Home JabarKini Selamat Jalan Sastrawan Besar Kang Ajip Rosidi

Selamat Jalan Sastrawan Besar Kang Ajip Rosidi

85
0
Sastrawan Besar Indonesia Ajip Rosidi/ FOTO ANDI SOPIANDI/JBS

JABARSATU.COM – Innalillahi wa inna ilaihi roji’un. Telah berpulang ke Rahmatullah, sastrawan besar Ajip Rosidi. Beliau juga sebagai pendiri Yayasan Kebudayaan “Rancagé”. Ayip Rosidi meninggal pada hari Rabu, 29 Juli 2020 pukul 22.20 WIB di Rumah Sakit Tidar Magelang, Jawa Tengah, dalam perawatan pascaoperasi di RSUD Tidar Kota Magelang, Jawa Tengah. Menurut keterangan salah seorang putranya, Ajip harus menjalani operasi karena perdarahan di otak, akibat terjatuh. Dan info resmi dari Déwan Pengurus Yayasan Kebudayaan “Rancagé” pun tersampaikan.

Ajip Rosidi adalah Sastrawan dan Budayawan yang lahir 31 Januari 1938. Seniman Sunda kelahiran Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat pada tahun ini genap 82 tahun. Ia adalah adalah sastrawan Indonesia, penulis, budayawan, dosen, pendiri, dan redaktur beberapa penerbit, pendiri serta ketua Yayasan Kebudayaan Rancage.

Ketika usia Ajip Rosidi dua tahun, kedua orang tuanya berpisah, sehingga ia diasuh oleh neneknya (dari pihak ibu), kemudian oleh pamannya (dari pihak bapak) yang bermukim di Jakarta. Pada saat itu kehidupannya sangat sederhana, bahkan boleh dikatakan kekurangan. Ajip Rosidi mulai menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat Jatiwangi (1950), lalu melanjutkan ke Sekolah Menengah Pertama Negeri VIII Jakarta (1953) dan terakhir, Taman Madya, Taman Siswa Jakarta (1956).

Namun, hal itu merupakan cambuk bagi dirinya untuk meningkatkan taraf hidupnya. Akhirnya, ia berhasil dapat mengembangkan kariernya di bidang seni sastra, baik sastra Indonesia maupun sastra Sunda di bidang penerbitan, dan di bidang pengetahuan bahasa Indonesianya (ketika berada di Jepang).

Dia adalah tokoh di segala bidang yang masih muda usia jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh sastra terkenal zaman itu.

Meski tidak tamat sekolah menengah, namun dia dipercaya mengajar sebagai dosen di perguruan tinggi Indonesia, dan sejak 1967, juga mengajar di sejumlah kampus di Jepang. Pada 31 Januari 2011, ia menerima gelar Doktor honoris causa bidang Ilmu Budaya dari Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran. Ajip adalah tokoh penting di tanah air.

Perjalanan Ajip dalam menulis mula-mula menulis karya kreatif dalam bahasa Indonesia, kemudian telaah dan komentar tentang sastra, bahasa dan budaya, baik berupa artikel, buku atau makalah dalam berbagai pertemuan di tingkat regional, nasional, maupun internasional. Ia banyak melacak jejak dan tonggak alur sejarah sastra Indonesia dan Sunda, menyampaikan pandangan tentang masalah sosial politik, baik berupa artikel dalam majalah, berupa ceramah atau makalah. Dia juga menulis biografi seniman dan tokoh politik.

Ia mulai mengumumkan karya sastra tahun 1952, dimuat dalam majalah-majalah terkemuka pada waktu itu seperti Mimbar Indonesia, Gelanggang/Siasat, Indonesia, Zenith, Kisah, dll. Menurut penelitian Dr. Ulrich Kratz (1988), sampai dengan tahun 1983, AJIP ADALAH PENGARANG SAJAK DAN CERITA PENDEK YANG PALING PRODUKTIF ada 326 JUDUL KARYA DIMUAT DALAM 22 MAJALAH.

Bukunya yang pertama, Tahun-tahun Kematian terbit ketika usianya 17 tahun (1955), diikuti oleh kumpulan sajak, kumpulan cerita pendek, roman, drama, kumpulan esai dan kritik, hasil penelitian, dll., baik dalam bahasa Indonesia maupun Sunda, yang jumlahnya sekitar seratus judul.

Karyanya banyak yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa asing, dimuat dalam bunga rampai atau terbit sebagai buku, a.l. dalam bahasa Belanda, Cina, Inggris, Jepang, Perands, Kroatia, Rusia, dll.

PADA UMUR 12 TAHUN, SAAT MASIH DUDUK DI BANGKU KELAS VI SEKOLAH RAKYAT, TULISAN AJIP TELAH DIMUAT DALAM RUANG ANAK-ANAK DI HARIAN INDONESIA RAYA.  SEJAK SMP AJIP SUDAH MENEKUNI DUNIA PENULISAN DAN PENERBITAN.

Ia menerbitkan dan menjadi editor serta pemimpin majalah Suluh Pelajar (1953-1955). Pada tahun 1965-1967 ia menjadi Pemimpin redaksi Mingguan Sunda; Pemimpin redaksi majalah kebudayaan Budaya Jaya (1968-1979); Pendiri penerbit Pustaka Jaya (1971). Mendirikan dan memimpin Proyek Penelitian Pantun dan Folklor Sunda (PPP-FS) yang banyak merekam Carita Pantun dan mempublikasikannya (1970-1973). Menjabat sebagai Ketua Dewan Kesenian Jakarta (1972-1981).[6]  Bersama kawan-kawannya, Ajip mendirikan penerbit Kiwari di Bandung (1962), penerbit Cupumanik (Tjupumanik) di Jatiwangi (1964), Duta Rakyat (1965) di Bandung, Pustaka Jaya (kemudian Dunia Pustaka Jaya) di Jakarta (1971), Girimukti Pasaka di Jakarta (1980), dan Kiblat Buku Utama di Bandung (2000). Terpilih menjadi Ketua IKAPI dalam dua kali kongres (1973-1976 dan 1976-1979). Menjadi anggota DKJ sejak awal (1968), kemudian menjadi Ketua DKJ beberapa masaja batan (1972-1981). Menjadi anggota BMKN 1954, dan menjadi anggota pengurus pleno (terpilih dalam Kongres 1960). Menjadi anggota LBSS dan menjadi anggota pengurus pleno (1956-1958) dan anggota Dewan Pembina (terpilih dalam Kongres 1993), tetapi mengundurkan diri (1996). Salah seorang pendiri dan salah seorang Ketua PP-SS yang pertama (1968-1975), kemudian menjadi salah seorang pendiri dan Ketua Dewan Pendiri Yayasan PP-SS (1996). Salah seorang pendiri Yayasan PDS H.B. Jassin (1977).  Sejak 1981 diangkat menjadi guru besar tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka), sambil mengajar di Kyoto Sangyo Daigaku (1982-1996) dan Tenri Daignku (1982-1994), tetapi terus aktif memperhatikan kehidupan sastra-budaya dan sosial-politik di tanah air dan terus menulis.

TAHUN 1989 SECARA PRIBADI MEMBERIKAN HADIAH SASTERA RANCAGÉ SETIAP YANG KEMUDIAN DILANJUTKAN OLEH YAYASAN KEBUDAYAAN RANCAGE YANG DIDIRIKANNYA.

Setelah pensiun ia menetap di desa Pabelan, Kecamatan Mungkid, Magelang, Jawa Tengah. Meskipun begitu, ia masih aktif mengelola beberapa lembaga nonprofit seperti Yayasan Kebudayaan Rancagé dan Pusat Studi Sunda.

Karya-karyanya ada ratusan karya Ajip. Beberapa di antaranya: Tahun-tahun Kematian (kumpulan cerpen, 1955) Ketemu di Jalan (kumpulan sajak bersama SM Ardan dan Sobron Aidit, 1956) Pesta (kumpulan sajak, 1956) Di Tengah Keluarga (kumpulan cerpen, 1956) Sebuah Rumah buat Haritua (kumpulan cerpen, 1957) Perjalanan Penganten (roman, 1958, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis oleh H. Chambert-Loir, 1976; Kroatia, 1978, dan Jepang oleh T. Kasuya, 1991) Cari Muatan (kumpulan sajak, 1959) Membicarakan Cerita Pendek Indonesia (1959) Surat Cinta Enday Rasidin (kumpulan sajak, 1960); Pertemuan Kembali (kumpulan cerpen, 1961) Kapankah Kesusasteraan Indonesia lahir? (1964; cetak ulang yang direvisi, 1985) Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967); Jeram (kumpulan sajak, 1970); Jante Arkidam jeung salikur sajak lianna (kumpulan sajak, bahasa Sunda, 1967) Ikhtisar Sejarah Sastera Indonesia (1969) Ular dan Kabut (kumpulan sajak, 1973); Sajak-sajak Anak Matahari (kumpulan sajak, 1979, seluruhnya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh T. Indoh, dan dimuat dalam majalah Fune dan Shin Nihon Bungaku (1981) Manusia Sunda (1984) Anak Tanahair (novel, 1985, terjemahkan ke dalam bahasa Jepang oleh Funachi Megumi, 1989. Nama dan Makna (kumpulan sajak, 1988) Sunda Shigishi hi no yume (terjemahan bahasa Jepang dari pilihan keempat kumpulan cerita pendek oleh T. Kasuya 1988) Puisi Indonesia Modern, Sebuah Pengantar (1988) Terkenang Topeng Cirebon (kumpulan sajak, 1993) Sastera dan Budaya: Kedaerahan dalam Keindonesiaan (1995) Mimpi Masasilam (kumpulan cerpen, 2000, sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang) Masa Depan Budaya Daerah (2004) Pantun Anak Ayam (kumpulan sajak, 2006) Korupsi dan Kebudayaan (2006) Hidup Tanpa Ijazah, Yang Terekam dalam Kenangan (otobiografi, 2008) Ensiklopédi Sunda. Jakarta: Pustaka Jaya. 2000 Ajip juga menulis drama, cerita rakyat, cerita wayang, bacaan anak-anak, lelucon, dan memoar serta menjadi penyunting beberapa bunga rampai.  “Tokoh: Anugerah Sastera Mastera Brunei Darussalam” 2003.

Baca: Selamat……! 80 Tahun Ajip Rosidi

Ajip Rosidi menjadi tonggak sejarah sastra Indonesia yang mumpuni. Bahkan Ajip juga  yang dipercaya mengelola Pusat Dokumentasi dan Sastra (PDS HB Jassin). Ajip memiliki kehebatan diplomasi yang sangat kuat, dengan pendekatan Ke-Sunda-annya bersama Ilen Suryanegara yang dibantu Ramadhan KH dkk ia berhasil membujuk Ali Sadikin mendirikan Pusat Kesenian Taman Ismail Marzuki (TIM).

Ajip menikah saat usia 17 tahun dengan Fatimah Wirjadibrata pada 6 Agustus 1955 dan pasangan itu telah dikaruniai enam orang anak. Ajip menjadi duda setelah istrinya meninggal dunia, pada tahun 2014, Ajip berhubungan intens dengan artis kawakan Nani Wijaya (suaminya Misbach Yusra Biran yang meninggal pada 11 April 2012). Kemudian pada Minggu 16 April 2017, Ayip Rosidi resmi menikahi Nani Wijaya – akad nikah di Masjid Agung Keraton Kasepuhan Cirebon. Bahkan, pimpinan kerajaan itu, Sultah Sepuh XIV Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat –yang belum lama meninggal pada 22/7/2020 — bersama permaisuri turut menghadiri resepsi pernikahan pasangan pengantin baru Ajip -Nani ini.

Pada tahun 2026 Ajip mencatatkan sejarah bahwa dirinya menyelanggarakan Kongres Bahasa Daerah Nusantara pertama. Saat itu digelar di Gedung Merdeka (tempat Konferensi Asia Afrika – Bandung. Acara dihadiri oleh ratusan peserta yang berasal dari para guru, peneliti bahasa, mahasiswa, wartawan, seniman dan kelompok masyarakat peduli bahasa daerah se-Indonesia.

Gagasan kongres ini sebenarnya sudah disampaikan idenya oleh Ajip Rosidi sejak 1988. “Saya sudah sampaikan ide ini lama, namun banyak yang tidak respon dan saat ini bahasa daerah terancam punah, penyelamatan bahasa daerah menjadi tujuan utama diadakannya kongres dan Jawa Barat yang pertma mengelar ini. Bersama Pemprov Jabar melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Yayasan Kebudayaan Rancage dan Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud,”papar Ajip saat itu usai pembukaan Kongres.

Indonesia sebagai negara terkaya bahasa kedua di dunia yang memiliki hampir 800 bahasa, 169 dari bahasa tersebut kini terancam punah akibat arus deras globalisasi dan hanya memiliki penutur antara 500 sampai 1000 orang.

IMG_9943

Melalui Kongres yang mengangkat tema “Peranan Bahasa Daerah dalam Mengokohkan Jatidiri Bangsa” ini Deddy berharap, dapat menggugah kesadaran masyarakat untuk bersama-sama mengambil bagian dalam upaya penyelamatan bahasa daerah.

Kongres Bahasa Daerah Nusantara ini juga menjadi langkah strategis tentang pemeliharaan bahasa, sastra dan aksara daerah. Masuk dalam dalam acara kongres Yayasan Kebudayan Rancage menganugerahkan hadiah Sastra Rancage kepada Sastrawan Sunda, Jawa, Bali dan Batak. Penghargan Hardjapamekas juga diberikan kepada Guru Bahasa Sunda tingkat SD, SMP dan SMU dan juga meluncurkan Kamus Bahasa Sunda terbaru tahun 2016 buku karya Yayasan Kebudayan Rancage sebagai artefak kebudayaan tertua yaitu bahasa.

Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama, di Gedung Merdeka Kota Bandung, Selasa (02/08/2016)/ahm
Kongres Bahasa Daerah Nusantara Pertama, di Gedung Merdeka Kota Bandung, Selasa (02/08/2016)/ahm

Seorang mahasiswi Ajip di Jepang yang kini sudah menjadi dosen di Nara Universty saat diberikan saya mengatakan, “Saya turut berduka cira atas berpulangnya Bapak Ajip. Semoga almarhum diterima segala amal dan ibadahnya di sisi Allah. Aendra, terima kasih menyampaikan beritanya, juga foto beliau. Saya merasa kehilangan, juga ingat kenang-kenangannya,” ujar Eriko Kameyama pada penulis.Eriko juga mengatakan bahwa dirinya banyak berutang budi dengan Pak Ajip dan keluarganya baik di Jepang maupun di Indonesia. Jadi saya agak bingung dari mana bisa saya cerita, kenangnya.“Pak Ajip mengajar banyak mahasiswa selama 23 tahun. Saya sebagai salah satu mahasiswanya belajar bahasa Indonesia dan juga tentang Indonesia melalui beliau. Pada suatu hari dosen kami pernah mengatakan bahwa Ajip sensei (Pak Ajip) itu orang yang seperti memikirkan pada setiap saat Indonesia mesti bagaimana,” ujar Eriko lagi.Masih kata Eriko bahwa dirinya walaupun memilih jurusan bahasa Indonesia, bagi kebanyakan mahasiswa bahasa Indonesia dan Indonesia itu dunia yang belum begitu kenal.“Mungkin karena itu, di luar kuliah di kampus, beliau rela mengundang para mahasiswa semester satu ke rumahnya untuk makan bersama masakan Indonesia. Kami mantan mahasiswa, masih suka ingat dan berbicara jika kami bertemu kembali. sempat bertemu dengan keluarganya pertama kali pada kesempatan itu, dan menikmati mencoba masakan Indonesia yang disediakan oleh keluarganya,” jelas Eriko istri dari Sutradara asal Jepang Koji Fukuda yang membuat film Aceh “Laut” (The Man from the Sea) dimana inspirasinya atas peristiwa Tsunami Aceh.Eriko juga mengaku kalau dirinya sendiri, pernah diberi kesempatan untuk belajar bahasa Sunda di rumahnya bersama dengan Ibu Ajip (almarhuhumah) sebelum berangkat ke Bandung.“Waktu itu, muridnya ada tiga orang, selain saya. Mahasiswa S2 yang mempelajari sejarah Indonesia, mantan mahasiswi yang tetap berminat belajar tentang Indonesia walaupun setelah wisuda, dan seorang ibu-ibu yang mengelola studio kamera dan suka Indonesia. Pelajaran bahasa Sunda pada waktu itu juga sambil makan bersama,” kenang Eriko.

Aendra bersama Eriko Kameyama saat berjumpa di Tokyo 2018. Eriko pernah menjadi mahasiswa Ajip Rosidi/doc AME

Selamat jalan sastrawan besar Indonesia kami kehilanganmu namun karyamu akan abadi, dan semoga amal dan ibadah Kang Ajip Rosidi diterima di sisi Allah SWT. |sumber SENI.CO.ID /AENDRA MEDITA KARTADIPURA

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.