Home Bandung Angka Perceraian di Sukabumi Cukup Tinggi

Angka Perceraian di Sukabumi Cukup Tinggi

802
0

JABARSATU – Angka perceraian di Kota Sukabumi dinilai cukup tinggi. Bahkan dalam periode Januari 2017 sampai pertengahan Mei 2017 ini, perceraian sudah mencapai angka 251 kasus. Dikhawatirkan angkanya semakin bertambah. Apalagi kebanyakan dipicu masalah himpitan ekonomi

“Kasus perceraian tersebut didominasi cerai gugat. Dimana sang istri menggugat suami untuk menceraikan. Sebagian besar didominasi karena dipicu masalah ekonomi,” kata Panitera Muda Pemohonan Pengadilan Agama Kota Sukabumi, Umi Kulsum.

Umi Kulsum mengatakan kasus perceraian di Kota Sukabumi trennya memang meningkat. Bahkan, peningkatannya cukup signifikan. Perceraian yang awalnya hanya 577 kasus pada 2015, merangkak naik hingga sebanyak 640 kasus pada 2016.

“Dan selama tahun 2017 ini, hanya kurang dari lima bulan, telah mencapai 251 kasus perceraian. Tidak menutupkemungkinan bertambah. Dari 251 kasus itu, diperkirakan 218 merupakan cerai gugat,” katanya.

Sementara dari data Pengadilan Agama (PA) Kota Sukabumi, terdabat sejumlah penyebab terjadinya kasus perceraian. Tidak hanya akibat  himpitan ekonomi, tapi juga perselingkuhan pasangan.

“Didominasi masalah ekonomi dan perselingkuhan. Sedangkan KDRT berada diurutan ketiga jumlah kurang dari 10 persen,” kata Wakil Ketua Pengadilan Agama (PA) Kota Sukabumi, Ida Nursaadah,

Sementara itu, Kepala Kementrian Agama Kabupaten Sukabumi, Hilmy Rivai mengatakan telah meminta Pemkab Sukabumi menyatakan darurat keluarga sakinah. Bahkan Kementrian Agama kini telah melakukan berbagai upaya untuk mencegah terjadi penceraian. Terutama menghadapi konflik dalam rumah tangga.

“Kami mencoba melakukan berbagai terosoan dengan memasuki program sakinah ke dalam kurikulum pendidikan. Tapi bila sulit terwujud dapat dilakukan melalui penyuluh keluarga sakinah,” katanya.

Sebenarnya, kata Hilmy Rivai program tersebut sudah dicoba diterapkan di lingkungan pendidikan Kementerian Agama Kabupaten Sukabumi. Bahkan dengan sasaran seluruh Madrasah Aliyah (MA). “Sejumlah madrasah aliyah sudah kita coba datangi dan beri pendidikan sakinah. Dari mulai Kecamatan Surade hingga Cibadak,” katanya.

Melalui pendidikan sakinah, kata Hilmy, diharapkan orientasi nikah-cerai yang sudah seperti gaya hidup, bisa diminimalisir. Dan tidak menutup kemungkinan dapat dicegah melalui pemahaman sejak awal sebelum pasangan melakukan pernikahan.

“Memang perceraian itu tidak dilarang, tapi dibenci Allah. Makanya pendidikan sakinah ini perlu diberikan kepada warga sejak awal,” kata dia.(PR/JBS/MD)

Previous articlePersaingan Kualitas Perguruan Tinggi Di Indonesia Dinilai Masih Rendah
Next articleSurat Terbuka Dosen Abrar untuk Kapolri

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.