Home Seni Budaya Seni Sulam Moel Soenarko

Seni Sulam Moel Soenarko

671
0

JABARSATU.COM – Pameran tunggal Moel Soenarko yang berjudul Kreasi Seni Sulam Moel Soenarko merupakan pameran tunggal yang ke-enam selama kurun waktu 2 dekade terakhir. Hal yang menjadi unik pada tiap pameran tunggal Bu Moel adalah selalu menghadirkan karya yang berbeda secara media dan teknik dalam ranah seni rupa dua dimensi, mulai dari cat minyak, cat air, hingga wilayah seni grafis pernah dibuat. Keinginan untuk menampilkan hal yang berbeda dan bisa dikatakan baru dalam
konteks berkreasi Bu Moel didasari pada keyakinan bahwa Tuhan memberi segala sesuatu dengan cara yang tidak sama untuk tiap makhluk, oleh karena itu, membuats esuatu yang berbeda dan unik menjadi salah satu cara memelihara amanah yang telah diberikan oleh Nya.

Rasa keingintahuan yang besar mendorong Bu Moel untuk terus berinovasi dalam berkarya, ia berkeyakinan bahwa “tidak penting hasilnya akan seperti apa, tetapi yang terpenting adalah telah berbuat”. Semua proses pencarian dalam berkreasi dilakukan dengan senang, layaknya seorang
anak bermain dan terus mencoba, yang pada akhirnya menemukan sesuatu yang berbeda atau unik. Hal inilah yang membuat Bu Moel selalu mengalami perubahan atau pembaharuan, terutama dari segi teknik dan medium, tidak pernah puas dengan hanya berkarya dengan satu medium saja, tetapi mencoba berkreasi dengan medium lainnya. Pengalaman masa lalu yang senang belajar
berbagai keahlian dalam bidang seni rupa memotivasinya untuk terus membuat berbagai kebaruan dengan menggabungkan keahlian dan kemampuan yang telah didapat sebelumnya. Hadirnya karya seni sulam atau embroidery ini merupakan salah satu puncak pencapaian beliau dalam berkarya
dalam ranah seni rupa kontemporer saat ini. Seni sulam yang selalu diindentikkan dengan seni kriya dihadirkan dalam konteks seni murni, dimana nilai ekspresi personal baik secara estetik maupun tematik menjadi hal yang paling utama untuk ditampilkan, tentu hal ini hanya dapat dicapai dengan
penguasaan kemampuan terhadap teknik dan material sulam yang tinggi.

Pada pameran ini terdapat 39 karya yang dibuat dalam rentang waktu hampir 20 tahun, dimulai dari karya pada tahun 2000 yang menggambarkan barisan pohon yang dibuat di kota Malang, hingga karya terakhir tahun 2018 yang dibuat di kota Bandung. Bagi seorang seniman, tetap konsisten untuk terus menekuni satu keahlian di sela-sela berkarya dengan medium lain tentu sangat melelahkan, tetapi bagi Bu Moel, menyulam sudah manjadi bagian dari dirinya sejak menginjak kelas 4 SD hingga
sekarang. Sehingga tidak mengherankan apabila pada saat ini di penghujung usia 70-an, ia menampilkan kemampuan yang sudah menyatu dan menemani pada setiap waktunya melalui karya seni sulam dalam pameran ini sebagai salah satu wujud pertanggungjawabannya terhadap amanah
yang telah diberikan oleh Allah SWT. Sekaligus memberi motivasi dan inspirasi bagi masyarakat bahwa berkreasi dan berkarya tidak mengenal batas usia, sepanjang hal itu dilakukan dengan
senang hati dan istiqomah dalam menjalaninya.

Menyulam merupakan kegiatan yang biasanya dilakukan oleh wanita untuk membuat benda fungsional, baik untuk dekorasi maupun keperluan fungsional lainnya, tetapi pada pameran ini, seni sulam kreasi Bu Moel dihadirkan sebagai media baginya untuk menyatakan tanggapannya terhadap alam disekelilingnya, seolah-olah menjadi catatan harian dari perjalanan hidup Bu Moel. Kebiasaan beliau untuk mencatat segala sesuatu divisualisasikan melalui karya embroidery ini, sehingga apresiator dapat pula merasakan dan menikmati apa yang juga dirasakan olehnya. Menutup tulisan ini, saya kutip pernyataan Bu Moel yang mungkin bisa menjelaskan mengapa ia terus berkarya sulam, yaitu “Kebahagiaan ketika tangan bekerja” mungkin dapat ditafsirkan berkreasi adalah hal yang membahagiakan untuk dilakukan sehingga menjadi energi untuk terus berkarya.

Agus Cahyana – Kurator

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.