Home JabarKini Wanita Dibalik Bola Piala Dunia 2014

Wanita Dibalik Bola Piala Dunia 2014

480
0

wanita bola

JABARSATU.COM – Wanita ini tidak tahu siapa Lionel Messi dan negaranya tidak ikut bermain. Namun, ibu lima anak Gulshan Bibi tidak sabar menunggu Piala Dunia 2014 karena dia turut membantu membuat Brazuca yang merupakan bola resmi untuk ajang akbar tersebut.
Mulainya Piala Dunia akan ditandai dengan laga antara tuan rumah Brasil melawan Kroasia di Sao Paolo pada 12 Juni. Ada kemungkinan mereka akan menggunakan bola yang dibuat oleh Gulshan dan rekan-rekannya di pabrik Forward Sports di Sialkot, kota sebelah timur Pakistan.
“Saya tidak sabar menanti Piala Dunia dan Insya Allah kita akan menonton pertandingan. Bola yang kita buat akan digunakan dan semua wanita yang bekerja di sini sangat bangga,” kata Gulshan kepada AFP.
Pakistan yang menggilai kriket tentu tidak memiliki banyak pemain sepak bola. Negara ini berada di urutan 159 peringkat dunia FIFA. Akan tetapi, kota Sialkot memiliki sejarah panjang manufaktur bola kelas atas.
Forward Sports telah bekerja sama dengan Adidas sejak tahun 1995 dan menyediakan bola ke beberapa kompetisi sepak bola top dunia, termasuk Liga Champions, Bundesliga Jerman, dan sekarang Piala Dunia.
Pada awalnya, seorang tukang sepatu pernah diminta untuk memperbaiki bola yang tertusuk di era kolonial tentara Inggris. Dia kemudian mempelajari bagaimana membuat bola. Maka dimulailah sebuah usaha bisnis yang sukses yang melahirkan sebuah industri. Namun, skandal pekerja anak di tahun 1990-an membuat usahanya nyaris tenggelam.
Sekarang, merek internasional seperti Adidas bekerja sama dengan pabrik-pabrik dan LSM untuk menegakkan pemeriksaan ketat untuk mencegah anak-anak bekerja menjahit bola. Di Forward Sports, pekerja harus memperlihatkan kartu tanda penduduk untuk membuktikan bahwa dia berusia di 18 tahun ke atas.
Teknologi tinggi
Pabrik Forward Sports berdiri sejauh “tendangan bebas” dari debu dan kekacauan Grand Trunk Road, jalan raya kuno yang melintasi benua sepanjang jalan Kolkata.
Berbeda dengan pemandangan jalan yang kacau dengan suara truk barang kuno yang memekak telinga, gerobak keledai, dan sepeda motor kelebihan beban yang bergerak menghindari lubang, di dalam pabrik justru terlihat pemandangan sebaliknya, ada ketertiban dan efisiensi.
Di baris produksi Brazuca, wanita berjilbab, beberapa dengan wajah tertutup cadar, terlihat bekerja dengan cekatan. Mereka mulai dengan memotong pola berbentuk baling-baling putih datar dari bahan polyurethane, menambahkan warna-warna cerah khas Brazuca lalu mengelemnya ke bola.
Jahitan kemudian diberi lapisan khusus dan bola dipanaskan serta dikompresi dalam penjepit bola untuk memberikan bentuk yang pas. Seluruh proses memakan waktu 40 menit —kecepatan sangat penting untuk mencegah kotoran masuk ke bola—, dan pabrik dapat menghasilkan sampai 100 bola per jam.
Ini terbilang sebuah proses berteknologi tinggi di negara Pakistan karena sebagian besar tenaga kerja tidak terampil dan berpendidikan rendah, hanya sekitar setengah dari populasi dapat membaca dan menulis.
“Kami merekrut pekerja tidak terampil dan melatih mereka. Ini adalah pekerjaan yang tidak tersedia di tempat lain. Anda harus mendapatkan seseorang yang memiliki sikap yang baik dan melatih mereka,” kata CEO Forward Sports Khawaja Masood Akhtar.
Sebanyak 90 persen dari mereka yang bekerja membuat Brazuca adalah perempuan. Sesuatu yang tidak biasa di Pakistan karena wanita biasanya diharapkan tinggal di rumah dengan keluarga. Namun, Akhtar mengatakan bahwa mereka lebih rajin dan teliti daripada rekan-rekan pria mereka.(JBS/KOMPAS/MD)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.