Home Hukum Ini Alasan Wali Kota Depok Tak Turun Dari Mobil Dinasnya, Saat Tabrak...

Ini Alasan Wali Kota Depok Tak Turun Dari Mobil Dinasnya, Saat Tabrak Pengendara Motor Seminggu Lalu

819
0

nurmahmudi

JABARSATU.COM –   Sebuah sepeda motor Yamaha Vega B 6200 ELW yang dikendarai Tasma Rosyid (44) seorang buruh bangunan, diketahui masuk hingga berada di kolong mobil Pajero Sport hitam B 1828 RFQ yang ditumpangi Wali Kota Depok, Nur Mahmudi Ismail. Ini terjadi seminggu lalu di Jalan Sawangan, Mampang, Pancoran Mas, Depok, Senin (12/5/2014) lalu.
“Korban terpental ke kiri, sementara sepeda motornya masuk ke kolong mobil Pajeronya Pak Wali Kota,” kata Wawan (35) saksi kejadian itu.
Ia mengatakan saat itu Tasma melintas di Jalan Sawangan dari arah Depok menuju Ciputat. Tepat setelah perempatan Mampang, Tasma memberhentikan kendaraannya karena ada angkot yang berhenti.
Karenanya Tasma mencoba menyalip angkot itu. Tak lama iring-iringan rombongan Wali Kota Depok juga hendak melintas ke arah yang sama.
Sementara itu, Senin kemarin (19/5/14) Wali Kota Depok Nur Mahmudi Ismail mengakui bahwa dirinya tidak turun dari mobil dinasnya, menabrak sepeda motor Yamaha Vega Yamaha Vega B 6200 ELW, yang dikendarai Tasma Rosyid (44) seorang buruh bangunan hingga mengalami luka serius di jari kaki dan dadanya.
“Saya tidak turun dari mobil, bukan berarti saya arogan. Sebab tidak semestinya saya turun. Dalam tata acara, selama kejadian sudah ada yang menangani, maka tidak perlu saya turun,” kata Nur Mahmudi kepada wartawan di Balaikota, Depok.
Menurut Nur Mahmudi, saat mengetahui mobil dinasnya menabrak sepeda motor, rombongan mereka berhenti.
“Sudah ada yang menangani korban. SOP sudah kami lakukan, jadi saya tidak harus turun. Kami juga ada tamu lain, saya tidak turun karena ada polisi. Yang melakukan semuanya polisi, yang menentukan saya jalan atau tidak itu, polisi,” katanya.
Ia mengaku sudah memerintahkan staf dan jajarannya untuk mengurusi korban dan sepeda motornya. Menurutnya beberapa personil kepolisian dan dishub sudah turun dan memberikan pertolongan ke korban.
“Korban dipinggirkan, begitu juga sepeda motornya. Selanjutnya unit pertolongan Dishub panggil pertolongan dan berikan pelayanan. Sepeda motor dibawa ke bengkel dan selanjutnya tim medis beri pertolongan ke korban untuk mendapatkan perawatan yang tepat pada luka-luka korban,” katanya.
Menurut Nur Mahmudi yang perlu disadari semua pihak adalah rangkaian kendaraan rombongannya itu dilindungi undang-undang.
“Jadi perlu saling menghormati dan bukan untuk arogansi. Jika polisi sudah beri isyararat maka semua harus beri jalan. Ini adalah rangkaian resmi,” katanya.(JBD/TN/MD)

Previous articleDemokrat Galau tetapi Rasional
Next articleMusik,Puisi dan Orasi Malam Renungan Kebangkitan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.