Home Bencana Virus Corona: Drama Covid-19 di New York, Kota yang Kewalahan Urusi Jenazah...

Virus Corona: Drama Covid-19 di New York, Kota yang Kewalahan Urusi Jenazah dan RS Darurat di Tengah Kota

61
0
Manhattan, New York, yang tak pernah sepi./GETTY IMAGE

Philip Tassi mengingatkan bahwa pemakaman tempat ia bekerja sudah kewalahan.

Namun tak ada waktu baginya untuk beristirahat karena pemerintah New York mengumumkan rekor angka kematian akibat virus corona di negara bagian itu.

Tassi yang bekerja di Pemakaman Ferncliff di Westchester, beberapa mil dari Manhattan, mengatakan “permintaan penguburan dan kremasi yang kami terima meningkat 300%”.

Hampir 200 jenazah dikremasi selama 16 jam setiap hari, tujuh hari dalam seminggu.

Sekalipun sudah bekerja dengan kapasitas maksimum, jadwal sudah penuh sampai akhir minggu depan.

Sejarah berulang





Sejarah bagai berulang di New York, pusat ledakan pandemi Covid-19 di Amerika Serikat, bahkan jumlah penderita penyakit ini telah melampaui penderita di negara mana pun di dunia.

“Kebanyakan pemakaman tidak punya unit pendingin untuk pandemi.

Maka masalah utama kami adalah kami tak punya penyimpanan jenazah untuk waktu lama,” kata Tassi yang juga ketua Asosiasi Pemakaman Negara Bagian New York.

Rumah jenazah juga sudah kewalahan. Pihak berwenang mengirim puluhan mobil penyimpan jenazah dan trailer ke rumah sakit dan ke berbagai penjuru kota untuk mencegah bertumpuknya jenazah tanpa tempat penampungan – sebagaimana yang terjadi di negara yang terlanda epidemi virus ini.

Tassi yang sudah bekerja di bidang ini selama 23 tahun mengatakan kepada BBC Mundo, “Saya belum pernah melihat ini sepanjang hidup saya. Begitu banyak orang mati dalam waktu sangat singkat.”





“Bahkan ketika serangan 11 September, tidak sebanyak ini,” katanya mengacu pada peristiwa besar di New York tahun 2001.

Serangan yang disebut secara resmi sebagai “serangan teroris terbesar” dalam sejarah Amerika Serikat itu memakan koran 2.753 jiwa.

Angka itu sudah terlampaui pekan ini oleh virus corona yang sudah menewaskan lebih dari 7.000 orang di New York.

Virus yang mengubah New York

Pandemi ini telah mengubah New York. Tadinya ia adalah kota yang tak pernah tidur, kini menjadi kota yang sangat sepi.

Begitu tenang dan sepinya kota itu sehingga kita bisa menyebrang jalan utama tanpa harus menunggu lampu lalu lintas berganti. Atau, kalau ada koin terjatuh di seberang jalan, kita bisa mendengarnya dengan jelas.

Ketenangan itu sesekali pecah oleh sirene ambulans yang lewat.

Selain itu, setiap hari pukul 7 malam, warga New York akan bersorak dan bertepuk tangan dari jendela mereka untuk menghormati para pekerja medis.

Sejenak kota itu mendapatkan lagi semangat mereka.

Pihak berwenang telah memperpanjang penutupan sekolah dan tempat usaha, juga melarang pertemuan umum sekurangnya hingga 29 April dengan denda US$1.000 bagi pelanggar.





Sekalipun polisi tidak secara tegas mengendalikan pergerakan manusia, 8,6 juta warga New York umumnya patuh dan tinggal di dalam rumah mereka selama bisa.

Suasana darurat kesehatan tak mungkin dihindari.

Bahkan bagi warga yang ingin berolahraga di taman utama kota itu, Central Park.

Sebuah rumah sakit darurat berupa tenda putih raksasa dibangun di taman itu untuk menampung puluhan pasien Covid-19.

Pihak militer sudah mengubah Javits Convention Center menjadi rumah sakit darurat dengan 2.500 tempat tidur.

Targetnya adalah meningkatkan kapasitas layanan kesehatan, di negara bagian yang sudah memiliki lebih dari 150.000 orang yang dipastikan positif Covid-19.

Presiden Donald Trump sudah menyetujui pengiriman kapal rumah sakit militer USNS Comfort ke Manhattan untuk mulai merawat pasien Covid-19.

Namun penyakit ini memang tampaknya begitu sulit dikendalikan, karena salah seorang awak kapal itu terinfeksi virus corona dan beberapa lagi langsung diisolasi untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.

Puncak kurva?

Kematian akibat corona di negara bagian New York kini sudah memecahkan rekor dengan sekitar 800 orang meninggal dalam sehari.

Sekalipun begitu Gubernur Andrew Cuomo menyatakan terjadi penurunan jumlah pasien yang perlu dirawat di rumah sakit dan pasien yang membutuhkan perawatan intensif (ICU).

Tampak adanya harapan.





Cuomo mengatakan, langkah untuk mengurung diri di rumah dan penjarakan sosial tampaknya membuat New York sudah melewati puncak tertinggi dari kurva penyakit ini.

Namun, ini semua masih terlalu dini untuk benar-benar mengerti apa yang terjadi.

“Apa yang kita lakukan belum cukup untuk tahu berapa orang yang sesungguhnya sudah terinfeksi,” kata Theodora Hatziioannou, profesor virologi di Rockefeller University, Manhattan.

“Maka memperkirakan bahwa puncak kurva adalah pekan ini atau pekan depan masih mustahil untuk dilakukan sekarang ini,” kata Hatziioannou kepada BBC Mundo.

Ada juga peringatan bahwa jumlah kematian akibat Covid-19 di New York mungkin lebih besar daripada angka resmi.

Mark Levine, ketua komisi kesehatan New York, mengatakan kematian di rumah-rumah telah meningkat 10 kali lipat dari waktu normal hingga mencapai antara 200-215 per hari.

“Saya yakin hampir semua peningkatan ini disebabkan oleh virus corona. Namun tidak semuanya dites dan dihitung demikian,” cuitnya.

Levine juga sempat bikin banyak orang ribut ketika berkata bahwa ‘pemakaman darurat’ bagi korban Covid-19 segera akan dibuka di New York. Belakangan ia mengklarifikasinya dengan mengatakan bahwa itu adalah rencana darurat seandainya jumlah kematian terlalu tinggi.

Wali Kota Bill de Blasio mengakui hari Senin (06/04) bahwa mungkin saja ada rencana seperti itu, tapi menyanggah akan menggunakan taman untuk pemakaman.

Seorang juru bicara mengatakan mereka mungkin saja menggunakan Pulau Hart sebuah pulau di Bronx untuk menjalankan rencana tersebut.

Hari Jumat (10/04), akhirnya pemakaman yang disebutkan Levine itu dibuka di Pulau Hart.

Kenangan seram

Kenyataannya, virus ini telah membangkitkan lagi kenangan seram di kota yang sempat dihantam tragedi 11 September.

“11 September itu serangan teroris yang membuat kami takut, menjadi pikiran setiap hari, apakah kami di tempat kerja atau di rumah bersama keluarga. Seakan peristiwa itu terus bicara pada kami,” kenang Phil Suarez, paramedis yang ikut bekerja menyelamatkan korban serangan 11 September 2001.

Suarez juga pernah merawat korban luka perang Irak tahun 2017 serta ikut dalam penanganan bencana. Namun katanya virus corona ini membuat ia “jauh lebih waspada” dalam menjalankan pekerjaannya yang semakin meningkat di New York.

“Sebelumnya, kami mendekati pasien tanpa sarung tangan, kacamata atau masker. Namun kini kami harus melindungi diri sepenuhnya,” katanya.

“Hidup kami,” katanya, “berubah sangat drastis dalam sebulan.” |BBC

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.