Home JabarKini Merchant of Emotion, Gelar Pementasan Teater Multimedia “Semasa”

Merchant of Emotion, Gelar Pementasan Teater Multimedia “Semasa”

526
0
ilustrsi
ilustrsi
ilustrsi

JABARSATU.COM  – Merchant of Emotion, gelar pementasan teater multimedia dengan tajuk SEMASA – Dawn of Sunset: in merupakan dramatic Reading yang dimainkan oleh para mahsiswa di Bandung. Berlangsung  Sabtu, 13 Juni 2015  jam 16.00 & 19.00 di Auditorium IFI — Jalan Purnawarman No. 32, Bandung.

Menurut produser pementasan Tri Adi Pasha Senin (1/7/2015), Dramatic Reading merupakan penyampaian sebuah cerita dalam dunia teater. Melalui SEMASA, memperkenalkan penonton pada luasnya alternatif penyampaian cerita yang menghibur, interaktif, dan dikemas sesuai dengan zamannya. Maka melalui SEMASA, mengajak khalayak luas untuk turut serta melihat segala hal yang terjadi dalam produksi teater melalui tiga acara utama.

SEMASA menerjemahkan halaman-halaman naskah, layar dan latar, serta panggung dan projection mapping sebagai dunia alternatif untuk menjelajahi berbagai pertanyaan baru. Penonton akan diajak untuk menyaksikan kisah tentang seorang bocah tanpa nama di awal penciptaan dan perjalanannya menjadi manusia. Acara ini akan mengawali rangkaian pementasan SEMASA – Dawn of Sunset: A Dramatic Reading,

“Kita akan mulai dengan acara Open Rehearsal, sebagai pendahulu dari Main Performance yang meriah, dan ditutup dengan selebrasi dalam After Party” ujar Adi seraya menyebutkan, dengan ketiga acara yang digelar secara berurutan, penonton dapat memberikan opininya secara langsung terhadap pertunjukan yang telah mereka saksikan dan menumbuhkan apresiasi yang lebih baik terhadap proses produksi teater. Dalam SEMASA, upaya Merchant of Emotion untuk terus memunculkan gagasan dan eksperimen melalui new media telah mencapai tahapan baru. Dibentuk sebagai sebuah pertunjukan yang intim.

Kenapa demikian? Hal ini mengacu pada kisah Michael Kahn saat  mengambil alih Shakespeare Theatre pada tahun 1980, Sang Sutradara berinisiatif untuk membuka seluruh proses produksi “Richard III” kepada penonton selama satu hari dalam sebuah gladiresik — pertaruhan yang tak lazim kala itu sebagai satu-satunya cara yang ia rasa dapat mengembalikan kejayaan teater.

Stacy Keach dan para pemeran lainnya pun tidak menyangka betapa besar animo yang muncul dari sesama penikmat dan penggiat teater. Sebuah inisiatif yang kini menjadi tradisi, karena gladiresik terbuka tetap dilakukan Shakespeare Thetare hingga kini.

Seiring berkembangnya dunia seni pertunjukan, para penggiat teater terus berusaha mencari berbagai cara untuk menarik keterlibatan penonton dalam karya mereka. Proses apresiasi dan apropriasi menjadi tidak hanya terbatas hanya di atas panggung, karena agaknya banyak pula yang tertarik untuk melihat apa terjadi sebelum tirai dibuka di malam perdana. Sebuah upaya menjalin keterikatan antara penggiat dan penikmat seni pertunjukan di dalam dan di luar peran yang disaksikan.

Pementasan ini terselenggara atas kerja sama dengan IFI (Institut Francais D’Indonesie) dan merupakan bagian dari Printemps Français 2015, sebuah festival yang menampilkan skena kebudayaan modern Prancis bersama dengan beberapa seniman Indonesia.

 

 

Previous articleHari ini, Petugas Lepas Banceuy yang Terlibat Narkoba Dipecat
Next articlePemerintah Bersiap Siap Impor Cabai dan Bawang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.