Home Hukum 10 November 1945, Bangkitkan Semangat Kepahlawanan

10 November 1945, Bangkitkan Semangat Kepahlawanan

52
0

10 November 1945 Membangkitkan Semangat Kepahlawanan
“…selama banteng-banteng Indonesia masih mempunyai darah merah yang dapat membikin secarik kain putih, merah dan putih maka selama itu tidak akan kita mau menyerah kepada siapapun juga! Kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka! semboyan kita tetap merdeka atau mati… Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Allahu Akbar!!! Merdeka!!!” Suara Bung Tomo menggelegar lewat radio pemberontakan yang disiarkan dari Jl. Mawar Nomor 4 Surabaya.

Pidato berapi-api itu berkumandang 9 November 1945 jam 11 malam setelah Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh selaku pemimpin Tentara Inggris di surabaya mengultimatum rakyat Surabaya agar menyerah dan menyerahkan semua persenjataan kepada NICA terkait dengan terbunuhnya Brigadir Jenderal Malaby di Surabaya.
Semangat tempur rakyat Surabaya saat itu menggelora, tak tersirat rasa gentar pada raut wajah mereka walaupun Inggris mengancam akan menyerang dengan kekuatan penuh. Walau sebelumnya pemerintah pusat yang diwakili bung Hatta mencoba melobi Inggris agar tak menyerang Surabaya dan ditolak.

Latar Belakang
Proklamasi kemerdekaan indonesia 17 Agustus 1945 diteruskan dengan maklumat tertanggal 31 Agustus 1945 agar mulai 1 September 1945 rakyat Indonesia mengibarkan bendera merah putih di seluruh wilayah Indonesia, ini ditinjaklanjuti di seluruh belahan negeri termasuk Surabaya.

Sampai akhirnya tanggal 18 September 1945 sekelompok orang Belanda yang dipimpin Ploegman mengibarkan bendera Belanda yang berwarna Merah Putih Biru di Hotel Yamato. Hal ini membangkitkan kemarahan rakyat Surabaya, massa berkumpul di depan hotel; Residen Soedirman mendatangi Ploegman didampingi Sidik dan Haryono ia meminta bendera tersebut diturunkan namun ditolak lalu berujung perkelahan dimana Poegman tewas dicekik Sidik dan sidik meregang nyawa oleh pistol Belanda.

Tak hanya sampai di situ beberapa pemuda Surabaya memnjat atap hotel dan menurunkan bendera Belanda tersebut dilanjutkan aksi perobekan bagian biru bendera lalu mengibarkan kembali bendera Merah Putih oleh Kusno Wibowo.

Pada tanggal 25 Oktober 1945 Sekutu yang diwakili Inggris mendarat di Surabaya dengan misi melucuti senjata Jepang dan juga senjata yang dmiliki oleh Milisi Indonesia di Surabaya. Misi ini ditolak rakyat Surabaya hingga meletuslah perang Pertama dengan inggris di tanggal 27 Oktober 1945. Perlawanan ini salah satunya dipicu oleh resolusi Jihad yang dikeluarkan oleh Hadratus Syech KH. Hasyim Asy’ari yang menyebabkan banyak pemuda berdatangan ke Surabaya untuk berjihad.

Pada tanggal 29 Oktober Presiden Soekarno, Wapres Moh Hatta dan Amir Syarifudin datang ke Surabaya menandatangani gencatan senjata, ubtuk mencegah banyak rakyat Surabaya yang jadi korban. Akan tetapi umurnya hanya 24 jam karena ditanggal 30 Oktober 1945 Mallaby tewas terbunuh oleh pistol milisi dan mobil yang dikendarainya hancur karena granat di Jembatan Merah, Inggris marah besar kenapa? Sealama Perang Dunia II tak satupun Jenderal inggris tewas dan di Surabaya terbunuh dengan cara yang menyakitkan. Tidak berlama-lama Inggris menunjuk Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh yang langsung datang dari Singapura menggantikan Mallaby, dan mengeluarkan ultimatum agar warga Surabaya menyerah.

Dengan 28.000 personil tentarayang terlatih saat Perang Dunia II didukung armada perang yang lengkap dari mulai tank, Pesawat, mortir, meriam Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh sesumbar akan tudndukan Surabaya dalm 3 hari.

Perang 10 November
Pagi hari suara pesawat Thunderbolt terdengar di atas langit Surabaya bom pun berjatuhan ledakan di mana-mana, desingan peluru, darahpun tumpah. Tercatat 120.000 rakyat Surabaya yang dengan gagah berani bertempur menghadapi tentara Inggris.
Raungan mesin perang disambut dengan gema takbir yang membahana, dengan persenjataan seadanya mereka terus maju menyabut rentetatan peluru, hal ini membuat tentara Inggris memberikan julukan Inferno atau Neraka di Timur Jawa; betapa tidak sebelumnya mereka bisa menaklukkan keperkasaan Jerman pada Perang Dunia II tapi mendapat perlawanan yang sangat gigih di Surabaya.

Pada perang ini Inggris membawa serta Pasukan elit mereka yaitu tentara Gurkha yang rata-rata muslim. Saat Gurkha menyerang dengan mengumandangkan takbir dibalas takbir oleh tentara Indonesia, bahkan dikisahkan tentara gurkha sempat sholat berjamaah bersama tentara Indonesia. Rasa kesamaan inilah yang membuat 600 tentara Gurkha membelot membantu tentara Indonesia berperang melawan Inggris.

Kejumawaan Mayor Jenderal Eric Carden Robert Mansergh tidak terbukti, perang yang dia umbar akan diselesaikan hanya dalam 3 hari ternyata meleset total, baru 21 hari Sekutu bisa menduduki penuh Surabaya. Tercatat 16.000 tentara indonesia tewas sedang Inggris 2.000 tentara. Walaupun menang dalam perang ini tetapi Indonesia menang secara strategis, politik dan psikologis, karena perlawanan rakyat Surabaya membakar semangat perlawanan rakyat Indonesia secara keseluruhan. Inggrispun meninggalkan Surabaya stahaun kemudain yakni pada November 1946.

EP. Prapanca (Penyuka Sejarah)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.