bungkam-ya-soal-meikarta/

Akhirnya saya Ujang menunggu apa yang Aher ingin sampaikan tentang Meikarta, jangan sampai suaranya nyaris tak terdengar. Bukankah Aher rajin berkicau di twitter, maka sangat paradox kalau Aher diam soal Meikarta. Ditunggu kang Aher suaramu!

*) wartawan

Previous articleKonflik Tanah Dago Elos yang Belum Lolos
Next articleTiga Kebakaran Sepanjang September 2017 di Bandung

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


Notice: Function amp_has_paired_endpoint was called incorrectly. Function called while AMP is disabled via `amp_is_enabled` filter. The service ID "paired_routing" is not recognized and cannot be retrieved. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 2.1.1.) in /home/jabarsatu/public_html/wp-includes/functions.php on line 5831

Notice: Function amp_has_paired_endpoint was called incorrectly. Function called while AMP is disabled via `amp_is_enabled` filter. The service ID "paired_routing" is not recognized and cannot be retrieved. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 2.1.1.) in /home/jabarsatu/public_html/wp-includes/functions.php on line 5831

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.