Home Bandung Ini Kata Pakar Semiotika Membaca Gesture Paslon di Pilgub Jabar

Ini Kata Pakar Semiotika Membaca Gesture Paslon di Pilgub Jabar

115
0
SHARE
Pakar Semiotika dan Gesture  ITB Dr. Acep Iwan Saidi

JABARSATU.COM – Pakar Semiotika ini Membaca Gesture Paslon di Pemilukada Gubernur (Pilgub) Jawa Barat 2018.
Pilgub Jabar memang tinggal menghitung hari. Ada banyak prediksi dan hasil survey tapi menurut pengalaman ke belakang tetap saja bagi pilgub Jawa Barat bukan suatu yang pasti. Segala macam hasil survey dan prediksi buyar ketika yang menang “si kuda hitam” atau paslon yang tidak diperhitungkan. Begitulah kira-kiranya keunikan di Jabar soal siapa ya akan mulus masuk Gedung Sate.

Kami berhasil meminta komentar  pakar Semiotika dan Gesture  dari Fakultas Seni Rupa & Desain (FSRD) ITB Dr. Acep Iwan Saidi atau biasa dipanggil Kang AIS. Kepada Reporter Asep GP (Group JabarSatu Media) secara khusus di Bandung. Kang Ais berikomentar menarik setelah beberapa kali menyaksikan dan jadi panelis debat kandidat pasangan calon (paslon) Gubernur/WakilJawa Barat yang diselenggarakan KPU Provinsi Jawa Barat. Berikut komentarnya secara blak-blakan tanpa memihak ia membaca gestur para calon pemimpin Jabar.  Menurutnya ada paslon yang kurang cocok dipasangkan seperti pasangan Rindu (Ridwan Kamil-Uu Ruzhanul Ulum), ada pasangan yang sejenis latar belakang profesinya (TNI/Polri) TB.Hasanudin- Anton Charliyan), ada paslon yang terbalik posisinya harusnya yang wakil menjadi calon gubernur seperti pasangan D2M (Deddi Mizwar – Dedi Mulyadi) bahkan ada calon gubernur yang terkesan suka meremehkan paslon lain dan “membandel” terhadap panelis, ada juga paslon yang sering mengalah dan bijaksana karena usianya sudah tua tapi sekali bertindak menggegerkan suasana.

Ahli pembaca tanda kelahiran Bogor, 9 Maret 1969 ini melihat ada pasangan yang jomplang, tidak cocok untuk dipasangkan seperti paslon nomer satu  Ridwan Kamil dan Uu Ruzhanul Ulum (RINDU). Ridwan Kamil dengan segudang prestasinya di Bandung tidak dapat dibantah mendapat tempat di hati masyarakat hari ini yang cenderung melihat fisik, sementara Uu terlalu jauh jaraknya di belakang, meskipun ada potensi akan ngurus daerah-daerah karena punya prestasi di Tasik,

“Tapi menurut saya menjadi terbelah yang satu di kota satu lagi dari daerah, dalam penampilan debat pertama pun sangat kelihatan dari daerahnya, kalau jomplang cheimistri repot nantinya, tapi muda-mudahan bisa saling melengkapi,”urai AIS.

Menurut Kang AIS masalah cheimistry ini menjadi penting dalam sesuatu yang berpasangan, “Kita harus melihat sebatas mana pasangan ini memiliki kekompakkan. Makanya ketika acara debat di Unpad (Mimbar Pemimpin Indonesia/ MIMPI, 24/4/2018) saya adakan acara melukis untuk tiap paslon, hanya sayangnya tiap aslon cuma diwakili oleh satu orang, padahal disitu kita bisa lihat “mimpi” mereka, apakah sama atau tidak?,” imbuhnya.

Pasangan nomor dua TB Hasanuddin-Anton Charliyan.
Menurut Kang AIS dua orang ini  dari sisi pekerjaan sejenis di ranah milliter, satu tentara satu polisi.  Dua ini seharusnya jadi satu dan apa yg disampaikannya dalam debat pikiran-pikirannya cenderung ke arah militer seperti masalah keamanan.

Dari penampilan debat sebagai seorang militer tampak sangat formal  kata-katanya dijaga. Beda dengan Kang Anton dia lebih opensif jiwa sipilnya sebagai polisi yg jg sipil ini sebetulnya bisa saling melengkapi,

“Dalam satu perspektif saya lihat kecenderungan dinamikanya kurang kalau tadi Kang Emil dan Kang UU jauh jomplang kalau ini satu jenis, jadi saya melihat dialektika yang akan dibangunnya agak kurang mungkin kalau pasangan ini menang Gasibu jadi agak sepi tapi mudah-mudahan kalau beliau-beliau memenangkan kompetisi ini mudah-mudahan bisa bekerja di dalam kesenyapan, walau ya tidak bisa juga bekerja dalam senyap hehehe,”jelasnya sambil tertawa.

Pasangan nomor tiga Sudrajat-Ahmad Syaikhu (ASYIK)
Ini basicnya nyaris sejenis tapi lebih ke wilayah agama (Islam). Kang Ajat, demikian kata AIS, walau dari militer tapi sangat kuat di wilayah agama, jadi Prabowo memilihnya untuk dipasangkan dengan PKS. Titik lemahnya, menurut AIS  pada usia, ketika beliau didebat kelihatan powernya kurang, tapi pada debat kedua justru menggegerkan hingga muncul kontroversi (mengacungkan pamplet 2018 Asyik Menang – 2019 Ganti Presiden) karena memang isu nasional sekarang sedang di wiliyah itu  juga isu agama dan lain-lain, maka bagi seorang politikus menjadi tergoda untuk membawa hal tersebut ke wilayah nasional.

“Bagi saya sah-sah saja, tapi apa itu penting, apa perlu di dalam konteks masyarakat jabar. Dan sepertinya dari semua ini kita sudah bisa membayangkan model pembangunan yang akan dibawa oleh pasangan ini nantinya. Ya mungkin tidak akan jauh dengan apa yang dilakukan oleh Kang Aher lah dengan plus-minusnya,”jelasnya.

Paslon nomor empat Deddi Mizwar – Dedi Mulyadi (2DM)
“Saya membayangkan yang menjadi calon gubernurnya justru bukan Demiz.. ha.. ha.. Terbalik harusnya Dedi Mulyadi”, Kata AIS sambil tertawa. Alasan AIS, kalau dilihat dalam berbagai forum debat Dedi Mulyadi lebih donminan dan lebih menunjukkan visi kepemimpinannya serta lebih cerdas walau pengalaman mengelolanya hanya di Kabupaten.

“Saya gak tahu kenapa posisinya dibalik, apa karena waktu itu Golkar sedang bermasalah (kasus Setnov) hingga Demokrat yang jadi leadernya,” ujarnya.

AIS juga mengatakan sebagai sebuah pasangan akhirnya ketika Demul lebih cerdas mungkin  ini akan jadi problem tersendiri,

“Karena matahari yang keduanya (Demul) lebih bersinar mungkin ini akan jadi problem psikologis, tapi kalau posisinya dibalik akan lain dan menjanjikan,” lanjutnya.

Plus – Minus Calon Perorangan

Dalam membaca gesture, AIS memperhatikan karakter dan rekam jejak menjadi penting,  orang tidak bisa menilai  paslon dari visi-misinya karena semua visi-misi itu baik.

Nah selain konteks pasangan Kang AIS menilai juga bicara konteks perorangan yang menurutnya kalau dilihat dari cara penyampaian dari sisi bahasa hanya dua orang nu hade (hebat) lebih menonjol dari yang lainnya yaitu RK (Ridwan Kamil) dan Demul (Dedi Mulyadi).

Cuman menurut AIS dalam artikulasi Demul lebih bagus sedangkan RK kelihatan datar tapi bukan berarti kerjanya tidak bagus, bahkan kita tidak bisa menolak prestasi RK di Bandung memang kelihatan sebagaimana Demul di Purwakarta masing-masing punya plus-minus.

Selain RK dan Demul, Deddy Mizwar (Demiz) pun tak luput dari perhatian dan sorotan Kang AIS yang menurutnya dalam beberapa forum debat terkesan menyepelekan paslon lain, “Bukan hanya di UI saya juga melihat di Ganesha ketika beliau dikasih pertanyaan terakhir,  Dia jawab,  “Saya tidak tahu, bagaimana saya harus menjawab yang saya tidak tahu”, Menurut AIS itu jujur tapi  tidak menghargai panitia, kurang menghargai proses yang dilakukan.

Demiz juga menurutnya sudah dua kali mengkritik pertanyaan panelis, kalaupun memang ada salah data, “Menurut saya ini agak berlebihan, dari sisi karakter Demiz kan diundang ke acara itu (tamu), dan ini bisa membalik ke citra dirinya,”

Atau karena memang itu trik Demiz saja  memakai “tekhnik muncul” untuk cari perhatian?

“Oh ya Kang Demiz itu kan aktor ya, beliau mungkin pakai “Tekhnik Muncul” teater untuk cari perhatian, tapi dia lupa ini nyata dan masyarakat gak semua ngerti itu”, pungkas AIS yang juga alumni GSSTF (Gelanggang Seni Sastra Teater dan Film) Unpad.

Terakhir pakar semiotika dan gesture yang dari tahun 2014 hingga sekarang kerap muncul jadi nara sumber di sejumlah TV Nasional ini melihat dari data survey bahwa nomer 1 dan 4 saling kejar, tapi jangan lupa lanjut AIS, nomer 3 itu punya basic massa panatik (PKS) di perkotaan.

Masih kata AIS gesture yang paling kuat untuk masa depan Jawa Barat kalau dari perspektif agama nomer 3 (Sudrajat- Akhmad Syaikhu/ ASYIK) sedangkan dari perspektif kultur nomor 4 ( 2DM – Demul menonjol budaya Sundanya) sedangkan dari tatanan fisik pasangan RINDU nomor satu, meskipun Demul juga berprestasi di Purwakarta, hanya sayangnya ya itu tadi beliau cuman dipasangkan sebagai wakil.
Akhirnya harapan rakyat sebagai pemilih, pilkada akan berlangsung lancar dan aman dan siapa pun yang unggul dalam pilkada Jabar tentu para pemimpin yang akan memihak dan mensejahterakan rakyat***

Laporan AGP
Editor: AHM 
Foto AIS: Dok Pribadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here