Home Bandung Me-REPUTASI-kan Lembaga Survei yang Disponsori Produk Mie

Me-REPUTASI-kan Lembaga Survei yang Disponsori Produk Mie

174
0
oto diatas Produk Mie ikut bertengger di lembaga survei dan QC ini

JABARSATU.COM – Pilkada serentak telah usai digelar 27 Juni lalu. Ada yang tersisa dalam kasus hitungan cepat atau kerennya Quick Count (QC). Kitas soroti perbedaan dan sangat polemik ini terjadi di Pilgub Jabar. Mungkin juga karena ada satu pasangan yang belum mengakui dan tidak mengakui kalah juga.

Dalam penjelasan ini kami menulis polemik ini buka akan bertujuan kema pihak yang benar atau salah. Kami ingin menunggu saja hasil akhir di KPUD Jabar pada 9 Juli 2018.

Namun runutan kisa ini kami sampaikan agar semua paham maksudnya.

Salah satu lembaga survei SMRC  yang juga melakukan  QC bicara bahwa Hasil Survei Sudrajat Beda dari Quick Count penjelasan lembaga SMRC soal hasil survei Sudrajat-Syaikhu berbeda jauh dengan quick count Pilgub Jabar

Perhitungan disalah satu TPS /jbs

Lembaga Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) memberi penjelasan. “Misalnya survei SMRC dilakukan di Jabar tanggal 2 Juni. Tidak bisa kita umumkan karena laporan baru siap tanggal 10 Juni, lalu Lebaran. Jadi mengumumkan waktu Lebaran nggak ada poinnya. Yang penting patokannya kapan dilaksanakan,” ujar Direktur Eksekutif SMRC Djayadi Hanan dalam diskusi bertajuk ‘Pilkada, Kotak Kosong, dan Pilpres’ di Warung Daun, Jl Cikini Raya, Jakarta Pusat, Sabtu (30/6/2018).

SMRC mengatakan bahwa naiknya perolehan suara Ajat-Syaikhu mungkin karena upaya keras yang dilakukan Gerindra-PKS selaku pengusung Ajat-Syaikhu. Selain itu, SMRC menyebutkan adanya ‘Prabowo effect’ di Jabar.

Perolehan Beda di Bawah 4 Persen, Ada Peluang Dispute’ “Jadi, kalau bahasa saya, tiga minggu itu, dengan effort Gerindra dan tim Prabowo, tampaknya itu membuat sentimen berbalik ke Prabowo. Jadi saya setuju kalau andil ganti presiden itu ada. Tapi belum tentu ke sana. Sekarang baru balik ke Prabowo,” kata dia.

Pada survei terakhir SMRC yang digelar 22 Mei-1 Juni, elektabilitas Ajat-Syaikhu masih rendah. Berikut hasilnya: 1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 43,1% 2. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 34,1% 3. Ajat-Syaikhu: 7,9% 4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan: 6,5% Sedangkan ini hasil quick count final Pilgub Jabar versi SMRC: 1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,26% 2. Ajat-Syaikhu: 29,58% 3. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,38% 4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan:: 12,77% (detik,Sabtu 30 Juni 2018, 15:48 WIB)

Itu logika dan alibinya. Namun dapat disimpulkan ada hal yang dinyatakan bahwa dia sangat menekankan sebenarnya dengan suara Ajat-Syaiku naik itu SMRC merasa kaget, toh hasil dari QC nya SMRC 1. Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum: 32,26% 2. Ajat-Syaikhu: 29,58% 3. Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi: 25,38% 4. Tb Hasanuddin-Anton Charliyan:: 12,77%. Demikian SMRC yang melakukan QC disponsori produk Mie ini. 

Foto diatas Produk Mie ikut bertengger di lembaga 
survei dan QC ini

Karena Suara Asyik saat di survei oleh sejumlah lembaga survei dibawah 10% lalu, suara Asyik saat QC pada angka 30% ini tentunya mengejutkan. Ini juga yang membuat sejumlah lembaga survei yang berusaha menjelaskan hasl survei dan QC klarifikasi karena takutnya reputasi mereka juga jebol. Dodol, dodol saja sih enak bisa dimakan tapi kalau benar-benar oon malah nanti mereka tak dipakai partai-partai atau kan sedang mengahadpi proyek pilpres. Jangan tegang bro. Ini juga yang membuat sang raja survei mantan LSI (Lembaga Survei Indonesia). LSI didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang JICA, di masa pemerintahan Megawati. Dan kini Denny JA bikin sendiri dan pernah mengoalkan SBY jadi presiden 2004 dengan bendera Lingkaran Survei Indonesia (masih disingkat LSI) namun pakai namanya Denny JA bikin tulisan panjang yang lebih pada “essai survei” seolah menangkis semua bentuk yang telah terjadi dengan membandingkan kasus pemilu di Amerika sana, berkisah dari mulai Galllup Poll sampai kisah Literary Digest Poll dengan retorikanya sebagai lembaga survei DJA adalah orang hebat yang punya retorika kuat.

Untuk lebih lengkapnya kami kutip tulisan DJA yang dikutip dari situs inspirasi.co miliknya itu:

Menjelaskan Kenaikan Luar Biasa Pendukung ASYIK di JABAR dan SUDIRMAN- IDA di JATENG dalam Pilkada 2018

– Sebuah pertanggung jawaban akademik atas wilayah Pilkada yang Terasa “Pilpres”

Denny JA

Di hari pemilu presiden tahun 2016, di Amerika Serikat, koran paling besar, berpengaruh dan kredibel New York Times, menampilkan berita prediksi hasil pemili yang mencolok mata. Tulis koran ini bahkan dalam grafis: Probability Hillary terpilih menjadi presiden hari ini 85 persen. Sementara kemungkinan Trump yang menjadi presiden hanya 15 persen.

Namun di hari itu juga, malam harinya, publik Amerika tercengang. Yang terpilih sebagai presiden ternyata Trump. Apa yang terjadi dengan prediksi survei? Tak hanya New York Times, tapi mayoritas lembaga survei paling kredibel yang punya jejak panjang dalam sejarah pemilu Amerika juga memprediksi Hillary Clinton yang menang.

Tapi penting pula untuk kita letakkan kasus ini dalam konteks makro. Apakah kekeliruan prediksi survei pemilu presiden itu selalu terjadi, atau hanya kasus khusus. Ini penting agar kitapun mengembangkan penilaian yang proporsional.

Sejak beroperasinya lembaga survei modern di Amerika Serikat, Gallup Poll, tahun 1936, sudah terjadi dua puluh kali pemilihan pemilu presiden. Kesalahan prediksi mayoritas lembaga survei yang kredibel hanya terjadi sekali itu. Hanya 5-10 persen kasus saja mungkin terjadi prediksi hasil survei yang salah.

Sebelumnya memang pernah pula terjadi kesalahan prediksi pemilu presiden Amerika Serikat yang dilakukan oleh Literary Digest Poll di tahun 1936. Namun itu kesalahan metodelogis sebelum ditemukan prinsip survei modern.

Walau hanya 5-10 persen kasus, tetap saja harus ada otopsi untuk menjelaskan anomali itu. Justru penjelasan yang detail dan ilmiah dapat memperkaya ilmu pengetahuan.

Kasus kenaikan dukungan melonjak tak terduga di Jateng dan Jabar harus pula ada pertanggung jawaban akademik. Walau secara proporsional tahun ini ada 171 pilkada serentak, termasuk 17 pilkada provinsi.

Yang bermasalah hanya 2 kasus itu saja dari 17 provinsi atau dari 171 pilkada serentak. Di atas 80 persen soal survei dan quick count dalam 171 pilkada serentak itu tidak dipermasalahkan dalam debat publik hari hari ini.

Bagaimana kita harus menjelaskan kasus Jateng dan Jatim?

-000-

Untuk meleset prediksi lembaga survei di Amerika kasus Hillary dan Trump, sudah banyak penjelasan. Salah satunya tulisan di Business Insider: “Why Polls are so wrong in 2016? Trump- Clinton Autopsy Report Explain.

Penjelasan atas jauhnya jarak suara Sudirman di Jateng dan Asyik di Jabar (hasil survei terakhir dan hasil Quick Count) dapat pula menggunakan sebagian otopsi kasus Hillary dan Trump itu.

Tiga point ini penting untuk dijadikan kerangka penjelasan umum; sebelum kita masuk ke detail teknis survei.

Pertama, hasil survei sebenarnya hanyalah potret dukungan saat survei dilakukan saja. Hasil survei itu bukan prediksi apa yang akan terjadi beberapa hari kemudian di hari pemilu, hari pencoblosan.

Namun umumnya hasil survei paling akhir itu juga dijadikan prediksi hasil pemilu, di Indonesia, bahkan di semua negara modern. Mengapa? Untuk 80-90 persen kasus, jika survei itu dilakukan dengan benar, hanya beberapa hari sebelum hari pencoblosan, sangat jarang terjadi perubahan signifikan di atas margin of error.

Kedua, tak ada konspirasi aneka lembaga survei itu untuk mengatur bersama berapa persentase masing masing kandidat dalam survei. Aneka lembaga survei itu bekerja secara independen. Bahkan beberapa lembaga survei itu bersaing dan sering berhadapan dalam pilkada atau pemilu.

Soal pilkada DKI Jakarta, sebagai misal, LSI Denny JA dikenal sebagai pollster dan konsultan politik yang bahkan setahun sebelum pilkada DKI memberitakan Ahok yang kuat tapi bisa dikalahkan.

Mengapa LSI Denny JA untuk kasus Jateng dan Jabar seirama dengan lembaga survei lain, yang dalam pilkada DKI berhadapan? Datanya memang demikian. Dalam dunia survei yang kredibel, data adalah panglima.

Ketiga, berbedanya hasil pilkada dengan survei terkahir untuk kasus Jateng dan Jabar tidak fatal. Itu berbeda dengan kasus Trump dan Hillary. Ukuran fatal atau tidak adalah soal siapa yang menang.

Untuk kasus Hillary dan Trump, pemenangnya terbalik. Hillary yang diprediksi menang, tapi Trump yang ternyata menang.

Untuk kasus Jabar dan Jateng, hasilnya sama. Yang menang pilkada sama dengan hasil survei terakhir: RK di Jabar, dan Ganjar Pranowo di Jateng. Perbedaan hanya terjadi pada lonjakan dukungan Asyik di Jabar yang tetap kalah, dan Sudirman- Ida di Jateng yang juga tetap kalah.

-000-

Bagaimana menjelaskan lonjakan Asyik dan Sudirman-Ida?

LSI Denny JA hanya menjelaskan otopsi survei terakhir Denny JA saja. Lembaga lain tentu dapat menjelaskannya sendiri. Lonjakan Itu terjadi karena kombinasi beberapa variabel ini.

Pertama, seminggu terakhir sebelum hari pencoblosan, terjadi mobilisasi dukungan yang efektif untuk Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng. Gerakan seminggu terakhir ini tak lagi terpantau oleh survei LSI Denny JA.

Survei terakhir Denny JA di Jabar dan di Jateng, mengambil data sebelum seminggu terakhir. Tentu survei tak bisa membaca apa yang belum terjadi.

Kedua, mobilisasi Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng berhasil mengambil mayoritas telak pemilih yang masih mengambang.

Silahkan kita ketik di mesin pencari google. Untuk kasus Jabar, survei terskhir LSI Denny JA mencatat suara yang masih mengambang sebesar 39 persen. Ini gabungan suara yang belum menentukan dan suara yang masih ragu (lihat berita Tribun, Kamis 21 Juni, 6 hari sebelum hari pencoblosan, dengan judul: Survei LSI Denny JA: Pemenang Pilgub Jabar Sangat Ditentukan oleh 39 persen Soft Suporter)

Dalam survei itu, dukungan untuk Asyik masih sekitar 8,2 persen. Berdasarkan data Quick Count, dukungan Asyik 6 hari kemudian setelah publikasi survei itu menjadi 28-29 persen. Ada kenaikan Asyik sebesar 20 persen.

LSI Denny JA menyimpulkan, dalam mobilisasi seminggu terakhir, Asyik berhasil mengambil 20 persen dukungan dari 39 persen suara mengambang. Asyik sendirian jitu mempengaruhi lebih dari 50 persen suara memgambang (20 persen dari 39 persen).

Bagaimana dengan Sudirman-Ida di Jateng? Mari kita cek lagi survei terakhir LSI Denny JA. Silahkan ketik mesin pencari Google. Lihat Kompas. Com 21 Juni berjudul: Survei LSI Denny JA: Ganjar-Yasin 54 persen, Sudirman-Ida 13 persen.

Cukup kita melihat judul itu saja, 54 persen + 13 persen, total hanya 67 persen. Karena hanya ada dua calon, suara yang mengambang sebanyak 100 persen- 67 persen sama dengan 33 persen.

Hasil Quick Count Denny JA, Sudirman Said enam hari setelah publikasi mendapat dukungan 41-42 persen. Ada lonjakan sebesar 28-29 persen. Dari mana datangnya dukungan ini.

LSI Denny JA menyimpulkan, mobilisasi seminggu terakhir dari Sudirman-Ida berhasil membujuk 28-29 persen dari 33 suara pemilih yang masih mengambang. Gerakan seminggu terakhir ini sangat efektif.

Ketiga, penjelasan ini tentu diberikan dengan asumsi. Golput yang terjadi dalam pilkada Jabar terbagi secara proporsional. Quick Count LSI Denny JA mencatat Golput di Jabar sebesar 30.86 persen. Golput di Jateng sebesar 35.47 persen.

Karena diasumsikan Golput terjadi secara proporsional atas masing masing calon, yang dianalisa hanya kerja mesin politik seminggu terakhir mengambil suara mengambang. Dan itu bisa dijelaskan. Semua data bisa dicek di google.

-000-

Mengapa hanya Jabar dan Jateng yang heboh diantara 171 pilkada serentak tahun ini? Jawabnya, karena di wilayah itu pilkada terasa pilpres. Dua kandidat, Asyik di Jabar dan Sudirman-Ida di Jateng sangat tegas posisinya. Jika menang mereka mengusung #2019GantiPresiden.

Kebetulan di dua wilayah itu pula, lonjakan dukungan Asyik dan Sudirman-Ida sangat luar biasa pada seminggu terakhir, yang tak lagi terpantau survei.

Di wilayah lain, walau ada pula kontroversi, tapi tidak dimobilisasi sedemikian rupa karena tak terasa “pilpres.”

Pilkada memang sudah selesai. Namun aura pilpres 2019 semakin terasa. Melihat begitu panasnya perlawan di Jabar dan Jateng atas hasil Quick Count, juga mungkin atas hasil Real Count KPUD nanti, bersiaplah untuk pertarungan pilpres 2019 yang akan sengit.*

Juli 2017

Link: https://www.inspirasi.co/dennyja/49734_menjelaskan-kenaikan-luar-biasa-pendukung-asyik-dan-sudirman-ida

DEnny JA juga sudah bikin Meme soal yang tidka berkumis yang menang.

Menyimak tulisan DJA  secara utuh jadi jelas sepenuhnya bahwa ini sebuah klarifikasi “ketakutan” dan secara tak langsung agar saja lembaga survei ini tidak dijadikan kasus yang akan jadi “preseden”. Jika saja nanti yang KPUD umumkan beda dan yang menang tanpa C1 itu ujug-ujug kalah pastinya akan malu. Atau mungkin bahkan tidak malu.

Lalu lembaga survei ini tak akan dipercaya publik lagi atau ini akan berbahaya? Karena jelang Pilpres 2019 dan awal Agustus sudah ketahuan siapa yang akan nyalon jadi Presiden 2019. Lembaga survei memang sedang jadi sorotan apalagi yang bikin QC karena beda dengan RC.

Meski begitu kami juga ingin sampaikan apa kata pakar statistik IPB Beberkan Alasan Hasil Quick Count yang Berbeda. Khairil Anwar Notodiputro membeberkan alasan mengapa hasil hitung cepat (quick count) sering memiliki hasil yang berbeda jauh dari real count (RC) Pada Sabtu (30/6/2018)  di akun twitternya Khairil berkicau quick count (QC) adalah statistik yang berubah-ubah dari satu survei ke survei yang lain. “Quick count itu adalah statistik. Hasil KPU adalah parameter. Selalu ada beda antara statistik dan parameter, Statistik itu berubah ubah dari satu survei ke survei yang lain. Karena itu hasil lembaga survei berbeda-beda. Perbedaan hasil itu adalah keniscayaan bukan keburukan,” tulis Khiril melalui akun Twitter-nya, @kh_notodiputro.

Sementara jika ada yang sering bertanya mengapa hasil quick count berbeda dengan real count ada sejumlah faktor yang bisa menyebabkan hal tersebut. Faktor tersebut bisa bersifat teori dan bisa berakibat malpraktek.

“Sering ada pertanyaan mengapa hasil QC berbeda dgn RC, bahkan bisa jauh sekali bedanya. Ada banyak faktor yang menyebabkan perbedaan itu. Bisa faktor yang bersifat teori dan bisa akibat malpraktek. Yang pertama tidak bisa dihindarkan, yang kedua bisa dihindarkan,” tweet Khairil.

Teori dan Malpraktek ini menjadi menarik dan lagi-lagi kita tunggu saja mana yang benar hasil di KPUD 9 Juli 2018. Polemik ini juga yang menjadikan kasus panjang dan gaduh karena dengan alasan Gerindra tim yang Asyik usung punya data internal surveinya;

Hasil Quick Count Internal Gerindra: Asyik 30,69%, Rindu 30,44 Partai Gerindra melakukan quick count internal Pilkada Jabar 2018. Hasilnya, pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu (Asyik) unggul.

Sebelum ke kesimpulannya adalah bagaimana pun pesan moral itu harus dijaga, ikuti pola demokrasi ini dengan aturan KPU yang akan menjelaskan jangan sampai kita tak percaya lembaga survei atau meminjam saya ingin menampilkan tulisan Radhar Tribaskoro yang sangat cerdas dan jeli silakan simak tulisan dibawah ini:

SAIFUL MUJANI PENGKHIANAT INTELEKTUAL
By Radhar Tribaskoro

Sudah menjadi pengetahuan publik bahwa banyak pollster di Indonesia berperilaku khianat. Mereka menjual integritas intelektualnya demi memenangkan klien yang membayari polling yang mereka lakukan. SMRC adalah salah satu pollster pertama di masa reformasi, pecahan dari LSI (Lembaga Survei Indonesia) yang didirikan oleh Bill Liddle dengan murid-murid Indonesianya di Ohio University. LSI berdiri 2003 dengan menggunakan dana bantuan Jepang, di masa pemerintahan Megawati.

LSI semula dimaksudkan untuk mengembangkan demokrasi, namun uang trilyunan dalam pemilu telah membuyarkan cita-cita itu. Seorang pendiri melihat mudahnya meraup uang melalui pengarahan opini publik yang percaya kepada integritas peneliti politik (pollster). Pengarahan opini publik dengan membentuk image2 yang berlawanan dengan kenyataan disebut framing adalah pekerjaan khianat yang dengan segera mengundang penentangan dari pendiri LSI lainnya.

SMRC adalah wujud kongkrit dari penentangan itu. SMRC ingin mewujudkan tujuan LSI yang sesungguhnya. Apa lacur, SMRC ternyata jatuh ke lubang kenistaan yang sama.

Publik pasti belum lupa ketika Saiful Mujani, pendiri SMRC, mengunggah dokumen hoax yang menyebutkan bahwa Anies-Sandi menandatangani dokumen perjanjian akan menjadikan Jakarta sebagai kota syariah. Sebagai pemilik perusahaan polling yang dikontrak oleh Ahok, Saiful mestinya membantu Ahok melalui keilmuannya. Saiful menghancurkan kredibilitas intelektualnya dengan meluncurkan hoax itu. Ia menjual integritas ilmiah yang melekat pada pekerjaan pollster, demi keuangan yang mahakuasa.

Perilaku ini berlanjut di tahapan kedua pilkada DKI ketika SMRC merelease hasil survei bahwa “Anies hanya unggul kurang dari 1%”. Pada kenyataannya Anies unggul landslide, hampir 20%. Bagi pollster profesional selisih sebesar itu sangatlah aib, dan tidak mungkin terjadi bila survei dilakukan dengan menggunakan prosedur ilmiah. Hasil itu hanya bisa terjadi bila prinsip2 ilmiah telah dibuang, dan pollster bekerja menurut standar politik belaka.

Kecenderungan politik yang sama terjadi lagi dalam dua polling terakhir yang dilakukan oleh SMRC. Pada tanggal 29/9/17 SMRC mengumumkan bahwa pendukung Prabowo, PKS dan Gerindra telah memobilisir anak-anak muda untuk percaya bahwa “PKI akan bangkit”. Analisis SMRC itu dipenuhi oleh interpolasi, ekstrapolasi dan simplifikasi, yang pada akhirnya membuahkan sulapan kesimpulan yang jauh dari standar ilmiah. (Saya tidak perlu uraikan di sini soal itu, mungkin dalam tulisan terpisah). Kemudian pada tanggal 5/10/17 SMRC merelease lagi hasil surveinya yang mengatakan bahwa elektabilitas Jokowi mencapai 38,9% sementara Prabowo hanya 12%. Terdapat selisih lebih dari 200%, dimana logikanya?

Seperti diketahui Jokowi belum mengukir kinerja apapun, semua projek2nya belum ada yang kelar. Sementara itu ia terus dihujani kritik publik berkenaan dengan penumpukan utang yang luar biasa, investasi Cina tanpa lapangan kerja, kenaikan harga energi, penghapusan subsidi, ekonomi melambat, penurunan daya beli dst. Di sisi politik, partai yang dipetugasi Jokowi kalah di banyak pilkada yang dulu dikuasainya seperti Jakarta dan Banten. Di Jateng yang selama ini dikenal sebagai kandang banteng, calon-calon PDIP berguguran seperti laron menyerbu api lilin.

Di dalam situasi seperti itu darimana rasionalnya Prabowo yang hanya selisih 4% dari Jokowi pada tahun 2014 kok sekarang ambrol menjadi berselisih lebih dari 200% ?

Alasan apapun diberikan Saiful Mujani tidak akan meyakinkan. Penjelasan paling meyakinkan hanyalah bahwa Saiful Mujani sedang menjalankan lagi pekerjaan khianatnya yaitu menipu rakyat melalui polling. Ia telah dibayar untuk membangun opini publik (framing) bahwa “Prabowo adalah pengusung radikalisme yang telah memobilisasi orang-orang muda dengan isu itu untuk menyerang pemerintah.” Sebaliknya, Jokowi adalah politikus yang dicintai rakyat dengan elektabilitas 3 kali lipat pesaing terdekatnya.

Sangat memprihatinkan. Dulu mengaum seperti singa. Ternyata kamu hanya serigala berbulu domba. 

Lalu jik asudh menyimak tulisa Radhar silakn simpulkan saja pada konteks kekadaan saat ini. Dah akhirnya kami ini kutip tulisan  dari Alhadi Muhammad yang seliweran di group WA, silakan simak juga lengkapnya:

CHAOS INFORMASI PILKADA JABAR

Chaos informasi Pilkada Jabar, dimulai dari opini yang dibangun lembaga survey. Tahapannya :

1. Lembaga survey semuanya menyatakan Ridwan Kamil menang. Padahal hasil Quick Count sangat kontras ratusan persen dengan hasil survey yang dilakukan saat pilkada. Pembodohan informasi berikut pembohongan.
2. Dibangun website infokpujabar.org yang rencananya untuk mirror informasi KPU.
2. Dibuatnya halaman hitung cepat di website induk KPU (kpu.go.id), di halaman https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2…/…/cepat/t1/jawa_barat).
3. Di website infokpujabar.org di sediakan tombol Rekapitulasi Form C1, dan di redirect ke https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2…/…/cepat/t1/jawa_barat)

Dengan skenario ini, diharapkan masyarakat percaya bahwa hasil pilkda Jabar sesuai Quick Count. Dan di halaman tersebut disertakan seolah-olah jumlah data masuk sudah masuk 90% dari jumlah TPS. Ini sangat aneh, kenapa jika sudah 90% masih juga dibuat Quick Count. Belum lagi perubahan lonjakan sehari sebelumnya yang kurang dari 30% lalu loncat menjadi lebih dari 90%.

Dan ternyata infokpujabar.org hostingnya di IP 167.205.59.254 dan lokasinya noc-crcs-254.itb.ac.id – Jawa Barat. Menggunakan fasilitas kampus negeri tidak bisa sembarangan. Kecuali antar lembaga pemerintah. Jadi jika KPU Jabar menyangkal https://infokpujabar.org bukan domain resmi KPU Jabar, maka di internal ITB ada yang bermain-main dengan server kampus. Kedua-duanya bermasalah.

Karena masyarakat mulai kritis dan protes dari beberapa kalangan, akhirnya halaman hitungan cepat di KPU (https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2…/…/cepat/t1/jawa_barat) di tutup. Dengan ditutupnya semakin membuktikan ada kejanggalan di internal KPU. Blunder informasi. Silahkan KPU Pusat dan KPU Jabar menjelaskan chaos-nya informasi Pilkada Jabar.

Alhadi Muhammad

Tulisan Alhadi sempat kami telusuri memang hasilnya sulit di akses. lihat gambar dibawah:

 

web KPU Jabar

Hal ini juga kami setuju apakah ini ada diduga permainan kampus negeri dengan KPUD? (Dibangun website infokpujabar.org yang rencananya untuk mirror informasi KPU.
2. Dibuatnya halaman hitung cepat di website induk KPU (kpu.go.id), di halaman https://infopemilu.kpu.go.id/pilkada2…/…/cepat/t1/jawa_barat).

“KPU TAK INDEPENDEN”

KPU Jabar Yayat Hidayat, Jumat (29/6/2018) dalam sebuah rilisnya  menyatakan KPU Jabar mengapresiasi sejumlah calon di Pilgub Jabar yang memberi selamat pada pemenang meski baru sebatas hasil hitung cepat.

“Saya sangat terkesan respon dari paslon terhadap hasil quick count. Itu kan quick count tidak resmi tetapi secara cepat paslon ada yang mengucapkan selamat pada yang suaranya paling banyak,” ujar KPU Jabar Yayat Hidayat, Jumat (29/6/2018) dalam rilis yang beredar.

Bagi Yayat hal itu adalah sesuatu yang sangat positif dan patut dicontoh oleh semuanya tidak hanya orang yang terlibat kampanye tapi juga masyarakat secara umum.

“Itu kan pendidikan politik yang sangat mewah yang patut dilihat dan patut dicontoh oleh seluruh masyarakat. Itu mewah itu. Perlu ditularkan bukan hanya masyarakat Jabar, tapi seluruh Indonesia bahkan warga dunia,” ucapnya.

Seperti diketahui pada Rabu 27 Juni sore atau beberapa saat setelah hasil quick count keluar memenangkan Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum, para kompetitornya langsung memberikan ucapan selamat.

Cagub Jabar TB Hasanuddin yang juga politis PDIP itu bahkan langsung datang menemui Ridwan Kamil yang sedang merayakan hasil quick count di Hotel Papandayan. Sementara pasangan Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi diketahui mengucapkan selamat melalui media massa dan media sosial.

Sedangkan pasangan Sudrajat-Ahmad Syaikhu hingga kini belum memberikan ucapan selamat dan masih tetap pede menang dalam penghitungan suara resmi dari KPU. (detik, Jumat 29 Juni 2018, 17:01 WIB)

Kalau di lihat link detik itu rilis resmi KPU, jadi seharusnya KPU mestinya tak berkata apa-apa, secara komunikasi KPU Beri Selamat ke Pemenang Quick Count adalah komunikasi politik yang aneh. Meskinya saat suasana lagi seprti ini KPU rilis umumnkan semua kita akan umumkan pada 9 Juli bukan malah teriak- bahwa ada psangan yang tidak ucapkan selamat. Apakah QC adalah absolut menang?

Sekali lagi mari kita tunggu 9 Juli 2018 sodara-sodara. Dan jika tak puas ada MK bukan begitu? Dan hal pernah juga diungkapkan oleh Yayat Ketua KPU Jabar…Kita tunggu…jangan ikut menabuh gendang QC bukannya resmi ada di tangan KPU? Marilah kita bikin lembaga survei atau QC punya reputasi cerdas adanya jadi mengantar tokoh yang akan mimpin di Gedung Sate lima tahun kedepan juga kan adem rasanya. Bukan begitu? Cag…!!

UGK & TIM REDAKSI JABARSATU.COM

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.