Home Bandung Liga Santri Nusantara 3 Digelar di Bandung

Liga Santri Nusantara 3 Digelar di Bandung

113
0
SHARE

JABARSATU -, Sebanyak  tujuh ribu delapan ratus pesantren yang ada di Jawa Barati  menjadi alasan penting penyelenggaraan final Liga Santri Nusantara 3 di gelar di Kota Bandung. Semua peserta hasil seleksi regional klub sepak bola santri asal pesantren akan berlaga di kota Bandung selama delapan hari dari mulai 21-29 Oktober. Acara tersebut pula berbarengan dengan perayaan Hari Santri Nasional.

“LSN adalah media pencarian bibit sepakbola usia muda di kalangan pondok pesantren sekaligus menjadi pemicu bagi masyarakat pesantren agar mampu berdaya saing dalam hal olah raga,” ujarnya saat rapat internal panitia LSN 3 di Hotel Naripan Bandung kemarin.
Ketua Pengurus Pusat Rabtihah Ma’ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) selaku sebagai panitia pelaksana, KH Abdul Ghoffar Rozin mengatakan bahwa Liga Santri (LSN) ini mendorong pemberdayaan santri melalui sepak bola (olah raga) untuk bangsa.
Gus Rozin (40), sapaan akrabnya bahwa sebagai wadah untuk pengaktualisasian diri dalam pengembangan potensi santri di bidang sepak bola. Diakui pria kelahiran Pati ini bahwa pemberdayaan pesantren melalui LSN begitu besar. Ia menuturkan bahwa beberapa pondok pesantren yang punya klub sepak bola mulai serius dengan merekrut pelatih profesional untuk membina santri. Tidak lupa, lapangan olah raga yang ada di pondok menjadi lebih berdaya.

Santri dan Sepak Bola
Dunia santri tak bisa dilepaskan dari olah raga sepak bola. Ketika dipondok, imajinasi santri tentang olah raga itu sangat kentara. Setiap istirahat atau libur mengaji mereka suka memenafaatkan lapangan kosong. Itu jika pesantren belum memiliki lapangan olah raga yang serius, tapi banyak pula pesantren kini sudah memiliki klub sepak bola beserta lapangan yang memadai.
Hal ini diungkapkan oleh Choiril Anwar, pria asal Soreang, alumni Pesantren Tebuireng, Jombang mengapresiasi pelasanaan LSN di Bandung ini. Ia mengatakan bahwa Bandung sangat cocok dengan atmosfer sepak bola, karena di sini tempat pelaksanaan event-event olah raga nasional.
“Saya berharap dari LSN ini muncul Rafli baru agar dapat berkontribusi untuk tim nasional Indonesia,” ujar Bobotoh Persib ini.
Choiril mengungkapkan bahwa pesantren tak bisa dilepaskan dengan sepak bola. Bahkan ketika dirinya mondok di pesantren Tebuireng setiap sore pada hari Jumar disediakan waktu untuk bermain bola. Lapangan Cukir penuh dengan santri bermain bola. Saking greget ingin bermain bola terpaksalah sandal atau batu dipakai untuk gawang. Uniknya, ketika atmosfer sepak bola terasa dikalangan santri, pihak pesantren sempat meliburkan pengajian hanya untuk menonton final Liga Champions.(jbs)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

4 × four =