Home Hukum Surat Terbuka Jaya Suprana Menyikapi Kebiadaban Ahok

Surat Terbuka Jaya Suprana Menyikapi Kebiadaban Ahok

1322
0

JAYA SupranaJABARSATU – Kebiadaban Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta dalam melakukan penggusuran paksa terhadap warga Kampung Pulo, Jatinegara, Jakarta Timur, memancing kemarahan publik hingga sejumlah aktivis organisasi pemuda dan mahasiswa pada Sabtu lalu (22/8) membuat gerakan “Lawan Ahok”. Dan di Twitter, tagar #LawanAhok sempat menjadi trending topicnomor 1 di dunia. Hal itu cukup menjelaskan seberapa besar kemarahan masyarakat terhadapnya.

Bukan kali ini saja Ahok membuat masyarakat tersinggung dan marah, berkali-kali Ahok telah melakukan tindakan sewenang-wenang yang secara pelan terakumulasi dan sangat mungkin suatu saat bisa meletus menjadi suatu hal yang tidak diinginkan.

Di antaranya adalah ucapan-ucapan kasar dan tak beretikanya yang merendahkan orang lain seperti kata tai, goblok, dan lain sebagainya; dimana kata-kata itu tidak pantas diucapkan oleh seorang figur publik apalagi diucapkan di depan publik; hingga masyarakat menjulukinya sebagai “Si Mulut Comberan”. Bahkan di forum Kaskus, nama Ahok diplesetkan menjadi Hoax yang berarti “Omong Kosong”.

Lain lagi, Ahok juga terindikasi KKN dalam permasalahan Rumah Sakit Sumber Waras sebagaimana temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap laporan keuangan Pemerintah Provinsi Jakarta. Untuk menghindari tuduhan tersebut, ia justru menuduh siapa saja yang menuduhnya melakukan tindak pidana korupsi sebagai orang-orang yang tidak bersih alias korup. Menuding pihak lain sebagai orang-orang yang korup untuk “membuktikan” dirinya tidaklah melakukan kejahatan tersebut.

Sikap Ahok yang jauh dari sikap pantas seorang pemimpin itu menjadikan Jaya Suprana, seorang budayawan yang berasal dari etnis Cina, sebagaimana Ahok, merasa khawatir, bahwa kebiadaban-kebiadaban yang telah Ahok lakukan akan berimbas kepada orang-orang dari keturunan Cina lainnya di Indonesia.

Menyikapi hal itu, Jaya Suprana pada Rabu (25/3) lalu pernah menulis Surat Terbuka untuk Ahok, berharap Ahok bertobat dari kebiadaban-kebiadabannya dan segera kembali ke jalan yang benar.

Berikut Surat Terbuka Jaya Suprana kepada Ahok yang disampaikan melalui harian Sinar Harapan:

SURAT TERBUKA JAYA SUPRANA KEPADA AHOK

Bapak Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang terhormat.

Saya sangat menghormati, menghargai, dan mengagumi semangat perjuangan Anda dalam membasmi korupsi dari persada Nusantara tercinta ini. Bagi saya, Anda memang layak tokoh pembasmi korupsi Indonesia yang paling konsekuen dan konsisten. Anda layak dielu-elukan sebagai jawara, pendekar, cowboy, bahkan superhero pembasmi korupsi seperti yang tampil di berbagai meme yang mengelu-elukan semangat perjuangan Ahok membasmi korupsi.

Sebagai sesama warga Indonesia keturunan Tionghoa dan umat Nasrani, saya juga sangat bangga atas semangat perjuangan Anda membasmi korupsi. Namun, akhir-akhir ini terasa bahwa lambat tetapi pasti timbul rasa kebencian masyarakat terhadap kata-kata dan kalimat-kalimat Anda yang dianggap tidak sopan dan tidak santun sehingga tidak layak saya tulis di surat permohonan terbuka di Sinar Harapan yang tersohor sopan dan santun dalam pemberitaan ini.

Bahkan, teman-teman saya yang cendekiawan, rohaniwan, akademikus bukan politikus yang semula mendukung Anda kini mulai meragukan dukungan mereka terhadap Anda. Apalagi mereka yang sejak semula tidak mendukung kini malah mulai membenci Anda. Saya tahu, Anda seorang pemberani, apalagi sudah disemangati oleh mereka yang muak korupsi, tetapi tidak mau atau tidak mampu turun tangan sendiri, pasti sama sekali tidak takut menghadapi dampak ucapan kata-kata Anda. Namun, saya yang pengecut ini yang takut dan saya yakin saya tidak sendirian dalam ketakutan.

Bukan rahasia lagi, bahkan fakta sejarah, bahwa telah berulang kali terjadi malapetaka huru-hara rasialis di persada Nusantara. Akibat memang beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka beberapa titik nila merusak susu sebelanga. Akibat beberapa insan keturunan Tionghoa bersikap dan berperilaku layak dibenci maka seluruh warga keturunan Tionghoa di Indonesia dipukul-rata untuk dianggap layak dibenci.

Cukup banyak warga keturunan Tionghoa jatuh sebagai korban nyawa termasuk ayah kandung dan beberapa sanak-keluarga saya sendiri di masa kemelut tragedi G-30-S. Nyawa saya pribadi memang selamat, namun sekolah saya dibakar dan ditutup hanya akibat digolongkan sebagai sekolah kaum keturunan Tionghoa, padahal saya pribadi tidak pernah setuju komunisme.

Ketika huru-hara rasialis 1980-an di Semarang, kantor saya dilempari batu. Mobil saya dibakar dan rumah saya nyaris dibumi-hanguskan para huruharawan apabila tidak diselamatkan oleh TNI, kepolisian, dan tetangga saya yang justru bukan keturunan Tionghoa.

Saya kira, Anda juga sadar bahwa kini memang tidak ada lagi penindasan terhadap kaum keturunan Tionghoa, namun jangan lupa bahwa suasana indah ini hanya bisa terjadi berkat perjuangan almarhum Gus Dur, yang dilanjutkan Megawati, SBY, dan kini Jokowi yang secara politis dan hukum melarang diskriminasi terhadap kaum keturunan China yang berdasar Keppres SBY 2014 disebut Tionghoa.

Pada kenyataan sebenarnya kebencian terhadap kaum Tionghoa di Indonesia belum lenyap. Kebencian masih hadir sebagai api dalam sekam yang setiap saat rawan membara, bahkan meledak menjadi huru-hara apabila ada alasan. Tidak kurang dari Imam Besar FPI, Habib Rieziq, menyatakan kepada saya pribadi bahwa beliau menghargai semangat Anda membasmi korupsi, namun yang tidak disukai pada diri Anda hanyalah kata-kata tidak sopan saja.

Bukan sesuatu yang mustahil bahwa kata-kata tidak sopan Anda menyulut sumbu kebencian sehingga meledak menjadi tragedi huru-hara yang tentu saja tidak ada yang mengharapkannya. Maka dengan penuh kerendahan hati, saya memberanikan diri untuk memohon Anda berkenan lebih menahan diri dalam mengucapkan kata-kata yang mungkin apalagi pasti menyinggung perasaan bangsa Indonesia. Terima kasih dari seorang warga Indonesia yang tidak sepemberani Anda.

Jaya Suprana

sumber ; www.pribuminews.com

Previous articleKoper Pecah di Bagasi Garuda
Next articleMantan Jampidsus Bilang Bukti Kasus Dua Guru JIS Lemah

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.